Penggunaan Stiker Karakter Genshin Impact sebagai Komunikasi Lintas Budaya

Meira Arundaya merupakan mahasiwa Universitas Airlangga yang bernaung di program studi Bahasa dan Sastra Inggris.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Meira Arundaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pesatnya perkembangan gim daring yang menggunakan sistem multiplayer atau multipemain telah mengubah cara bermain gim video konvensional. Dari yang awalnya hanya berbasis individual, gim kini berkembang menjadi wadah bagi pemain dari berbagai negara untuk saling berinteraksi. Genshin Impact, sebuah gim daring bergenre role-playing yang dirilis oleh HoYoverse, menjadi salah satu contoh gim yang memungkinkan pemain untuk mengundang pemain lain masuk ke dalam dunianya. Selama interaksi ini berlangsung, pemain dapat berkomunikasi melalui pesan dalam gim (in-game chat). Namun, komunikasi antarpemain dari berbagai latar belakang bahasa dan budaya yang berbeda dapat menjadi tantangan dalam memahami satu sama lain. Dalam situasi ini, stiker karakter yang disediakan oleh Genshin Impact memberikan cara alternatif bagi pemain untuk menyampaikan maksud dan emosi mereka.
Walaupun stiker-stiker ini tidak sepenuhnya dapat menjadi solusi atas perbedaan bahasa dan budaya, kemampuan stiker karakter dalam merepresentasikan emosi, intensi, dan respons dasar lainnya membuatnya menjadi salah satu alat komunikasi yang efektif dalam pesan daring di Genshin Impact, terutama ketika kedua pemain tidak berasal dari latar belakang bahasa yang sama.
Stiker Karakter sebagai Komunikasi Nonverbal Digital
Dalam komunikasi tatap muka, makna tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga melalui ekspresi wajah, gestur, intonasi suara, dan bahasa tubuh. Unsur-unsur tersebut membantu seseorang memahami emosi serta maksud lawan bicaranya. Namun, sebagian besar isyarat nonverbal tersebut tidak dapat tersampaikan secara langsung dalam komunikasi berbasis teks. Penggunaan elemen visual dalam komunikasi digital dapat membantu mengisi keterbatasan ini dengan memberikan konteks emosional dan sosial pada pesan tertulis. Li dan Yang (2018), misalnya, menunjukkan bahwa simbol visual dalam komunikasi berbasis internet tidak hanya berfungsi untuk mengekspresikan emosi, tetapi juga memiliki fungsi pragmatis dalam membantu pengguna menyampaikan maksud dan membentuk makna dalam interaksi digital.
Fungsi tersebut dapat ditemukan dalam penggunaan stiker karakter di Genshin Impact. Berbeda dari simbol visual yang bersifat umum, stiker dalam gim ini menampilkan karakter-karakter yang sudah dikenal oleh para pemain, lengkap dengan ekspresi dan gestur tertentu. Karena itu, makna sebuah stiker tidak hanya bergantung pada ekspresi yang ditampilkan, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh karakter yang menggunakannya. Pemain yang telah mengenal karakter tersebut melalui cerita dan gameplay dapat mengaitkan ekspresi tertentu dengan kepribadian atau situasi yang melekat pada karakter tersebut.
Misalnya, ketika seorang pemain memasuki dunia pemain lain, ia dapat mengirimkan stiker karakter yang sedang melambaikan tangan sebagai bentuk sapaan. Pemain lain kemudian dapat membalas dengan stiker yang menunjukkan ekspresi senang atau antusias. Interaksi sederhana semacam ini memungkinkan keduanya membangun hubungan sosial tanpa harus terlebih dahulu memiliki kemampuan bahasa yang sama. Dalam konteks tersebut, stiker menjadi bagian dari proses pembentukan makna bersama melalui referensi visual yang dapat dikenali oleh kedua pemain.
Hal ini menjadi semakin relevan dalam interaksi multiplayer yang umumnya berlangsung secara spontan dan situasional. Pemain tidak selalu membutuhkan percakapan panjang; mereka mungkin hanya perlu menyampaikan bahwa mereka siap, berterima kasih setelah dibantu, menunjukkan kebingungan, atau meminta maaf atas suatu tindakan. Dalam situasi seperti ini, stiker karakter dapat menjadi respons yang lebih praktis daripada menyusun pesan tertulis, terutama ketika terdapat hambatan bahasa antara kedua pemain.
Stiker Karakter dan Cross-Cultural Communication
Penggunaan stiker karakter juga dapat dipahami melalui konsep cross-cultural communication atau komunikasi lintas budaya, yaitu proses interaksi antara individu berlatar belakang budaya dan bahasa yang berbeda untuk membangun pemahaman bersama. Proses ini tidak selalu mudah karena setiap individu dapat memiliki gaya komunikasi, norma, serta cara menafsirkan ekspresi. Perbedaan tersebut berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, terutama ketika pemain tidak memiliki bahasa yang sama untuk berkomunikasi.
