Gagalnya Penerapan Nilai SDGs di Nigeria : Persekusi Umat Kristen Nigeria oleh Boko Haram

Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Mulawarman
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Michael Rafi Arrayan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengenal Nigeria
Nigeria merupakan negara yang terletak di Afrika Barat dengan Abuja sebagai ibu kotanya. Negara ini memiliki ragam suku bangsa dan bahasa yang sangat banyak, Dimana diperkirakan terdapat lebih dari 300 suku bangsa serta lebih dari 500 bahasa yang hidup di dalamnya (Pew Research Center, 2025). Dalam konteks agama, populasi Nigeria terbagi secara cukup berimbang, dimana 56% penduduknya memeluk agama Islam dan 43% menganut agama Kristen, dengan 10% di antaranya Katolik dan sisanya Protestan dari berbagai denominasi (Pulse Nigeria, 2025).
Besarnya jumlah penganut kedua agama ini dapat ditelusuri melalui penyebarannya dalam konteks sejarah. Islam masuk ke Nigeria sekitar tahun 1000 hingga 1100 Masehi dan menyebar melalui jalur perdagangan, terutama di kota-kota wilayah utara seperti Bornu. Penyebarannya tidak hanya didorong oleh perdagangan, tetapi juga oleh kepentingan sosial politik pada masa itu, hingga penerapannya dilakukan secara paksa pada sekitar tahun 1750 Masehi (Kitause & Achunike, 2013).
Di sisi lain, penyebaran agama Kristen dimulai ketika misionaris Katolik mendekati Oba, penguasa Kerajaan Benin pada waktu itu, sekitar abad ke-15. Upaya tersebut ditolak karena sang raja tetap mempertahankan kepercayaan nenek moyangnya. Kekristenan baru berhasil masuk setelah abad ke-16 meskipun masih ditolak oleh sejumlah pemimpin lokal, hingga pada abad ke-19 pengaruhnya menguat berkat kekuasaan Inggris atas koloni Nigeria, ketika banyak penginjil Protestan dari denominasi Evangelis, Calvinis, dan Presbiterian berdatangan. Akan tetapi, Kekristenan kemudian mendapat citra yang kurang baik akibat stereotip imperialisme Inggris (Kitause & Achunike, 2013).
Perbedaan jalur penyebaran agama di tiap wilayah, ditambah keputusan perbatasan pascakolonial yang diambil secara sepihak, menyebabkan terjadinya segregasi antaraumat Kristen dan Islam (Adamolekun, 2025). Selain itu, terjadi pula kerusuhan antarumat beragama yang menewaskan lebih dari 300 warga dan membuat 10.000 warga mengungsi untuk mencari perlindungan. Peristiwa ini berawal dari persoalan politik, yaitu tuduhan kecurangan pemilihan umum, yang diperparah oleh eratnya afiliasi antara partai pemenang dengan kelompok agama tertentu sehingga masyarakat semakin terpecah (Guardian, 2008).
SDGs dan Persekusi
Dalam konteks masalah keamanan modern, pemerintah Nigeria mengalami kesulitan dalam menangani keamanan negara secara maksimal akibat konflik ekstremisme Islam yang dilakukan oleh kelompok Boko Haram. Boko Haram pada awalnya merupakan sekumpulan orang yang menekankan kehidupan yang "suci" serta penerapan hukum Islam secara ketat sebagai standar hidup umat. Gerakan ini awalnya dipimpin oleh Mohammad Ali, mahasiswa Universitas Khartoum yang terpengaruh radikalisasi akibat literatur jihaddari Arab Saudi pada tahun 1990-an, dan ia tewas pada 2004 akibat luka dalam penyerangan di dekat Maine Soroa, Niger (LeVan & Ukata, 2018).
Jauh sebelum kematiannya, Ali telah merekrut Muhammad Yusuf, yang kelak menegas kaneksistensi Boko Haram sebagai kelompok terorisme. Meskipun terdapat tokoh lain sepertiAbu Umar dan Ibrahim Abdulganiyu yang juga dekat dengan Ali, Yusuf sempat melarikan diri ke Arab Saudi akibat perseteruan dengan Ali yang mengancam nyawanya, dan harus membuktikan dirinya tidak bersalah agar memperoleh suara. Sekembalinya dari pengasingan pada 2009, ia mengubah gerakan jihad radikal tersebut menjadi Gerakan Salafi berbasis teologis, yang kemudian menjadi radikal setelah 2009. Kelompok ini menyerang Zakaria Isa, pejabat yang bertanggung jawab atas siaran dan televisi nasionaldan dianggap bertentangan dengan gagasan Boko Haram, serta menargetkan umat Kristen di Nigeria untuk menguatkan legitimasi pesan ideologisnya (LeVan & Ukata, 2018).
SDGs atau Sustainable Development Goals merupakan indikator keberhasilan sebuah negara dalam mengatur masyarakatnya melalui 17 poin yang mengacu pada hak asasi manusia untuk mencapai pembangunan yang merata. SDGS disahkan oleh PBB pada 25 September 2015 setelah sidang umum PBB (United Nations, 2015).
