Kenapa Nada Bicara Bisa Mengubah Makna Sebuah Kalimat?

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Methia Sonia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak kamu mengatakan sesuatu dengan maksud bercanda, tetapi orang lain justru menganggapnya serius? Atau sebaliknya, kamu berbicara biasa saja, tetapi lawan bicara merasa kamu sedang marah?
Situasi seperti ini cukup sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kadang, masalahnya bukan terletak pada kata-kata yang digunakan, melainkan bagaimana kata tersebut disampaikan.
Salah satu unsur yang dapat memengaruhi penerimaan pesan adalah nada bicara. Tinggi rendah suara, penekanan pada kata tertentu, hingga kecepatan berbicara dapat membuat satu kalimat memiliki kesan yang berbeda.
Satu Kalimat, Bisa Punya Banyak Makna
Coba perhatikan kalimat, “Kamu datang akhirnya.”
Kalimat tersebut bisa terdengar seperti ungkapan senang ketika diucapkan dengan nada antusias. Namun, jika diucapkan dengan nada datar atau sinis, kalimat yang sama bisa terdengar seperti sindiran.
Artinya, kata-kata yang digunakan sebenarnya tidak berubah. Yang berubah adalah cara penyampaiannya.
Dalam komunikasi, pesan tidak hanya disampaikan melalui kata-kata. Cara seseorang menggunakan suara juga dapat memberikan petunjuk mengenai emosi, sikap, dan maksud dari pesan tersebut.
Karena itu, sebuah percakapan bisa menimbulkan kesalahpahaman ketika nada bicara yang digunakan tidak sesuai dengan maksud yang ingin disampaikan.
Nada Bicara Memengaruhi Cara Pesan Diterima
Nada bicara menjadi bagian dari komunikasi nonverbal yang menyertai komunikasi verbal. Ketika berbicara, seseorang tidak hanya menyampaikan informasi melalui susunan kata, tetapi juga melalui intonasi, volume, tempo, dan penekanan suara.
Misalnya, ketika seseorang mengatakan, “Bagus banget.”
Jika diucapkan dengan suara bersemangat, lawan bicara kemungkinan menangkapnya sebagai pujian. Namun, jika diucapkan dengan nada datar atau penekanan tertentu, kalimat tersebut justru dapat terdengar seperti sindiran.
Hal ini menunjukkan bahwa penerima pesan tidak hanya mendengarkan apa yang dikatakan, tetapi juga memperhatikan bagaimana pesan tersebut disampaikan.
Kesalahpahaman Bisa Berawal dari Hal Sederhana
Dalam komunikasi sehari-hari, kesalahpahaman bisa muncul dari hal yang terlihat sepele.
Percakapan melalui telepon, misalnya, tidak memberikan kesempatan kepada lawan bicara untuk melihat ekspresi wajah secara langsung. Akibatnya, nada suara menjadi salah satu petunjuk yang digunakan untuk memahami suasana dan maksud pembicaraan.
Begitu juga dalam komunikasi tatap muka. Seseorang mungkin mengatakan bahwa dirinya tidak marah, tetapi nada suara yang meninggi dapat membuat orang lain menangkap kesan yang berbeda.
Perbedaan antara kata-kata dan cara penyampaian inilah yang terkadang membuat komunikasi menjadi rumit.
Bukan Berarti Harus Selalu Berbicara dengan Nada Tertentu
Memahami pentingnya nada bicara bukan berarti seseorang harus selalu mengatur suaranya agar terdengar sempurna.
Hal yang lebih penting adalah menyesuaikan cara berkomunikasi dengan situasi dan lawan bicara. Ketika menyampaikan kritik, misalnya, penggunaan nada yang terlalu tinggi dapat membuat pesan terdengar seperti serangan meskipun maksud awalnya adalah memberikan masukan.
Sebaliknya, nada yang tenang dan jelas dapat membantu pesan diterima dengan lebih baik.
Selain itu, menjadi pendengar yang baik juga penting. Ketika menerima pesan yang terdengar berbeda dari biasanya, tidak ada salahnya memastikan kembali maksud lawan bicara daripada langsung mengambil kesimpulan.
Komunikasi Bukan Hanya Soal Kata-Kata
Pada akhirnya, komunikasi bukan hanya tentang apa yang kita katakan, tetapi juga bagaimana kita menyampaikannya.
Satu kalimat yang sama dapat menghasilkan respons berbeda ketika diucapkan dengan intonasi yang berbeda. Karena itu, memperhatikan nada bicara menjadi salah satu hal sederhana yang dapat membantu mengurangi kesalahpahaman dalam komunikasi sehari-hari.
Kadang, pesan yang ingin kita sampaikan sebenarnya sudah benar. Hanya saja, cara menyampaikannya membuat orang lain memahami sesuatu yang berbeda.