Dalam kondisi tersebut, komunikasi visual dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi hambatan linguistik. Berbeda dari pesan tertulis yang membutuhkan pemahaman terhadap bahasa tertentu, ekspresi visual dapat memberikan petunjuk mengenai maksud suatu pesan tanpa bergantung sepenuhnya pada kemampuan berbahasa. Sebagai contoh, ketika pemain Indonesia berinteraksi dengan pemain Jepang, keduanya mungkin mengalami kesulitan untuk menyampaikan maksud melalui bahasa masing-masing. Namun, sebuah stiker karakter dengan ekspresi sedih dalam situasi tertentu tetap dapat dipahami sebagai tanda kekecewaan atau kesedihan, meskipun kedua pemain tidak memahami bahasa satu sama lain.
Kemungkinan terjadinya interaksi lintas budaya tersebut juga didukung oleh penelitian mengenai komunitas pemain Genshin Impact. Ananta, Rahayuni, dan Adni (2024) menemukan perbedaan kosakata, ekspresi, serta latar belakang budaya dalam interaksi antarpemain Asia di Genshin Impact. Temuan tersebut menunjukkan bahwa perbedaan linguistik dan budaya merupakan bagian dari dinamika komunikasi yang terjadi dalam gim. Sejalan dengan hal tersebut, Putra (2022) memandang Genshin Impact sebagai salah satu media komunikasi antarbudaya karena fitur permainan memungkinkan individu dari latar belakang yang beragam untuk berinteraksi secara langsung. Dalam konteks ini, stiker karakter menjadi salah satu bentuk komunikasi visual yang dapat membantu pemain mempertahankan interaksi ketika bahasa menjadi penghalang.
Keterbatasan Stiker Karakter
Meskipun mempunyai berbagai kelebihan, stiker karakter tidak dapat dianggap sebagai pengganti bahasa universal. Komunikasi visual tetap dapat menimbulkan kesalahpahaman karena ekspresi dan gestur yang sama dapat memiliki makna berbeda dalam budaya berbeda. Penelitian mengenai komunikasi visual digital menunjukkan bahwa latar belakang budaya dapat memengaruhi cara seseorang menafsirkan simbol visual. Tigwell dan Flatla (2022), misalnya, menemukan bahwa faktor budaya dapat memengaruhi interpretasi dan pemilihan emoji oleh pengguna.
Meskipun stiker karakter berbeda dari emoji pada umumnya, prinsip tersebut tetap relevan dalam memahami penggunaannya. Ekspresi suatu karakter dapat dianggap lucu oleh seorang pemain, tetapi dipahami sebagai sarkasme oleh pemain lain. Begitu pula, stiker yang digunakan sebagai respons ramah dapat ditafsirkan sebagai bentuk ketidakpedulian atau ejekan. Oleh karena itu, makna stiker tidak hanya bergantung pada ekspresi yang ditampilkan, tetapi juga pada konteks percakapan dan hubungan antara pemain yang menggunakannya.
Selain perbedaan interpretasi, pemain juga belum tentu mengenali karakter yang ditampilkan dalam sebuah stiker. Pemain yang tidak familiar dengan karakter tersebut mungkin hanya menafsirkan stiker berdasarkan ekspresi wajah atau gesturnya. Sebaliknya, pemain yang lebih mengenal karakter tersebut dapat memahami makna tambahan yang berkaitan dengan kepribadian, cerita, atau situasi tertentu yang pernah dialami karakter tersebut dalam gim. Perbedaan tingkat pengenalan ini membuat satu stiker dapat memberikan makna yang berbeda bagi setiap pemain.
Karena itu, stiker karakter lebih tepat digunakan sebagai pelengkap komunikasi tertulis daripada sebagai pengganti percakapan sepenuhnya. Pemain dapat menggabungkan pesan singkat dengan stiker karakter untuk memperjelas emosi atau maksud yang ingin disampaikan. Ketika komunikasi melalui bahasa sulit dilakukan, stiker setidaknya dapat memberikan konteks tambahan sehingga interaksi dasar antarpemain tetap dapat berlangsung.
References:
Ananta, D. B. D. C., Rahayuni, N. K. S., & Adni, N. P. (2024). An analysis of cross-cultural communication through Asian player in Genshin Impact. Fonologi: Jurnal Ilmuan Bahasa dan Sastra Inggris, 2(2). https://doi.org/10.61132/fonologi.v2i2.700
Li, L., & Yang, Y. (2018). Pragmatic functions of emoji in internet-based communication—A corpus-based study. Asian-Pacific Journal of Second and Foreign Language Education, 3, 17. https://doi.org/10.1186/s40862-018-0057-z
Putra, R. A. (2022). The game online Genshin Impact sebagai media komunikasi antar budaya. Sadida: Islamic Communications and Media Studies, 2(2). https://doi.org/10.22373/sadida.v2i2.2294
Tigwell, G. W., & Flatla, D. R. (2022). Understanding emojis: Cultural influences in interpretation and choice of emojis. Journal of International and Intercultural Communication, 16(3). https://doi.org/10.1080/17513057.2022.2036790
