Tampak Kaya, Sebenarnya Rapuh: Kelas Menengah

Mahasiswa D4 Akuntansi Perpajakan, Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Mega auliyaaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
gaya hidup, kredit instan, media sosial

Saat ini, kehidupan terlihat semakin makmur, baik ketika kita berjalan-jalan di perkotaan maupun saat melihat media sosial. Produk gaya hidup bermerek semakin laris, tempat wisata dalam dan luar negeri ramai dikunjungi, dan para pekerja muda berkumpul di kedai kopi kekinian dengan laptop terbaru. Dibandingkan generasi sebelumnya, kelas menengah saat ini tampak hidup jauh lebih nyaman.
Namun, di balik penampilan yang mewah dan mengikuti tren tersebut, terdapat kenyataan yang cukup memprihatinkan: ketahanan keuangan kelas menengah justru berada pada tingkat yang sangat rendah.
Mitos Daya Beli dari Kredit Instan
Munculnya berbagai layanan keuangan modern, seperti kartu kredit digital, pinjaman online yang mudah terhubung dengan platform belanja, serta layanan Buy Now, Pay Later (BNPL) atau beli sekarang, bayar nanti, menjadi salah satu penyebab utama masalah ini.
Layanan tersebut menciptakan anggapan keliru tentang kemampuan seseorang dalam membeli barang. Hanya dengan satu kali klik, seseorang bisa mendapatkan barang atau menikmati pengalaman yang sebelumnya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menabung.
Akibatnya, terjadi perubahan besar dalam perilaku konsumen. Kini, orang cenderung membeli barang berdasarkan batas kredit bulanan yang dimiliki, bukan berdasarkan kondisi keuangan atau uang yang benar-benar tersedia. Hal ini membuat mereka semakin sulit membedakan antara kebutuhan, keinginan yang masih wajar, dan utang yang terus menumpuk.
Inflasi Gaya Hidup dan Validasi Digital
Keinginan untuk mendapatkan pengakuan di media sosial juga menjadi faktor yang cukup merugikan. Di era digital, konsumsi bukan lagi sekadar cara memenuhi kebutuhan, tetapi juga menjadi simbol status sosial. Agar terlihat sukses atau dianggap setara dengan lingkungan pergaulannya, seseorang seolah-olah dituntut untuk mengikuti standar tertentu tentang barang yang harus dibeli, pakaian yang harus dikenakan, dan tempat yang harus dikunjungi.
Kondisi ini mendorong terjadinya inflasi gaya hidup, yaitu peningkatan pengeluaran secara terus-menerus seiring dengan kenaikan pendapatan, bahkan terkadang lebih besar dari kenaikan tersebut. Setiap kali menerima kenaikan gaji atau bonus, uang tersebut sering kali habis untuk meningkatkan gaya hidup, bukan untuk membangun tabungan atau dana cadangan.
Aset Menyusut dan Kondisi Keuangan Tidak Stabil
Dampak dari pola konsumsi ini dapat dirasakan secara nyata. Dana yang seharusnya digunakan untuk tabungan darurat, investasi saham, atau persiapan pensiun justru terkuras oleh berbagai cicilan bulanan yang jika dijumlahkan menjadi besar. Akibatnya, kelas menengah terjebak dalam kondisi terlihat kaya dari gaya hidup, tetapi minim aset yang dimiliki.
Ketika terjadi gangguan ekonomi, seperti pemutusan hubungan kerja, kondisi darurat kesehatan, atau kenaikan harga barang yang terus meningkat, kelompok ini menjadi salah satu yang paling rentan. Tanpa dana darurat atau aset yang mudah dicairkan, kondisi keuangan mereka bisa memburuk secara tiba-tiba.
Menghindari Jebakan Kekayaan Semu
Memahami kembali bahwa kekayaan yang terlihat belum tentu mencerminkan kondisi keuangan sebenarnya sangatlah penting. Kelas menengah perlu mengalihkan perhatian dari sekadar mencari pengakuan sesaat ke media sosial menuju kemandirian finansial yang nyata.
"Kekayaan sejati bukan diukur dari kemewahan yang ditampilkan di media sosial, melainkan dari kemampuan kita menghadapi tantangan ekonomi di masa depan".
