Komunikasi Digital yang Berempati Membangun Kepedulian dan Solidaritas Gen Z

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Ariel Ilham tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gen Z tumbuh bersama teknologi, tapi kehangatan antarmanusia tetap perlu dijaga.
Di tengah derasnya arus informasi, generasi Z tumbuh sebagai generasi yang hampir seluruh hidupnya terhubung dengan dunia digital.
Mereka berkenalan, berdiskusi, berkarya, hingga menyuarakan opini lewat layar.
Namun, kedekatan teknologi tidak selalu berarti kedekatan antarmanusia. Di balik akun-akun yang saling berinteraksi, ada perasaan nyata yang kerap terabaikan.
Di sinilah empati dalam komunikasi digital menjadi kebutuhan, bukan sekadar pelengkap
Ketika Layar Membuat Kita Lupa Ada Manusia
Komunikasi digital punya satu kelemahan mendasar: hilangnya isyarat nonverbal. Kita tidak melihat raut wajah, mendengar nada suara, atau merasakan suasana hati lawan bicara.
Komentar yang terasa “hanya bercanda” bagi penulisnya bisa menjadi luka bagi pembacanya.
Fenomena online disinhibition effect, yakni kecenderungan orang berperilaku lebih bebas dan kurang terkendali saat berinteraksi secara daring, membuat sebagian orang berani mengatakan hal yang tidak akan pernah diucapkan secara langsung.
Anonimitas, jarak, dan kecepatan membuat jempol lebih cepat bergerak daripada nurani. Akibatnya, cyberbullying, body shaming, ujaran kebencian, hingga budaya cancel yang berlebihan menjadi pemandangan sehari-hari di media sosial.
Gen Z: Peka Isu, Tapi Rentan Lelah
Gen Z sering digambarkan sebagai generasi yang sadar isu sosial. Mereka vokal soal kesehatan mental, kesetaraan, lingkungan, dan keadilan. Kepedulian ini adalah modal berharga.
Lihat bagaimana galang dana untuk korban bencana, kampanye donasi, atau dukungan bagi teman yang sedang berjuang dengan cepat menyebar lewat media sosial.
Meski begitu, paparan konten negatif yang terus-menerus dapat memicu empathy fatigue, yaitu kelelahan emosional akibat terlalu sering menyerap penderitaan orang lain.
Ada pula risiko performative activism, ketika kepedulian hanya berhenti pada unggahan atau repost tanpa tindakan nyata.
Empati yang sehat membutuhkan keseimbangan antara peduli dan menjaga diri.
Gimana sih wujud komunikasi digital yang berempati?
Empati di ruang digital tidak harus rumit. Ia hadir dalam kebiasaan-kebiasaan kecil contohnya seperti yang di bawah ini teman teman:
Berpikir sebelum mengunggah atau berkomentar. Tanyakan pada diri sendiri: apakah ini benar, perlu, dan tidak menyakiti? Jeda beberapa detik bisa mencegah penyesalan panjang.
Mendengarkan sebelum menghakimi. Tidak semua cerita terlihat utuh di layar. Menahan diri untuk tidak langsung menyimpulkan adalah bentuk penghargaan terhadap orang lain.
Memvalidasi perasaan, bukan meremehkan. Respons seperti “aku di sini kalau kamu butuh cerita” jauh lebih bermakna daripada “gitu aja baper.”
Memverifikasi informasi sebelum menyebarkan. Hoaks dan informasi keliru kerap merugikan pihak tertentu. Literasi digital adalah bagian dari kepedulian.
Menggunakan bahasa yang inklusif. Hindari candaan yang merendahkan fisik, latar belakang, atau identitas seseorang.
Dari Empati Menuju Solidaritas
Empati adalah kemampuan merasakan, sedangkan solidaritas adalah keberanian bertindak.Gen Z punya peluang besar menjembatani keduanya.
Ketika ada teman yang menjadi sasaran perundungan daring, solidaritas berarti tidak ikut memperkeruh, melaporkan akun pelaku, dan menghubungi korban secara personal.
Ketika ada komunitas yang membutuhkan bantuan, solidaritas berarti ikut berkontribusi, bukan hanya menyebarkan poster.
Contoh nyata sudah banyak: komunitas digital yang menggalang buku untuk anak daerah terpencil, kreator konten yang memakai platformnya untuk edukasi kesehatan mental, hingga gerakan kecil di kampus dan sekolah yang saling menguatkan lewat grup daring. Semua bermula dari satu hal sederhana: peduli
Teknologi hanyalah alat. Apakah ia menjadi jembatan atau tembok bergantung pada cara kita menggunakannya.
Gen Z memiliki kemampuan, kreativitas, dan kepekaan untuk menjadikan ruang digital sebagai tempat yang lebih hangat.
Mulailah dari hal kecil: menulis dengan hati, membaca dengan pengertian, dan bertindak dengan kepedulian. Sebab di balik setiap akun, selalu ada manusia yang ingin dihargai.
