Pembelajaran Wanadri Menghadapi Kebakaran Hutan di Gunung Gede dan Ciremai
Tulisan dari Mochamad Rona Anggie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Gede dan Ciremai, menjadi pembelajaran personel Wanadri dalam upaya pemadamannya.
Pekan lalu (23-26/10/2026), anggota muda Wanadri (AMW) angkatan Badai Kabut (BK) dan Bintang Rawa (BIWA), bahu-membahu bersama relawan lainnya menjinakkan api di kawasan penyangga Gunung Ciremai di Desa Pasawahan, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan.
Komandan regu Wanadri dalam tugas operasi pemadaman karhutla Ciremai, Kusnandar Badawi (W 648 BARA) mengungkapkan, secara umum ikhtiar pemadaman kebakaran hutan di Gunung Ciremai berjalan sangat baik. Pemkab Kuningan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), bersinergi dengan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), TNI/Polri dan masyarakat peduli api.
“Jalur koordinasi jelas, peralatan lengkap, didukung personel yang siap diterjunkan kapan saja,” katanya memuji kesungguhan relawan setempat mengantisipasi kebakaran meluas.
Menurut Badawi, potensi karhutla di area TNGC terjadi setiap tahun. Belajar dari kejadian tahun ke tahun, Pemkab Kuningan dan TNGC seoptimal mungkin merawat jalur sekat bakar dan memastikan ketersediaan air di penampung yang tersebar di lokasi rawan kebakaran hutan.
“Jadi begitu ada kebakaran, relawan sigap bergerak ke titik api. Upaya pemadaman lekas dilakukan,” ucap lelaki yang stand by di base camp komunikasi Bukit Seribu Bintang (BSB), mengatur pergerakan relawan Wanadri dalam upaya pemadaman.
Arahan BPBD
Sebagai penanggungjawab operasi, BPBD Kuningan memaksimalkan kepiawaian anggota Wanadri yang terbiasa berkegiatan di alam terbuka untuk menjangkau titik api yang sulit ditembus relawan lainnya.
Badawi menceritakan medan yang mereka hadapi adalah dataran tinggi hutan pinus yang sudah terbakar. Ini kawasan hutan produksi sadapan pinus yang dikelola Perhutani. Kebakaran meluas hingga tebing Karangdinding.
“Jaraknya dua kilometer. Kami bergerak ke sana. Getah pinus kan sumber bahan bakar, tak mudah menaklukan apinya. Kami gunakan metode gebuk pakai dahan,” paparnya.
Sabtu sore (24/10/2026), berkat kerja keras semua pihak, kebakaran hutan di area Pasawahan berangsur terkedali. BPBD dan TNGC lantas menarik seluruh relawan dari lapangan. “Kalau dipantau lewat drone, bara api masih ada. Tapi setidaknya sudah terkendali. Keselamatan personel tentu nomor satu,” ucap Badawi.
Pengalaman Wanadri Muda
Salah satu personel Wanadri yang berjibaku dalam ikhtiar pemadaman kebakaran di Gunung Gede dan Ciremai adalah Anggi Junika (AMW 016 BK). Lelaki 28 tahun itu mengamini pernyataan Badawi, jika kesiapan pemadaman karhutla di Gunung Ciremai lebih baik ketimbang di Gunung Gede.
“Mungkin karena kebakaran di Ciremai datang setiap tahun, pemerintah daerah dan masyarakat peduli api lebih tanggap. Kalau di Gede kan jarang, begitu terjadi kebakaran antisipasinya lamban,” tuturnya.
Dua kali menghadapi si jago merah di ketinggian gunung; Alun-alun Suryakencana dan Kawah Wadon (Gunung Gede) serta hutan lereng Ciremai, menambah wawasan Anggi menghadapi risiko kebakaran di tengah belantara.
“Tentu penanganannya beda. Kalau kebakaran di permukiman, sudah ada jalan untuk mobil damkar. Di gunung-hutan, tim harus susah-payah mendaki ke titik api. Metode penyemprotan air, tak mudah digunakan, karena medan curam dan jalur berliku,” paparnya.
Dia menambahkan suhu panas dan kepungan asap jadi “lawan” yang menakutkan saat meredam amukan “si merah” yang menggulung belantara. “Jalan pulang bisa tertutup api dan asap tebal. Mesti tenang dan tidak gegabah bergerak. Perhatikan keselamatan diri dan anggota tim,” tegasnya.
Wanadri muda lainnya yang terlibat aksi pemadaman karhutla Ciremai ada Muhammad Lutfi Aziz, Fitra Arya Sani, Janisa Ayu Tira, dan Satria Wijaya. Total sembilan orang. Masing-masing dari Jakarta, Bandung, dan Kuningan.
Badawi dan Anggi sepakat ilmu pemadaman karhutla di wilayah Nusantara harus disebarluaskan kepada pegiat alam terbuka. Apalagi tantangan karhutla di Jawa, Kalimantan, dan Papua, berbeda.
“Harus ada pengetahuan dan keterampilan khusus menindaklanjuti hal demikian. Kami di Wanadri terus mengasah kemampuan untuk mendukung pemadaman karhutla, terutama kawasan gunung-hutan,” tutup Badawi. (*)

