Buzz
·
4 September 2018 20:52

Ivan Lanin soal Penggunaan Bahasa Campur Anak Jaksel: Itu Code Mixing

Konten ini diproduksi oleh kumparan

Foto ini mungkin mengganggumu, apakah tetap ingin melihat?

Ilustrasi Remaja (Foto: Unsplash/Pixabay)

Di Twitter, sedang ramai perbincangan ‘bahasa gaul campur-campur’ anak Jakarta Selatan (Jaksel). Sejumlah warganet ikut menyoal perihal bagaimana anak Jaksel menggunakan bahasa Indonesia yang sering disisipi istilah-istilah bahasa Inggris.

ADVERTISEMENT

Beberapa istilah tersebut di antaranya which is, probably, even though, skeptical, atau prefer yang terkadang disisipkan di antara omongan berbahasa Indonesia.

Penggunaan bahasa anak Jaksel yang cenderung dicampur antara bahasa Indonesia dan Inggris ini ternyata ada dalam ranah linguistik. Hal ini dikonfirmasi oleh wikipediawan pecinta bahasa Indonesia, Ivan Lanin.

“Namanya campur kode (code mixing),” katanya.

Menurut Suwito dalam Sosiolinguistik Kajian Teori dan dan Analisis (Rohmadi, dkk, 2010), campur kode merupakan keadaan berbahasa bilamana orang mencampur dua atau lebih bahasa dengan saling memasukkan unsur-unsur bahasa satu ke dalam bahasa yang lain, unsur-unsur yang menyisip tersebut tidak lagi mempunyai fungsi sendiri.

Pertanyaannya, apakah fenomena campur kode ini wajar? Menurut Ivan, hal tersebut wajar-wajar saja.

ADVERTISEMENT

Sebagai contoh, misalnya ada beberapa bahasa campuran pada penutur bahasa Jawa yang kemudian dicampur dengan bahasa Indonesia. Sebab menurutnya, ada beberapa kata-kata dalam bahasa tertentu yang memang tidak ada padanan katanya sehingga mesti dicampur.

“Apakah dia ngomong campur kayak gitu untuk gengsi, atau memang benar-benar enggak tahu (arti dari kata yang diucapkan)?” lanjut pemilik akun Twitter @ivanlanin.

Lebih lanjut, ia juga mengimbau kepada warga Twitter agar jangan mencampur dua bahasa dalam kalimat.

Terkait fenomena bahasa campur-campur anak Jaksel, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psikolog Anak dan Remaja, mengatakan bahwa kata yang diucapkan seseorang merupakan cerminan dari apa yang sedang ia pikirkan.

“Jika seseorang terbiasa berpikir terstruktur atau sistematis, maka biasanya bahasa atau kata yang digunakan juga akan mencerminkan hal itu.”

ADVERTISEMENT

Vera mengaku dirinya santai saja menanggapi penggunaan bahasa kode campur meskipun agak sedikit bingung memahaminya. Sedangkan Ivan menekankan untuk menggunakan satu bahasa saja dalam satu waktu, jangan campur-campur.

“Yang penting dalam berbahasa itu konsisten,” tutup Ivan.

Penulis: Agaton Kenshanahan.