Dalam penerapannya, Nigeria gagal menjalankan nilai yang telah disepakati tersebut, khususnya tujuan ke-16 yang berbunyi
"Promote peaceful and inclusive societies forsustainable development, provide access to justice for all and build effective, accountableand inclusive institutions at all levels."
Tujuan ini memiliki 10 poin turunan yang berfokus pada penurunan kekerasan terhadap semua pihak, penegasan supremasi hukum berbasishak asasi manusia yang diakui secara nasional maupun internasional, serta penguatan institusi dalam menangani kasus ketidakadilan (United Nations, 2015).
Penerapan SDGs ini sebenarnya juga didukung oleh konstitusi yang menjamin hak beragama rakyat Nigeria. Pasal 10 menyatakan bahwa negara bagian tidak boleh mengadopsi nilai-nilai agama sebagai dasar hukum pemerintahan, Pasal 39 menjamin kebebasan berekspresi tanpa paksaan, dan Pasal 38 melindungi orang yang berpindah agama serta melarang paksaan untuk mengikuti kegiatan keagamaan agama lain (NigerianConstitution, n.d.).
Namun dalam praktiknya, jaminan tersebut dilanggar. Pada 2020, seorang bernama Yahaya Sharif dijatuhi hukuman mati karena dituduh melakukan penistaan agama. Meskipun iatelah mengajukan banding, kasus ini menjadi indikasi adanya tekanan hukum keagamaanyang dipaksakan (Christian Solidarity Worldwide [CSW], 2025).
Pada 2018, terjadi penculikan terhadap 110 siswi dari sekolah akibat kelalaian pemerintah dalam merespons dengan sigap. Peristiwa ini berakhir dengan dikembalikannya 104 siswi, sementara 5 korban meninggal dan 1 siswi ditahan dengan alasan menolak berpindah agama sebagai syarat pembebasan (CSW, 2025).
Selain itu, Boko Haram bertanggung jawab atas 66% kasus kekerasan di Nigeria pada 2024(Guardian Nigeria, 2025). Data lain menunjukkan bahwa pada periode 2020–2024 jumlah korban umat Kristen mencapai lebih dari 12.000 jiwa, lebih tinggi dibandingkan korban beragama Islam yang mencapai lebih dari 4.000 jiwa (International Institute for ReligiousFreedom [IIRF], 2023).
Apa yang bisa kita ketahui
Dapat disimpulkan bahwa Nigeria secara nyata mengalami permasalahan dalam penerapan hak asasi manusia meskipun telah berkomitmen melalui SDGs. Nigeria tidak hanya gagal menegakkan hak asasi manusia sesuai komitmen internasionalnya, tetapi juga gagal menerapkan hukum nasionalnya sendiri untuk mempertahankan kedaulatan hukum serta teritorialnya. Hal ini tentunya dipersulit oleh perbedaan latar belakang budaya yang majemuk secara primordial serta perbedaan sejarah yang diakibatkan luasnya Nigeria sebagai negara dengan kawasan yang berbeda-beda.
DAFTAR PUSTAKA
Adamolekun, T. (2025). A historical perspective in the Christian-Muslim relations in Nigeria since 1914. International Journal of Peace Studies, 2(5), 110. https://doi.org/10.18533/journal.v2i5.110
Christian Solidarity Worldwide. (2025, November 18). Nigeria: Persecution report. https://www.csw.org.uk/2025/11/18/report/6664/article.htm
Guardian. (2008, December 1). Nigeria: Christianity and Islam – Jos riots. https://www.theguardian.com/world/2008/dec/01/nigeria-christianity-islam-jos-riots
Guardian Nigeria. (2025). Boko Haram responsible for 66% of violent deaths in Nigeria, report. https://guardian.ng/news/boko-haram-responsible-for-66-of-violent-deaths-in-nigeria-report/
International Institute for Religious Freedom. (2023). IIRF annual report 2023-16. https://iirf.global/wp-content/uploads/reports/2023-16_IIRF-Reports.pdf
Kitause, R. H., & Achunike, H. C. (2013). Religion in Nigeria from 1900-2013. Research on Humanities and Social Sciences, 3(18), 45–59. https://www.iiste.org/Journals/index.php/RHSS/article/viewFile/8950/9194
LeVan, A. C., & Ukata, P. (Eds.). (2018). The Oxford handbook of Nigerian politics. Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780198804307.001.0001
Nigerian Constitution. (n.d.). Chapter 1, Part 2, Section 10: Prohibition of state religion. https://nigerian-constitution.com/chapter-1-part-2-section-10-prohibition-of-state-religion/
Pew Research Center. (2025, November 11). 5 facts about religion in Nigeria. https://www.pewresearch.org/short-reads/2025/11/11/5-facts-about-religion-in-nigeria
Pulse Nigeria. (2025a, March 18). Ethnic groups in Nigeria. https://www.pulse.ng/story/ethnic-groups-in-nigeria-2025031812315902401
United Nations. (2015). Transforming our world: The 2030 agenda for sustainable development. https://www.un.org/en/development/desa/population/publications/2030_Agenda_en.pdf
