Nilai A Tapi Tak Paham Materi: Saat Penilaian Akademik Cuma Sebatas Angka

Mahasiswi Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Alya Septin Nuraini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di lembaran transkrip nilai, segalanya terlihat sempurna. Deretan huruf A dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang mendekati angka empat menjadi kebanggaan tersendiri, baik bagi pelajar, orang tua, maupun institusi pendidikan. Namun, kebanggaan tersebut sering kali mendadak luntur ketika diminta menjelaskan kembali konsep dasar secara sederhana atau menerapkan teori yang baru saja diujikan minggu lalu ke dalam kasus sehari-hari, tidak sedikit pemilik "nilai sempurna" ini justru terdiam bingung.
Fenomena ini menciptakan sebuah standar ganda yang cukup menggelitik di dunia pendidikan modern. Kita melihat lahirnya generasi yang sangat mahir meraih angka tinggi di atas kertas, tetapi gagap saat harus memahami esensi dari apa yang mereka pelajari. Sekolah dan kampus seolah berubah menjadi pabrik pencetak nilai, bukan wadah tumbuhnya daya kritis dan pemahaman yang mendalam.
Paulo Freire, pernah melontarkan kritik tajam yang sangat relevan dengan kondisi ini melalui teorinya tentang Pendidikan Gaya Bank (Banking Education). Dalam model ini, proses pembelajaran diibaratkan seperti transaksi perbankan konvensional. Pengajar bertindak sebagai penyetor (depositor), sementara murid diposisikan sebagai rekening tabungan pasif yang siap menampung "setoran" berupa fakta, rumus, dan informasi.
Dalam praktiknya, murid tidak didorong untuk mempertanyakan atau memahami latar belakang suatu ilmu. Tugas utama mereka hanyalah menerima, menghafal, dan menyimpan materi tersebut sebaik mungkin. Saat ujian semester datang, murid tinggal "mencairkan" kembali ingatan itu ke dalam lembar jawaban. Begitu ujian selesai dan nilai A berhasil didapatkan, isi "rekening" tersebut dibiarkan kosong kembali. Kunci jawaban menjadi muara tertinggi dari kebenaran, dan hafalan singkat menggantikan proses berpikir kritis.
Dampak paling mengkhawatirkan dari banyaknya penilaian berbasis angka ini adalah bergeserinya esensi belajar itu sendiri. Belajar yang seharusnya menjadi proses reflektif untuk memahami realitas sosial dan memecahkan masalah kehidupan, kini mengalami kemunduran menjadi sekadar transaksi akademis belakangan ini.
Murid belajar bukan lagi karena didorong rasa ingin tahu yang alami, melainkan karena rasa takut akan nilai jelek atau dorongan berburu simbol keberhasilan semata. Angka di atas kertas telah menggantikan posisi pemahaman mendalam sebagai tolok ukur kecerdasan. Akibatnya, lahir sikap realistis di kalangan pelajar, asal bisa menjawab sesuai selera guru atau dosen, maka tugas dianggap selesai. Kemampuan menganalisis, berargumen, dan menghubungkan teori dengan dunia nyata menjadi terabaikan.
Pendidikan tidak boleh terus-menerus dibiarkan menjadi arena pengumpulan simbol tanpa makna. Kita perlu melangkah keluar dari jebakan "Pendidikan Gaya Bank" ini dan beralih ke pendekatan yang lebih manusiawai dan dialogis, atau yang oleh Freire disebut sebagai problem-posing education (pendidikan hadap-masalah).
Ruang kelas harus dikembalikan pada fungsi aslinya yaitu sebuah laboratorium pemikiran tempat guru dan murid duduk bersama untuk berdiskusi, mempertanyakan fenomena, dan mencari solusi atas masalah nyata. Metode penilaian pun perlu direvolusi agar tidak lagi mengagungkan hafalan jangka pendek, melainkan mengapresiasi proses berpikir, keberanian berargumen, serta kemampuan menyelesaikan masalah.
Sudah saatnya kita menyadari bahwa nilai A di atas kertas tidak ada artinya jika pikiran pelajar kita tetap tumpul dalam menghadapi kenyataan. Keberhasilan pendidikan sejati tidak diukur dari seberapa penuh "rekening" ingatan seorang siswa, melainkan dari seberapa tajam ia mampu menggunakan ilmunya untuk memahami dan membenahi dunia di sekitarnya.
