Hutan Terbakar, Rakyat Terdampak: Di Mana Keseriusan Negara?

Mahasiswa Sejarah dan peradaban islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muhammad Refi Syahputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa bulan terakhir, setiap kita mendapatkan kabar yang kurang mengenakan tentang Indonesia ini. Berbagai foto, rekaman, bahkan liputan berita nasional sampai internasional menyorot permasalahan yang terjadi di Indonesia saat ini, bagaikan hujan yang melebur panas setelah sebulan tak diguyur air hujan. Dan seksama kita mengetahui permasalahan karhutla atau kebakaran hutan dan lahan yang terjadi hampir seluruh pulau-pulau besar di Indonesia.
Kita menyaksikan dengan begitu dahsyat melalui berita yang tersebar di seluruh media sosial saat ini tentang kebakaran hutan dan lahan yang merebut setiap hak-hak alam bahkan hak berkehidupan manusia itu sendiri. Tercatat sudah, tahun 2026 hampir 2 Juta atau tepatnya 1,9 Juta Hektare luas wilayah hutan dan lahan terbakar. Bukan saja manusia yang merasakan dampak negatif dari pada kebakaran ini, tetapi hak alam seperti flora dan fauna yang berkehidupan di dalamnya.
Hampir di setiap perkumpulan dan diskusi singkat masyarakat, dari mulai hotel berbintang lima sampai warung kopi di pinggir jalan, semua membicarakan tentang kebakaran ini yang kian hari tidak membaik bahkan memburuk. Dari orang utan sampai burung-burung yang seharusnya terlindungi, mereka bergotong royong menyelamatkan habitatnya dari kebakaran ini, tak sedikit relawan di lapangan melaporkan temuannya tentang hewan-hewan tersebut dibumihanguskan oleh kobaran api yang tak terkendalikan.
Akibat kebakaran ini juga, asap tebal juga menyelimuti aktivitas dari setiap kegiatan masyarakat yang tempat hidupnya berdampingan dengan kebakaran, faktanya banyak masyarakat terganggu pengelihatan jarak pandang saat berlalu lintas karena tebalnya kabut asap yang belum padam sampai keakar-akarnya, bahkan jarak pandang hanya bisa dilihat dengan jarak 5 meter ke depan. Selain itu, banyak masyarakat terdampak penyakit ISPA akibat asap tebal yang terus menjalar di berbagai sektor kehidupan, para pekerja pun tak rela meninggalkan pekerjaannya demi menjalin sesuap nasi bagi keluarganya, ironinya, bagi mereka yang terdampak karhutla sudah mulai terbiasa dengan asap tebal yang terus menyelimuti aktivitasnya.
Hal ini tidak normal, bahkan bisa dikategorikan bahaya besar bagi seluruh rakyat yang terdampak. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja tanpa ada penanganan yang jelas dan tegas dari pemerintah setempat bahkan kalau bisa pemerintahan pusat turun tangan atas kejadian ini. Negara harus bisa merespon kejadian ini dengan seksama, dampak kebakaran ini tidak bisa dianggap sebelah mata, dan tidak cukup hanya mengandalkan laporan semata tanpa kejelasan fakta di lapangan. Negara harus punya kesungguhan dan keseriusan dalam menanggulangi bencana ini.
Periksa secara menyeluruh, dari tingkat terbawah sampai ke atas, dari mulai warga setempat sampai perusahaan swasta yang aktif mengelola wilayah tersebut, negara harus mempunyai keberanian dalam mengambil posisi dan kebijakan dalam mengusut secara tuntas akibat bencana ini. Memang tidak sepatutnya setiap bencana seperti karhutla hanya menyalahkan satu pihak tertentu tanpa bukti yang jelas, tetapi setiap pihak yang punya kewenangan atas setiap kejadian yang ada di wilayah republik ini harus punya ketegasan dalam penanganannya.
Kita mengetahui berbagai pihak dari setiap elemen masyarakat saling membantu dan menopang dalam mencegah bencana ini agar cepat meredam dan tidak menyebar, dari intertaiment sampai content creator yang mempunyai banyak followers, memanfaatkan peluang ini untuk saling membantu dan mengajak peduli akan kondisi saudara kita yang terdampak karhutla. Selain itu berbagai organisasi kerelawanan turut turun tangan memadamkan kobaran api dengan peralatan seadanya, personil yang kekurangan alat, kelangkaan BBM untuk operasional di lapangan, sampai peralatan penopang lainnya seperti bantuan medis, konsumsi dan infrastruktur seadanya. Yaa kita mengetahui banyak kekurangan di lapangan, tetapi semangat mereka dalam membantu sesama tidak pernah kekurangan dan habis. Negara tidak bisa membiarkan ini semua terjadi begitu saja tanpa adanya kejelasan arah dalam menyelesaikan masalah ini.
Dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Papua. Kepada mereka yang terdampak kebakaran ini, mereka akan selalu mengingat responsif negara akan rakyatnya disaat mereka mengalami kesulitan di tengah bencana alam ini, mereka akan menyadari betul dampak psikologi, kesehatan dan ketertinggalan hidup lainnya ke depan bagi keturunan mereka akan bencana ini, jika pemerintah tidak segera ambil alih permasalahan yang dialami rakyat kebanyakan, maka ingatlah, memori kolektif masyarakat akan terbentuk bahwasannya sikap pemerintah lalai dan menyadarkan bahwasanya kerusakan ekologi ini bukan hanya diperparah oleh kobaran api yang dahsyat, tapi juga diperparah karena didiamkan oleh para penguasa negara yang mempunyai hak otoritas untuk mengelolanya.
