Pengaruh Algoritma Media Sosial terhadap Kondisi Emosional Pengguna

Mahasiswa D4 Akuntansi Perpajakan, Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Mega auliyaaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di saat ini, hampir setiap hari kita mengonsumsi media sosial. Mulai dari Instagram, TikTok, YouTube, sampai platform lainnya. Kita lebih sering membuka media sosial untuk mencari hiburan, melihat berita, atau sekadar mengisi waktu luang. Namun, pernahkah kita berpikir kenapa konten yang muncul di beranda kita sering kali sesuai dengan apa yang kita sukai? Hal tersebut tidak terjadi secara kebetulan. Ada sebuah "algoritma" yang bekerja untuk memilih dan menampilkan konten kepada kita.
Algoritma "media sosial" adalah sistem yang mempelajari kebiasaan pengguna. Misalnya, ketika kita sering menonton video tentang musik, olahraga, atau game, kemungkinan besar kita akan mendapatkan lebih banyak konten yang sama. Menurut saya, hal ini memang memudahkan kita untuk menemukan konten yang kita sukai. Akan tetapi, algoritma juga bisa memberikan pengaruh terhadap kondisi emosional kita.
Dampak Algoritma Media Sosial terhadap Emosi
Pengaruh algoritma media sosial terhadap emosi sebenarnya bisa bersifat positif maupun negatif. Dari sisi positif, media sosial dapat membuat kita merasa senang dan terhibur. Contohnya, ketika sedang bosan, kita bisa menemukan video lucu atau konten tentang hobi yang kita sukai. Kita juga bisa menemukan komunitas yang memiliki minat yang sama sehingga tidak merasa sendirian.
Namun, masalah bisa muncul ketika kita terlalu sering melihat konten yang membuat kita merasa tidak nyaman. Misalnya, kita terus melihat berita buruk, perdebatan, atau komentar negatif. Jika hal tersebut muncul berulang kali, suasana hati kita bisa ikut menjadi buruk. Kadang-kadang kita bahkan tidak sadar bahwa setelah terlalu lama bermain media sosial, kita justru merasa lelah, kesal, atau cemas.
Selain itu, media sosial juga sering membuat kita membandingkan diri dengan orang lain. Kita mungkin melihat seseorang yang terlihat memiliki kehidupan yang menyenangkan, nilai yang bagus, banyak teman, atau memiliki berbagai pencapaian. Tanpa sadar, kita bisa berpikir bahwa kehidupan kita tidak sebaik mereka. Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial biasanya hanya sebagian dari kehidupan seseorang.
Menurut saya, salah satu hal yang perlu kita sadari adalah bahwa media sosial tidak selalu menunjukkan keadaan yang sebenarnya. Algoritma akan terus memberikan konten yang dianggap menarik bagi kita. Jika kita sering berinteraksi dengan konten tertentu, konten serupa bisa semakin sering muncul. Karena itu, kita perlu lebih berhati-hati dalam memilih apa yang kita lihat dan konsumsi setiap hari.
Kita juga tidak harus berhenti menggunakan media sosial. Menurut saya, yang lebih penting adalah menggunakannya dengan bijak. Kita bisa mulai dengan mengikuti akun yang memberikan informasi atau hiburan yang positif dan mengurangi konten yang membuat kita merasa buruk. Selain itu, kita juga bisa mengambil waktu untuk berhenti menggunakan media sosial ketika sudah terlalu lama menatap layar.
Pada akhirnya, kondisi emosional kita tidak hanya dipengaruhi oleh media sosial. Banyak hal lain yang juga berpengaruh, seperti lingkungan, keluarga, teman, dan pengalaman sehari-hari. Namun, karena media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan kita, pengaruh algoritmanya tetap perlu diperhatikan.
Menurut saya, media sosial seharusnya digunakan sebagai alat untuk mendapatkan informasi, hiburan, dan berkomunikasi, bukan sebagai sesuatu yang mengatur perasaan kita. Dengan memahami cara kerja algoritma dan lebih bijak dalam memilih konten, kita bisa mendapatkan manfaat dari media sosial tanpa terlalu mudah terbawa oleh apa yang muncul di layar. Jadi, sebelum terus menggulir media sosial, tidak ada salahnya bertanya kepada diri sendiri: apakah konten yang saya lihat benar-benar membuat saya lebih baik, atau justru membuat saya merasa lebih buruk?
