Konten dari Pengguna

Bagaimana Gen Z Mengubah Cara Kita Berkomunikasi?

Muhammad Andrei

Muhammad Andrei

mahasiswa universitas pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Andrei tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagaimana Gen Z Mengubah Cara Kita Berkomunikasi? Setiap generasi membawa cara berkomunikasi yang khas. Generasi yang tumbuh dengan surat dan telepon rumah berbicara dengan ritme yang berbeda dari generasi yang besar bersama pesan singkat. Kini giliran Generasi Z, yakni mereka yang lahir sekitar tahun 1997 hingga 2012, yang membentuk ulang cara kita bertukar kabar, bercanda, bahkan berdebat. Sebagai generasi pertama yang sejak kecil akrab dengan internet, gawai pintar, dan media sosial, Gen Z tidak sekadar memakai teknologi komunikasi. Mereka ikut menentukan arah perkembangannya.

Artikel ini membahas bagaimana kebiasaan komunikasi Gen Z memengaruhi bahasa, pola interaksi, dan budaya kerja, serta apa yang dapat dipelajari generasi lain dari perubahan tersebut

dokumentasi teman gen z
zoom-in-whitePerbesar
dokumentasi teman gen z

Bahasa yang Cair dan Terus Berubah

Salah satu perubahan paling terlihat ada pada bahasa. Gen Z gemar menciptakan dan menyebarkan istilah baru dengan kecepatan luar biasa. Kata-kata seperti "gabut", "baper", "santuy", "mager", atau "spill" lahir dari percakapan sehari-hari dan media sosial, lalu menyebar ke berbagai kalangan dalam hitungan hari. Campuran bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa Inggris juga dianggap wajar, sehingga percakapan terasa lebih luwes dan ekspresif.

Singkatan dan permainan kata menjadi bagian dari identitas kelompok. Bagi pemakainya, gaya bahasa ini bukan tanda malas atau tidak peduli pada tata bahasa. Ia adalah cara menunjukkan kedekatan, selera humor, dan rasa memiliki. Meski begitu, banyak dari mereka tetap mampu beralih ke bahasa formal ketika situasinya menuntut, sebuah kemampuan yang oleh para ahli bahasa disebut alih ragam atau code-switching.

Komunikasi Visual: Emoji, Stiker, dan Meme

Gen Z cenderung mengandalkan gambar untuk menyampaikan perasaan. Emoji, stiker, GIF, dan meme sering kali menggantikan kalimat panjang. Satu stiker bisa mewakili rasa lelah, geli, atau sindiran halus yang sulit dijelaskan lewat kata-kata. Meme berfungsi seperti bahasa bersama: orang yang memahami konteksnya langsung "nyambung", sementara yang tidak mengikuti akan merasa tertinggal.

Kecenderungan ini juga tampak pada pilihan platform. Video pendek di TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts menjadi sarana bercerita, menyampaikan opini, hingga belajar hal baru. Pesan disampaikan dalam hitungan detik, sehingga kemampuan merangkum gagasan dengan menarik menjadi keterampilan penting.

Dari Pesan Teks ke Voice Note dan Video

Menariknya, meski dikenal sebagai generasi digital, banyak anak muda justru kurang nyaman dengan panggilan telepon mendadak. Mereka lebih suka mengirim pesan teks atau voice note karena penerima bisa merespons sesuai waktunya. Komunikasi asinkron ini memberi ruang untuk berpikir sebelum menjawab.

Di sisi lain, panggilan video dan siaran langsung menjadi cara untuk tetap terhubung secara personal. Batas antara komunikasi pribadi dan publik pun semakin kabur. Seseorang bisa berbagi cerita harian melalui fitur cerita singkat kepada ratusan orang, sambil tetap membalas pesan pribadi kepada sahabat terdekat.

dokumentasi teman gen z