Konten dari Pengguna

Film Senin Harga Naik: Komedi Keluarga yang Menyentil Anak Muda

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Michael Riupassa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Film Senin Harga Naik/Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Film Senin Harga Naik/Dokumentasi Pribadi

Film Senin Harga Naik (2026) muncul dengan menghadirkan permasalahan yang jarang disentuh dalam film bertemakan keluarga. Konflik besar terjadi ketika seorang anak berusaha membujuk ibunya untuk melepas rumah sekaligus toko kue keluarga yang penuh dengan kenangan kepada perusahaan properti tempat ia bekerja.

Menurut akun Instagram resminya, film yang disutradarai oleh Dinna Jasanti ini berhasil mencatat 1.117.201 penonton setelah hampir dua bulan tayang di bioskop. Dengan deretan pemain papan atas seperti Meriam Bellina, Nadya Arina, Dayu Wijanto, dan Aci Resti, membuat film ini berhasil meraih beberapa nominasi di Piala Citra Film Indonesia. Film ini tak hanya menghadirkan drama dalam keluarga, tetapi juga menggambarkan budaya mengejar jabatan yang kerap kali mengorbankan hubungan dengan keluarga.

Membongkar Politik dan Ideologi Senin Harga Naik

Film bukan hanya sekadar tontonan yang biasa saja, tetapi film terkadang membawa cerita tentang kondisi sosial, politik, serta kekuasaan di masyarakat. Dalam Buku Ajar Filmologi (2022) menjelaskan tentang paradigma kritis, dimana paradigma ini berusaha mengungkapkan kehidupan yang nyata di balik kehidupan yang tampak dengan tujuan untuk membentuk kesadaran manusia demi memperbaiki dan mengubah kehidupan ke depannya (Guba & Lincoln, 1994, dalam Astuti, 2022, h. 22). Paradigma ini tampak diangkat di dalam film ini dengan tujuan agar penonton sadar dengan kenyataan yang pahit di dunia nyata.

Film Senin Harga Naik menyampaikan kritik sosial tentang budaya mengejar jabatan, ketika ambisi sebuah karier membuat seseorang rela mengorbankan hubungan dengan keluarganya. Dalam film ini menggambarkan seorang anak bernama Mutia (Nadya Arina) yang diberi penawaran untuk naik jabatan dengan tuntutan dapat berhasil bernegosiasi dengan ibu Retno (Meriam Bellina) yang merupakan ibunya sendiri untuk menjual rumahnya kepada perusahaan properti tempat ia bekerja demi memperluas lahan pembangunan perumahan.

Mutia mencoba menawarkan berbagai hal salah satunya dengan menawarkan untuk pindah ke rumah yang lebih mewah dan terawat dan ditambah dengan sang kakak yang bernama Amal (Andri Mashadi) dengan terus mengirimkan uang bulanan untuk ibu agar mau pindah. Namun, sang ibu beberapa kali menolaknya karena sang ibu lebih memilih untuk menjaga kebersamaan dan kenangan keluarga di rumah itu. Bagi sang ibu, kehangatan muncul ketika para anak-anak serta keluarganya berkumpul di rumah itu, bukan dengan uang yang banyak atau rumah yang luas. Melalui konflik ini, film ini mengkritik bahwa terkadang masyarakat saat ini lebih mengorbankan hubungan kekeluargaannya demi mengejar suatu jabatan. Jika melihat dalam kacamata paradigma kritis, film ini membongkar anggapan bahwa kesuksesan karier selalu membawa kebahagiaan. Namun pada kenyataannya, kehangatan keluarga hampir hilang akibat mengejar kesuksesan.

Ketika Uang Bulanan Tak Dapat Menggantikan Kehadiran

Agar film ini tak membosankan karena menggambarkan topik yang terus membentur pemahaman serta pandangan masyarakat saat ini, film ini juga menambahkan unsur komedi di dalamnya. Komedi yang dituangkan dari film ini tak serta-merta hanya sebagai komedi yang lewat begitu saja, tetapi juga mengandung sindiran atas situasi yang sering terjadi di sekitar kita saat ini. Ketegangan antar tokoh diperkuat dengan unsur visual, dialog, serta akting dari para aktor tersebut.

Terdapat satu dialog yang dikatakan oleh ibu dan terlihat sangat menyindir masyarakat saat ini khususnya anak-anak muda yaitu “Kamu selalu berpikir kalau semua bisa selesai dengan uang atau fasilitas”. Terkadang anak muda saat ini berpikiran bahwa semua dapat dibayar atau digantikan dengan uang. Namun, pada kenyataannya tidak semua hal dapat dibayar atau digantikan dengan uang.

Pengambilan gambar serta penataan latar yang baik membuat cerita yang ada menjadi lebih tegas. Suasana kantor terasa seperti lebih dingin dengan menggunakan warna lampu yang cenderung putih kebiruan ditambah dengan banyaknya orang yang terkesan menjadi ramai. Sedangkan, toko roti yang bernama Mercusuar serta rumah terasa lebih hangat dengan menggunakan warna lampu yang cenderung oranye namun kenyataannya menunjukkan kesepian yang melanda sang ibu.

Senin Harga Naik (2026) berhasil menjadi tontonan yang tidak hanya menghibur saja, tetapi berhasil membuka pikiran baru dan tamparan keras bagi para penonton. Di balik proyek perumahan dan proyek pembebasan lahan terdapat cerita tentang rumah serta kehangatan yang bisa hilang. Tetapi, perusahaan properti dalam film ini hanya berperan sebagai pemicu konflik. Sorotan utamanya justru pada pilihan Mutia dan cara ia memandang uang serta jabatan sebagai penyelesaian masalah.

Penulis (Review by) :

Michael Gilbert Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta