Konten dari Pengguna

KKN Tematik 2025: Desa Citarik Jadi Model Penguatan Literasi di Tirtamulya

Muhamad Hanifah

Muhamad Hanifah

Pelajar Mahasiswa

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Hanifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

STIT Rakeyan Santang Karawang menggelar KKN Tematik 2025 bertema Peningkatan Literasi Masyarakat dan Penguatan Pendidikan Karakter. Di Kecamatan Tirtamulya, khususnya Desa Citarik, mahasiswa menempatkan pendidikan dasar sebagai garda terdepan: membangun kebiasaan membaca dan karakter belajar yang bisa diteruskan guru serta orang tua.

Di Citarik, sekolah dasar dipilih sebagai simpul perubahan karena dekat dengan keseharian anak dan keluarga. Mahasiswa bekerja bermitra dengan guru dan komite untuk merancang intervensi yang sederhana namun konsisten berbentuk rutinitas membaca harian, sirkulasi buku yang rapi, dan alat pantau kemajuan siswa agar budaya literasi menjadi kebiasaan, bukan acara sesaat.

Dua program inti dijalankan. Pertama, “Baca 15 Menit” di SDN Citarik 2 (Kelas III): pra-belajar dengan membaca nyaring, latihan suku kata, dan gim kosakata, lengkap kartu kemajuan serta pre–post check. Kedua, “Berbagi Buku Cerita” di SDN Citarik 3: donasi/pertukaran buku, pojok baca keliling dengan kartu pinjam, membaca nyaring, dan lingkar baca mingguan. Keduanya dirancang berkelanjutan mudah dikelola guru, ditopang orang tua, dan terbukti mendorong minat serta keterampilan membaca siswa.

Literasi “Baca 15 Menit” — SDN Citarik 2 (Kelas III)

Program literasi di SDN Citarik 2 dirancang sebagai rutinitas pra-belajar yang sederhana namun konsisten: “Baca 15 Menit” setiap awal pelajaran untuk siswa kelas III (total 27 siswa; L 14/P 13). Alasan utama pemilihan kelas III ialah fase transisi dari “belajar membaca” menuju “membaca untuk belajar”, sehingga pembiasaan harian dan alat pantau kemajuan menjadi kunci. Dengan format yang mudah diteruskan guru, mahasiswa KKN membantu sekolah menanamkan kebiasaan baca tanpa menambah beban kurikulum.

Bentuk kegiatan menggabungkan membaca mandiri 10–12 menit dengan membaca nyaring terpandu dan gim kosakata singkat (misalnya “tantang kata”, kartu suku kata, atau bingo kosakata) selama 3–5 menit. Bahan yang dipakai ialah teks pendek tematik (lingkungan, kesehatan, budaya lokal) yang disusun bertingkat agar sesuai level siswa. Guru didampingi menggunakan kartu kemajuan dan lembar observasi sederhana (kelancaran/wpm, akurasi, pemahaman) sehingga perkembangan tiap anak tercatat dari hari ke hari.

Dok. KKN STIT Rakeyan Santang Karawang, SDN Citarik 2, 22 Agustus 2025.

Agar kebiasaan meluas ke rumah, tim menyiapkan lembar tips 1 halaman untuk orang tua berisi cara mendampingi baca 10–15 menit, pilihan pertanyaan sederhana pasca membaca, serta kolom tracker mingguan. Pada awal dan akhir periode, diterapkan pre–post check singkat (wpm, akurasi, tiga pertanyaan pemahaman) untuk menangkap perubahan kelas secara objektif, berikut rekap per jenis kelamin (L 14/P 13) agar sekolah punya data yang lengkap.

Sasaran kegiatan mencakup siswa kelas III sebagai penerima manfaat langsung; wali kelas/guru sebagai pelaksana utama yang mengelola rutinitas setelah KKN; serta orang tua sebagai pendamping kebiasaan di rumah. Dampak yang diharapkan adalah kelas lebih siap masuk materi inti, kepercayaan diri membaca meningkat, dan sekolah memiliki paket berkelanjutan: bank teks pendek, kartu kemajuan, format observasi, serta panduan singkat untuk guru dan orang tua sehingga program dapat berjalan mandiri bahkan setelah mahasiswa KKN ditarik.

“Berbagi Buku Cerita” — SDN Citarik 3

Program literasi “Berbagi Buku Cerita” di SDN Citarik 3 digagas untuk menjawab dua hal sekaligus: akses bahan bacaan yang terbatas dan kebiasaan membaca yang belum ajek di rumah maupun sekolah. Dengan pendekatan sederhana—buku cerita bergambar, membaca nyaring, dan sirkulasi pinjam—program ini mendorong anak menikmati proses membaca, bukan sekadar menuntaskan halaman. Alasan pemilihannya selaras tema KKN 2025: meningkatkan literasi masyarakat sambil menanamkan karakter telaten, percaya diri, dan saling berbagi rekomendasi bacaan.

Dok. KKN STIT Rakeyan Santang Karawang, SDN Citarik 3, 15 September 2025.

Bentuk kegiatannya bertahap. Pra-implementasi, tim memetakan kebutuhan kelas, mengumpulkan/donasi paket buku cerita tematik, dan menyiapkan kartu pinjam serta log peminjaman per kelas. Pelaksanaan dilakukan melalui siklus mingguan: (1) membaca nyaring oleh guru/mahasiswa, (2) lingkar baca 8–10 menit membaca mandiri lalu 5 menit berbagi cerita/ilustrasi favorit, dan (3) sirkulasi pojok baca keliling antarkelas menggunakan boks buku beroda. Untuk menambah kegembiraan, siswa membuat bookmark DIY dan mengisi lembar rekomendasi (judul, tokoh, hal seru). Pasca-implementasi, tim merapikan data pinjam-kembali, menata ulang paket buku sesuai minat, dan menyiapkan umpan balik singkat untuk guru dan orang tua.

Sasarannya adalah siswa kelas rendah–menengah sebagai penerima manfaat utama; guru sebagai pengelola rutinitas membaca nyaring dan sirkulasi; serta orang tua/komite sebagai mitra yang menjaga kebiasaan membaca di rumah. Peran mahasiswa KKN adalah fasilitator: menyiapkan alat sirkulasi sederhana yang bisa langsung dipakai sekolah tanpa ketergantungan.

Dampak awal (mini-survei 4 minggu, n=60) menunjukkan perubahan yang nyata pada kebiasaan dan sikap: proporsi siswa yang meminjam ≥1 buku/minggu melonjak dari 28% menjadi 78%; rata-rata buku yang dipinjam per siswa naik dari 0,4 menjadi 1,6; waktu membaca di rumah bertambah dari 7 menjadi 15 menit/hari; kepercayaan diri membaca nyaring naik dari 2,7 menjadi 4,0 (skala 1–5). Sikap “sangat suka membaca” meningkat dari 22% ke 48%, sementara netral/tidak suka turun dari 35% ke 10%. Data ini menguatkan bahwa buku yang menarik + sirkulasi rapi mampu menstimulasi budaya baca.

Untuk keberlanjutan, program meninggalkan paket replikasi: panduan singkat membaca nyaring (1 halaman), SOP pojok baca keliling, format kartu pinjam & log peminjaman (kertas/Spreadsheet), daftar judul rekomendasi per tingkat, dan poster “aturan pojok baca”. Paket ini membuat sekolah dapat melanjutkan mandiri, memperluas ke kelas lain, dan menjadikan “berbagi buku cerita” sebagai rutinitas literasi mingguan.