Saat Brand Mulai Berbicara dengan Bahasa Anak Muda

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Methia Sonia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah melihat akun brand tiba-tiba menggunakan kata seperti “spill”, “gas”, “auto”, atau bahasa santai lainnya di media sosial?
Kadang rasanya lucu melihat perusahaan yang biasanya terlihat serius tiba-tiba berbicara seperti teman sendiri. Namun, hal tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang muncul begitu saja. Di media sosial, cara sebuah brand berbicara memang ikut berubah mengikuti kebiasaan penggunanya.
Kalau dulu komunikasi perusahaan identik dengan bahasa yang formal dan teratur, sekarang beberapa brand justru memilih gaya bahasa yang lebih santai agar terasa dekat dengan audiens.
Dari Bahasa Formal ke Bahasa yang Lebih Santai
Coba bayangkan sebuah perusahaan menulis caption dengan kalimat yang sangat formal dan kaku. Dibandingkan dengan brand yang menulis, “Udah siap nyobain yang baru?”, tentu keduanya memberikan kesan yang berbeda.
Informasi yang disampaikan mungkin sama-sama tentang produk baru. Namun, cara menyampaikannya membuat komunikasi terasa berbeda.
Bahasa yang santai dapat membuat sebuah brand terasa lebih dekat, terutama ketika target audiensnya memang terbiasa menggunakan gaya komunikasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Inilah yang membuat bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan informasi. Pilihan kata juga bisa menjadi bagian dari karakter sebuah brand.
Media Sosial Mengubah Cara Brand Berkomunikasi
Media sosial membuat komunikasi antara perusahaan dan masyarakat menjadi lebih terbuka.
Brand tidak hanya membuat iklan lalu menunggu masyarakat melihatnya. Sekarang, pengguna bisa langsung memberikan komentar, bertanya, bahkan bercanda dengan akun perusahaan.
Situasi tersebut membuat gaya komunikasi menjadi lebih fleksibel.
Ketika seseorang meninggalkan komentar dengan bahasa santai, akun brand juga bisa merespons dengan gaya yang tidak terlalu kaku. Percakapan akhirnya terasa seperti komunikasi dua arah, bukan sekadar perusahaan berbicara kepada konsumen.
Tidak heran jika beberapa akun brand memiliki gaya bahasa yang mudah dikenali. Bahkan, terkadang orang bisa mengetahui sebuah akun dari cara mereka membalas komentar.
Kenapa Brand Suka Menggunakan Bahasa Anak Muda?
Salah satu alasannya adalah karena bahasa yang digunakan dalam komunikasi dapat membuat sebuah brand terasa lebih dekat dengan audiensnya.
Anak muda mungkin lebih mudah merasa familiar ketika sebuah brand menggunakan bahasa yang biasa mereka temui di media sosial.
Namun, bukan berarti setiap brand harus menggunakan bahasa gaul.
Perusahaan yang menjual produk untuk kebutuhan profesional, misalnya, mungkin membutuhkan gaya komunikasi yang berbeda dengan brand yang memang menyasar anak muda.
Jadi, penggunaan bahasa santai sebenarnya bukan tentang siapa yang paling kekinian. Yang lebih penting adalah apakah bahasa tersebut sesuai dengan karakter brand dan orang yang diajak berkomunikasi.
Ketika Bahasa Gaul Malah Terasa Dipaksakan
Ada kalanya sebuah brand mencoba menggunakan istilah yang sedang populer, tetapi hasilnya justru terasa aneh.
Misalnya, sebuah istilah sedang ramai digunakan oleh pengguna media sosial. Brand kemudian ikut menggunakannya dalam setiap caption meskipun tidak sesuai dengan konteks.
Alih-alih terasa dekat, komunikasi tersebut justru bisa terlihat seperti perusahaan yang sedang berusaha keras untuk terlihat mengikuti tren.
Padahal, mengikuti perkembangan bahasa anak muda tidak berarti harus menggunakan semua istilah yang sedang viral.
Brand tetap perlu memilih kata yang sesuai dengan karakter mereka.
Brand Tetap Perlu Punya Karakter
Menggunakan bahasa yang santai bukan berarti perusahaan harus meninggalkan identitasnya.
Justru, gaya bahasa yang digunakan perlu tetap memiliki arah. Brand perlu mengetahui apakah mereka ingin terlihat ramah, profesional, lucu, sederhana, atau memiliki karakter tertentu.
Karena itu, penggunaan bahasa anak muda sebaiknya tidak hanya mengikuti tren. Ada pertimbangan mengenai siapa audiensnya, bagaimana karakter brand, dan situasi apa yang sedang dibicarakan.
Bahasa santai mungkin cocok ketika membalas komentar ringan. Namun, ketika menghadapi keluhan pelanggan, tentu diperlukan cara berkomunikasi yang lebih hati-hati.
Bahasa Bisa Membuat Brand Terasa Lebih “Manusia”
Media sosial membuat jarak antara perusahaan dan konsumennya menjadi lebih dekat.
Pengguna sekarang bisa melihat bagaimana sebuah brand berbicara, bercanda, menjawab pertanyaan, bahkan menghadapi komentar dari masyarakat.
Karena itu, bahasa yang digunakan menjadi salah satu bagian dari pengalaman pengguna ketika berinteraksi dengan brand.
Pada akhirnya, tidak ada satu gaya bahasa yang harus digunakan oleh semua perusahaan. Bahasa formal maupun santai sama-sama bisa digunakan selama sesuai dengan konteks.
Yang menarik, perubahan cara brand berbicara menunjukkan bahwa komunikasi perusahaan juga ikut berkembang. Brand sekarang tidak hanya berlomba membuat iklan yang menarik, tetapi juga berusaha menemukan cara berbicara yang terasa dekat dengan orang yang mereka ajak berkomunikasi.
Dan mungkin, di tengah banyaknya akun perusahaan di media sosial, satu hal sederhana seperti “cara ngomong” justru bisa membuat sebuah brand lebih mudah dikenali.
