Konten dari Pengguna

Networking ke Nation Branding: Peran Pemuda Indonesia di UYLS Vietnam 2025

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mira Sapriyawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto kegiatan Universal Youth Leader Summit (UYLS), Vietnam 2025 Picture: Dokumentasi Pribadi and Commite
zoom-in-whitePerbesar
Foto kegiatan Universal Youth Leader Summit (UYLS), Vietnam 2025 Picture: Dokumentasi Pribadi and Commite

Di era globalisasi dan kemajuan teknologi ini, diplomasi bukan hanya sekedar dari meja perundingan meja formal. Namun ia tumbuh dan lahir dari ruang-ruang interaksi pemuda dengan ide-ide yang inovatif, solutif yang ditukarkan, serta jejaring internasional yang menghubungkan satu bangsa dengan bangsa yang lainya. Universal Youth Leader Summit (UYLS) 2025 yang diselenggarakan di Vietnam menjadi salah satu panggung internasional yang membuktikan hal tersebut dan Indonesia hadit dengan kontribusi yang nyata.

Pemuda sebagai Soft Power Indonesia

Lebih dari 30 negara yang bergabung dan berpartisipasi pada forum ini. Dari leadership, cultural intelligence, hingga global citizenship. Dimana semua peserta mendapatkan ruang untuk menunjukkan karakter bangsanya dan juga mempromisikan negaranya. Bagi Indonesia, UYLS adalah momen penting untuk menampilkan soft power yang dimiliki generasi mudanya untuk mengenal Indonesia lebih dekat terlepas dari segala polemic dan situasi yang terjadi melalui kreativitas, inovasi yang dibawa, kemampuan beradaptasi, dan semangat kolaborasi lintas budaya antar negara.

Networking sebagai Jembatan Diplomasi dan Nation Branding

Forum ini tidak hanya berisi seminar dan diskusi saja, melainkan juga interaksi intens antarbangsa dan negara dengan para exprest. Dari bertukar cerita budaya, mendiskusikan isu-isu global, hingga merancang potensi kolaborasi ke depan. Dari networking di Universal Youth Leader Summit (UYLS), Vietnam menjadi dan menjelma sebagai diplomasi yang hidup. Indonesia melalui para pemudanya, termasuk saya, dapat memperkenalkan wajah bangsa yang ramah, terbuka, dan visioner.

Networking yang terbangun di forum seperti UYLS terutama pada Culture aktivitis bukanlah sekadar presentasi, promosi, kartu nama atau foto kenangan. Ia adalah investasi jangka panjang yang memperkuat nation branding setiap negara terkhusus Indonesia di mata dunia. Ketika pemuda Indonesia aktif terlibat, menyumbangkan ide, bahkan berdiri sebagai pemenang penghargaan, dunia bisa melihat bahwa Indonesia adalah negara dengan generasi muda yang siap memimpin perubahan global.

Kisah Pribadi: Dari Desa ke Internasional

Sebagai seseorang yang lahir dari desa kecil di Jawa Tengah dan Riau dan memiliki banyak keterbatasan termasuk akses informasi. Saya tak pernah menyangka akan berdiri di panggung internasional ini. Di tengah keterbatasan, justru membuat saya semangat belajar, dukungan orang kedua orang tua saya dan lingkungan mendorong saya untuk berani bermimpi lebih besar.

Di Vietnam, saya nggak cuma belajar saya sempat meragu, merasa kecil di antara ratusan wajah asing, bahasa asing, budaya asing. Tapi kemudian saya berdiri di panggung itu, mendengar tepuk tangan, melihat mata orang-orang di ruangan yang mendukung saya, menyakinka saya dan akhirnya saya terkejut menjadi Best Speaker dan menjadi bagian dari Honorable Best Team Group 5. Grub saya yang terdiri 5 negara dan 6 member di antaranya saya sendiri: Mira Sapriyawati (Indonesia). Mr Aman Yadav (India), Ms Maya Nahla Eddoud (Algeria), Pham Kim Ngan (Vietnam), Ms Enerel Batmanlai (Mongolia) dan Ms. Tia Upadhyaya (India).

Grub 5 dan foto keseluruan peserta dokumentsi Pribadi

Penghargaan ini bukan sekadar trofi atau gelar. Ia adalah bukti bahwa anak desa di Jawa Tengah dan Riau, yang tumbuh dengan keterbatasan lewat jarak, lewat akses, lewat keraguan bisa melangkah jauh. Bukan hanya ikut hadir, tapi benar-benar bersuara.

Karena mimpi tinggi bukan cuma hak laki-laki tapi hak siapapun. Perempuan berhak punya mimpi besar, menyuarakan aspirasinya, dan berdiri tegak di puncak mimpinya tanpa harus menunggu izin siapa-pun. Kita bukan meminta restu atau validasi, kita meminta kesempatan. Kita bukan berharap diakui, kita membuktikan bahwa saat diberi ruang, kita bisa memberi makna yang dalam.

Delegasi pemuda dari 9 negara bersatu dalam satu genggaman tangan simbol persahabatan & komitmen bersama dokumentasi: Pribadi

Dan ini bukan tentang persaingan antara laki-laki dan perempuan, melainkan tentang Patnership. Laki-laki dan perempuan dapat berjalan berdampingan, saling mendukung satu sama lain tanpa melupakan peran, kewajiban, kekuatan, dan tanggung jawab masing-masing. Bersama, kita menciptakan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa kita raih sendiri.

Because having high aspirations and dreams are not an exclusive right for men but to everyone. Women deserve to dream big, to wield powerful voices, and to stand tall atop their own ambitions without waiting for anyone’s permission. We don’t ask for approval we demand opportunity. We don’t hope to be acknowledged we prove that when given space, we can create meaning that resonates.

And this isn’t a competition between men and women, but a partnership. Men and women can walk side by side, lifting each other up each keeping true to their own roles, strengths, and responsibilities. Together, we build something far greater than we ever could alone.