Buku, TikTok, dan Generasi yang Tak Betah Membaca Panjang
Tulisan dari mugiansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suatu sore, seorang mahasiswa duduk di kedai kopi dengan novel setebal empat ratus halaman. Ia membaca beberapa paragraf, lalu meraih ponselnya. TikTok dibuka. Lima menit berlalu, sepuluh menit, hingga dua puluh menit. Novel itu masih berada di halaman yang sama.
Adegan seperti ini mungkin terasa akrab. Namun, apakah benar generasi muda semakin malas membaca? Persoalannya tidak sesederhana itu. Kita hidup di tengah perubahan cara menerima informasi. Berbagai informasi hadir dalam hitungan detik melalui layar ponsel, lengkap dengan gambar, suara, dan video yang terus berganti.
Ketika Perhatian Diperebutkan
TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts menawarkan pengalaman serba cepat. Satu video selesai, video berikutnya langsung tersedia. Kebiasaan ini membuat kita terbiasa dengan informasi singkat. Akibatnya, ketika berhadapan dengan novel yang membutuhkan waktu berjam-jam untuk diselesaikan, mempertahankan fokus bisa terasa lebih sulit.
Buku tidak berubah. Novel tetap meminta pembaca mengikuti kalimat demi kalimat, memahami tokoh, membayangkan suasana, dan mengikuti cerita hingga selesai. Tidak ada video berikutnya yang otomatis muncul. Pembacalah yang harus membangun pengalaman tersebut di dalam pikirannya.
Bukan Sekadar Malas Membaca
Kita sering mengatakan generasi muda semakin malas membaca. Padahal, mereka tetap membaca setiap hari: pesan, caption, komentar, berita, hingga informasi di internet.
Yang mungkin berubah bukan kemampuan membaca, melainkan kemampuan bertahan dalam bacaan panjang. Membaca novel empat ratus halaman berbeda dengan membaca beberapa baris di media sosial. Bacaan panjang membutuhkan konsentrasi, waktu, dan kesediaan untuk tidak segera berpindah.
Karena itu, menyebut generasi muda sebagai generasi malas membaca terasa terlalu sederhana. Mereka hidup dalam lingkungan yang membuat perhatian terus-menerus diperebutkan. Kemampuan membaca panjang perlu dilatih kembali, misalnya dengan membaca cerpen atau menyediakan waktu lima belas menit setiap hari.
Mengapa Membaca Panjang Penting?
Membaca panjang bukan sekadar aktivitas bagi pencinta sastra. Membaca membantu kita memahami sesuatu secara lebih utuh.
Di media sosial, persoalan kompleks sering diringkas menjadi satu kalimat atau video singkat. Informasi itu memang praktis, tetapi tidak selalu memberikan konteks yang cukup.
Buku menawarkan pengalaman berbeda. Ketika membaca novel, kita mengikuti perjalanan tokoh, memahami konflik, dan melihat perkembangan cerita. Proses itu mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.
TikTok Tidak Harus Menjadi Musuh Buku
Apakah solusinya berhenti menggunakan TikTok dan media sosial? Tentu tidak. Teknologi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Yang penting adalah bagaimana kita mengatur penggunaannya.
Menariknya, media sosial juga dapat menjadi pintu masuk menuju dunia buku. Fenomena BookTok menunjukkan bahwa rekomendasi buku dapat menyebar melalui video pendek dan menarik pembaca baru. Seseorang mungkin mengenal sebuah novel dari video singkat, kemudian tertarik mencari dan membacanya.
Media sosial bukan hanya penghalang literasi, tetapi juga dapat menjadi jembatan menuju buku.
Belajar Melambat
Barangkali yang kita perlukan bukan perang antara buku dan media sosial, melainkan keseimbangan. Kita tetap dapat menikmati TikTok tanpa kehilangan kebiasaan membaca. Sediakan waktu khusus untuk membaca, letakkan ponsel ketika membaca, dan beri kesempatan kepada diri sendiri untuk menikmati sesuatu tanpa terus mencari rangsangan baru.
Membaca membutuhkan ruang untuk berpikir, membayangkan, dan memahami. Di tengah dunia yang bergerak cepat, kemampuan untuk bertahan dalam keheningan justru menjadi sesuatu yang berharga.
Generasi muda bukan generasi yang kehilangan kemampuan membaca. Mereka hanya tumbuh di zaman ketika perhatian terus-menerus diperebutkan.
Pertanyaannya bukan apakah kita masih mampu membaca panjang. Kita mampu. Pertanyaannya: apakah kita masih bersedia memberikan waktu untuk melakukannya?
Sebab membaca bukan hanya tentang menyelesaikan sebuah buku, tetapi tentang belajar bertahan cukup lama untuk benar-benar memahami sesuatu.

