Literasi Keuangan Anak Muda, Penting Sebelum Terlambat

Mahasiswa Akuntansi Perpajakan di Universitas Pamulang, Content Writer & Penulis isu UMKM, Bisnis Digital & Ekonomi, Founder Meimann.ly
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Meiman Dermawan Buulolo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Literasi keuangan anak muda menjadi hal penting di tengah perkembangan teknologi, kemudahan transaksi digital, dan meningkatnya kebutuhan hidup. Anak muda kini dapat membuka rekening, menggunakan dompet digital, berbelanja secara online, hingga mengakses berbagai layanan keuangan melalui ponsel. Namun, kemudahan tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan memahami dan mengelola uang secara bijak.
Mengatur keuangan bukan hanya tentang memiliki penghasilan besar. Kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, menyusun anggaran, menabung, serta memahami risiko utang juga merupakan bagian penting dari kehidupan finansial. Tanpa kebiasaan tersebut, penghasilan yang diterima berpotensi habis sebelum kebutuhan bulanan terpenuhi.
Data Literasi Keuangan Indonesia Menjadi Perhatian
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang diumumkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS), indeks literasi keuangan Indonesia mencapai 69,57 persen. Sementara itu, indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen.
Dalam kelompok usia 18–25 tahun, indeks literasi keuangan tercatat sebesar 73,32 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 95,69 persen. Artinya, hasil pengukuran menunjukkan bahwa akses terhadap produk dan layanan keuangan pada kelompok usia tersebut lebih tinggi daripada indeks literasinya.
Data tersebut memperlihatkan pentingnya mengimbangi akses layanan keuangan dengan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilaku keuangan yang baik. Meski demikian, angka indeks tersebut tidak berarti seluruh anak muda memiliki tingkat pemahaman yang sama karena hasil survei merupakan gambaran kelompok masyarakat.
OJK juga mencatat indeks literasi keuangan kelompok pelajar dan mahasiswa sebesar 62,72 persen. Angka ini menjadi perhatian karena pendidikan keuangan diperlukan sejak seseorang mulai belajar mengelola uang secara mandiri.
Mengapa Anak Muda Perlu Memahami Keuangan?
Salah satu tantangan yang dihadapi anak muda adalah mengatur pengeluaran di tengah banyaknya pilihan konsumsi. Makanan melalui aplikasi, produk kecantikan, pakaian, hiburan, dan berbagai promosi digital dapat mendorong pengeluaran yang tidak direncanakan.
Pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali sering kali tidak terasa. Namun, apabila tidak dicatat, seseorang dapat kesulitan mengetahui ke mana uangnya digunakan. Situasi ini menunjukkan bahwa kebiasaan mengelola keuangan perlu dibangun sejak dini.
Selain itu, anak muda perlu memahami risiko penggunaan layanan kredit dan pinjaman. Kemudahan memperoleh pembiayaan tidak selalu berarti seseorang mampu membayarnya. Sebelum mengambil utang, penting untuk memahami bunga atau biaya, jadwal pembayaran, konsekuensi keterlambatan, serta kemampuan membayar sesuai kondisi keuangan.
Literasi keuangan membantu anak muda mengambil keputusan berdasarkan informasi dan kemampuan finansial, bukan hanya karena mengikuti tren atau dorongan sesaat.
Media Sosial dan Gaya Hidup Konsumtif
Media sosial dapat menjadi sumber informasi keuangan, tetapi juga dapat memengaruhi pola konsumsi. Konten tentang barang bermerek, perjalanan, gaya hidup, dan tren belanja dapat menimbulkan keinginan untuk mengikuti gaya hidup orang lain.
Masalah muncul ketika seseorang menggunakan uang untuk memenuhi keinginan tersebut tanpa mempertimbangkan kondisi keuangannya sendiri. Membandingkan kehidupan pribadi dengan tampilan di media sosial juga dapat menimbulkan tekanan untuk terus berbelanja.
Oleh karena itu, anak muda perlu bersikap kritis terhadap informasi keuangan yang ditemukan di internet. Tidak semua saran investasi atau penawaran keuntungan yang terlihat menarik dapat dipercaya. Informasi perlu diperiksa melalui sumber resmi, sedangkan keputusan keuangan harus disesuaikan dengan tujuan dan kemampuan masing-masing.
Langkah Sederhana Membangun Kebiasaan Keuangan yang Sehat
Ada beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan anak muda untuk memperbaiki pengelolaan keuangan.
Pertama, membuat anggaran bulanan. Catat jumlah uang yang tersedia dan tentukan prioritas untuk kebutuhan pokok, transportasi, pendidikan, tagihan, tabungan, serta hiburan.
Kedua, mencatat setiap pengeluaran. Pencatatan dapat dilakukan menggunakan buku, spreadsheet, atau aplikasi keuangan. Dengan begitu, pengeluaran yang berlebihan dapat diketahui dan dievaluasi.
Ketiga, membedakan kebutuhan dan keinginan. Sebelum membeli barang, pertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar diperlukan atau hanya menarik karena promosi.
Keempat, membangun kebiasaan menabung. Jumlah tabungan dapat disesuaikan dengan penghasilan dan kebutuhan. Konsistensi lebih penting daripada memaksakan jumlah yang tidak realistis.
Kelima, memahami risiko sebelum menggunakan produk keuangan. Anak muda sebaiknya mempelajari biaya, manfaat, ketentuan, dan risikonya sebelum mengambil pinjaman atau melakukan investasi. Hindari mengambil keputusan hanya karena ajakan teman atau janji keuntungan yang tidak masuk akal.
Peran Keluarga, Kampus, dan Lingkungan
Literasi keuangan tidak hanya menjadi tanggung jawab individu. Keluarga dapat mengajarkan kebiasaan sederhana, seperti menyusun anggaran dan menabung. Sekolah dan perguruan tinggi juga dapat membantu melalui edukasi keuangan, diskusi, dan kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan uang.
Bagi mahasiswa, pengetahuan keuangan dapat diterapkan melalui pengaturan uang saku, biaya kuliah, kebutuhan sehari-hari, serta pendapatan dari pekerjaan atau usaha sampingan. Praktik sederhana tersebut dapat menjadi bekal sebelum memasuki dunia kerja dan menghadapi tanggung jawab finansial yang lebih besar.
Program edukasi juga perlu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan contoh yang dekat dengan kehidupan anak muda. Tujuannya bukan sekadar mengenalkan produk keuangan, melainkan membangun kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Literasi Keuangan sebagai Bekal Masa Depan
Literasi keuangan merupakan bekal penting bagi anak muda untuk menghadapi perubahan kebutuhan dan tantangan ekonomi. Penghasilan yang besar tidak selalu menjamin kondisi keuangan yang sehat apabila tidak disertai pengelolaan yang baik.
Data SNLIK 2026 menunjukkan bahwa akses keuangan masyarakat, termasuk kelompok usia muda, sudah relatif tinggi. Tantangan berikutnya adalah memastikan akses tersebut diimbangi dengan pemahaman dan perilaku yang bertanggung jawab.
Pada akhirnya, literasi keuangan bukan tentang menjadi kaya dalam waktu singkat, melainkan belajar mengelola uang secara realistis, memahami risiko, dan mempersiapkan masa depan. Semakin dini kebiasaan tersebut dibangun, semakin besar kesempatan anak muda untuk membuat keputusan keuangan yang lebih bijak.
Sebab, masa depan keuangan yang sehat tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak uang yang dimiliki, tetapi juga oleh bagaimana uang tersebut dikelola.
Oleh: Meiman Dermawan Buulolo
