Konten dari Pengguna

Apakah Auditor Masih Bisa Dipercaya di Era Kecerdasan Buatan?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Afatih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apakah Auditor masih bisa dipercaya? Dok. Buatan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Apakah Auditor masih bisa dipercaya? Dok. Buatan AI.

Dulu, ketika masyarakat mendengar kata auditor, yang terbayang adalah seorang profesional yang memeriksa laporan keuangan, mencocokkan bukti transaksi, melakukan pengujian, kemudian memberikan opini mengenai kewajaran laporan keuangan. Kini, gambaran tersebut mulai berubah. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah masuk ke dalam proses auditing dan mampu menganalisis data dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan kemampuan manusia.

Perubahan ini tentu menawarkan peluang besar. AI dapat membantu auditor menemukan transaksi yang tidak biasa, mengidentifikasi pola yang berpotensi mengarah pada fraud, serta menentukan bagian laporan keuangan yang memiliki risiko lebih tinggi. Bahkan, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa perusahaan audit besar mulai memanfaatkan AI untuk menyaring jutaan transaksi sehingga auditor tidak lagi hanya bergantung pada pemeriksaan berbasis sampel.

Namun, muncul pertanyaan yang lebih penting: apakah penggunaan AI membuat auditor semakin dapat dipercaya, atau justru membuat kepercayaan terhadap auditor menjadi semakin kompleks?

Menurut saya, jawabannya bukan terletak pada apakah auditor menggunakan AI atau tidak. Persoalan sebenarnya adalah siapa yang tetap bertanggung jawab ketika AI memberikan hasil yang keliru?

AI memang mampu bekerja cepat, tetapi kecepatan tidak selalu berarti ketepatan. Sebuah sistem AI dapat mengidentifikasi pola berdasarkan data yang tersedia, tetapi belum tentu memahami konteks di balik sebuah transaksi. Transaksi yang terlihat tidak biasa belum tentu merupakan fraud. Sebaliknya, transaksi yang terlihat normal juga belum tentu bebas dari manipulasi.

Di sinilah kemampuan dan pertimbangan profesional auditor tetap dibutuhkan.

Auditor tidak seharusnya menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada teknologi. AI harus ditempatkan sebagai alat bantu untuk memperluas kemampuan auditor, bukan sebagai pengganti pertimbangan profesional auditor. Financial Times bahkan menyoroti risiko over-reliance terhadap AI dalam auditing karena auditor tetap harus mampu menjelaskan dan mempertanggungjawabkan dasar dari opini audit yang diberikan.

Masalah lain yang tidak kalah penting adalah transparansi. Jika auditor menggunakan sistem AI untuk menentukan transaksi mana yang dianggap berisiko, auditor harus memahami bagaimana sistem tersebut menghasilkan rekomendasi. Tidak cukup hanya mengatakan bahwa "sistem AI menyatakan transaksi ini berisiko." Auditor tetap harus mampu menjelaskan mengapa transaksi tersebut dianggap berisiko dan bukti apa yang mendukung kesimpulan akhirnya.

Dengan demikian, teknologi justru dapat meningkatkan tuntutan terhadap profesi auditor. Auditor masa kini tidak cukup hanya menguasai akuntansi dan auditing. Mereka juga harus memahami data analytics, sistem informasi, keamanan data, serta keterbatasan AI.

Perubahan tersebut sebenarnya bukan ancaman bagi profesi auditor. Sebaliknya, ini merupakan kesempatan untuk meningkatkan kualitas audit. OECD pada 2026 mencatat bahwa institusi audit semakin memanfaatkan AI untuk mendeteksi anomali, menilai tingkat risiko, dan meningkatkan ketepatan penggunaan sumber daya audit.

Di Indonesia sendiri, perkembangan profesi audit juga semakin menekankan pentingnya kompetensi dan kualitas profesional. Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) terus mendorong akuntan publik yang berintegritas, berkualitas, dan kompeten.

Persoalannya kemudian bukan lagi "AI atau auditor?," tetapi "bagaimana auditor dan AI dapat bekerja secara bertanggung jawab?"

Menurut saya, ada tiga prinsip yang harus dijaga.

Pertama, AI harus menjadi alat bantu, bukan pengambil keputusan akhir. Auditor tetap harus memiliki kendali atas proses audit dan melakukan evaluasi profesional terhadap hasil yang diberikan sistem.

Kedua, setiap penggunaan AI harus dapat dipertanggungjawabkan. Jika opini audit dipertanyakan, auditor tidak dapat berlindung di balik alasan bahwa keputusan tersebut dihasilkan oleh algoritma. Tanggung jawab profesional tetap berada pada manusia.

Ketiga, kompetensi auditor harus mengikuti perkembangan teknologi. Auditor yang tidak memahami AI akan menghadapi risiko baru: bukan hanya tertinggal secara teknologi, tetapi juga berpotensi gagal memahami risiko yang muncul dari penggunaan teknologi tersebut.

Pada akhirnya, kepercayaan terhadap auditor tidak dibangun oleh kecanggihan teknologi yang digunakan. Kepercayaan dibangun dari integritas, independensi, kompetensi, transparansi, dan tanggung jawab.

AI mungkin mampu memeriksa jutaan transaksi dalam waktu yang sangat singkat. Namun, AI tidak dapat menggantikan tanggung jawab moral dan profesional seorang auditor ketika harus menentukan apakah suatu informasi layak dipercaya.

Karena itu, masa depan auditing bukanlah masa ketika auditor digantikan oleh AI. Masa depan auditing adalah masa ketika auditor yang memahami teknologi mampu menggunakan AI secara kritis tanpa kehilangan skeptisisme profesionalnya.

Teknologi boleh semakin pintar, tetapi keputusan audit tetap harus dapat dipertanggungjawabkan oleh manusia.