Kenapa Barang yang Dicari Malah Ketemu Setelah Kita Menyerah?

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Methia Sonia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Di mana, sih?”
Kalimat itu biasanya keluar ketika kita sedang mencari sesuatu yang penting. Bisa berupa kunci, charger, earphone, pulpen, dompet, atau barang kecil lainnya yang beberapa menit lalu rasanya masih ada.
Kita mulai mencari di tempat pertama.
Tidak ada.
Pindah ke meja.
Tidak ada juga.
Cek tas.
Masih tidak ketemu.
Akhirnya pencarian berubah menjadi kegiatan membongkar satu rumah.
Bantal diangkat, laci dibuka, isi tas dikeluarkan satu per satu, bahkan tempat yang sebenarnya sudah diperiksa bisa kita lihat lagi.
Semakin lama tidak ketemu, semakin panik rasanya.
Padahal barang tersebut biasanya bukan benar-benar hilang.
Kita hanya belum menemukannya.
Semakin Dicari, Semakin Tidak Kelihatan
Hal yang paling menyebalkan adalah ketika kita merasa sudah mencari di semua tempat.
Kita yakin tadi meletakkan barang di meja.
Tapi ketika meja diperiksa, barangnya tidak ada.
Kita mulai berpikir, “Jangan-jangan tadi dibawa ke kamar.”
Masuk kamar.
Tidak ada.
Balik lagi ke meja.
Tetap tidak ada.
Akhirnya mulai muncul berbagai kemungkinan.
“Mungkin jatuh.”
“Mungkin ketinggalan di luar.”
“Mungkin ada yang memindahkan.”
Padahal bisa saja barang tersebut sebenarnya berada tidak jauh dari kita.
Hanya saja, perhatian kita sudah terlalu fokus pada tempat-tempat yang menurut kita masuk akal.
Pencarian Bisa Berubah Jadi Panik
Ketika sedang terburu-buru, mencari barang terasa jauh lebih sulit.
Misalnya sudah harus berangkat kuliah, tetapi kartu, kunci, atau barang yang dibutuhkan belum ditemukan.
Kita jadi membuka laci dengan terburu-buru.
Memeriksa meja sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali menggunakannya.
Bahkan tempat yang sudah diperiksa bisa dicek berkali-kali karena mulai merasa panik.
Masalahnya, semakin terburu-buru, kita justru bisa melewatkan hal sederhana.
Barang yang dicari mungkin ada di depan mata, tetapi kita tidak langsung menyadarinya.
Itulah kenapa ada momen ketika kita akhirnya berhenti mencari karena sudah merasa lelah.
“Sudahlah. Nanti saja.”
Kemudian kita pergi melakukan hal lain.
Dan anehnya, beberapa saat kemudian barang itu malah ditemukan.
Ternyata Ada di Tempat yang Tidak Disangka
Momen paling lucu biasanya terjadi setelah kita menyerah.
Tiba-tiba saat mengambil sesuatu yang lain, kita melihat benda yang sejak tadi dicari.
“Lah, ini dari tadi di sini?”
Padahal tempat tersebut sudah dilewati berkali-kali.
Bisa juga barangnya ternyata berada di tempat yang sebenarnya sangat dekat.
Charger ada di samping tempat tidur.
Earphone terselip di bawah bantal.
Pulpen berada di antara buku.
Kunci ternyata masuk ke kantong tas yang jarang digunakan.
Kita langsung merasa kesal sekaligus lega.
Kesal karena sudah mencari ke mana-mana.
Lega karena barangnya ternyata tidak hilang.
Kenapa Bisa Tidak Kelihatan?
Salah satu penyebabnya bisa sesederhana kita terlalu fokus mencari di tempat tertentu.
Ketika sudah punya bayangan bahwa barang berada di meja, misalnya, kita akan terus mencari dengan asumsi yang sama.
Padahal, bisa saja barang tersebut sudah berpindah tempat.
Selain itu, barang berukuran kecil memang mudah tertutup oleh benda lain. Earphone bisa terselip di bawah pakaian, pulpen bisa berada di antara buku, dan kabel bisa bercampur dengan barang lain.
Karena itu, mencari barang tidak selalu berarti harus mencari semakin banyak tempat.
Terkadang kita justru perlu berhenti sebentar dan mengingat kembali apa yang dilakukan sebelum barang tersebut hilang dari pandangan.
Terakhir kali barang itu digunakan untuk apa?
Setelah itu pergi ke mana?
Barang apa yang dibawa bersamaan?
Pertanyaan sederhana seperti itu bisa membantu kita mengingat kembali urutan kejadian.
Ada Kalanya Kita Memang Perlu Berhenti Mencari
Menyerah sementara bukan berarti benar-benar berhenti mencari.
Kadang kita hanya membutuhkan jeda.
Daripada terus membuka tempat yang sama dengan pikiran yang sudah penuh, lebih baik berhenti sebentar dan melakukan aktivitas lain.
Setelah pikiran lebih tenang, kita bisa mencoba mencari lagi dengan cara yang lebih teratur.
Mulai dari tempat terakhir barang digunakan.
Kemudian periksa tempat-tempat yang dilewati setelah itu.
Jangan lupa melihat tempat yang sederhana sekalipun.
Karena sering kali kita justru melewatkan tempat yang paling dekat karena merasa barang tersebut “tidak mungkin” ada di sana.
Dan Akhirnya Barang Itu Ketemu
Ada kepuasan tersendiri ketika akhirnya menemukan barang yang dicari.
Kita mungkin langsung tertawa sendiri karena ternyata benda tersebut tidak pergi ke mana-mana.
Barangnya tetap ada.
Kitalah yang tidak melihatnya.
Momen seperti ini juga sering membuat kita mengingat kembali kejadian sebelumnya.
“Oh, tadi aku taruh di sini.”
Ternyata kita sendiri yang lupa.
Jadi, kalau suatu hari kamu kembali mencari barang sampai membongkar isi kamar dan merasa sudah tidak mungkin menemukannya, mungkin tidak ada salahnya berhenti sebentar.
Tarik napas, lakukan hal lain, lalu coba ingat lagi apa yang terakhir kamu lakukan.
Karena bisa saja ketika kita sudah berhenti mencari, justru saat itulah barang yang dicari akhirnya terlihat.
Dan biasanya, kalimat pertama yang keluar bukan “akhirnya ketemu”.
Melainkan:
“Ya ampun, dari tadi ternyata di sini.”
