Menghadapi Mental yang Jatuh Akibat Kegagalan

Mahasiswa Universitas Pamulang Teknik Elektro
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Aria Rachmanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jalan Hidup Yang Menyesakkan
Jatuhnya mental akibat kegagalan yang datang bertubi-tubi nampaknya seperti hal biasa karena setiap orang merasakannya. Namun, kenyataannya kemampuan setiap orang untuk menghadapi hal itu berbeda-beda. Kita sering kali menyamaratakan rasa sakit akibat kegagalan tanpa ada pertanyaan “apakah ada rasa mengganjal yang kamu ingin ceritakan tapi kamu takut atau tidak tahu cara menyampaikannya?”
Setiap orang pasti memiliki mimpi tinggi untuk menjadi versi dirinya yang terbaik di kemudian hari. Saat di bangku sekolah dasar biasanya seseorang bercita-cita menjadi dokter, pilot, astronot, tentara, polisi, masinis, dan mimpi lainnya. Menuju bangku sekolah menengah pertama, sedikit pandangan terhadap dunia mulai bisa diolah dan biasanya ada perubahan terhadap cita-cita. Hingga berada di tahap akhir menjadi siswa yaitu di bangku sekolah menengah akhir, pandangan terhadap dunia terasa lebih luas dan gejolak dunia mulai dirasakan lebih kompleks. Hal-hal yang dahulu dianggap bisa digapai, perlahan mulai ia pertanyakan kemampuannya dirinya.
Hingga tak terasa baju putih abu-abu yang dikenakan telah menjadi kenangan berharga dalam hidupnya dan diberikannya dua pilihan baru, kuliah atau bekerja. Bagi sebagian besar orang, kuliah adalah prioritas. Namun, ada beberapa orang yang memilih bekerja bukan karena tidak ingin kuliah tetapi karena keadaan yang terkadang memaksanya untuk menempuh jalan hidup yang lebih berat untuk menggapai bangku perkuliahan.
Berusaha Untuk Bangkit Kembali
Cara lain bagi mereka yang terhalang keadaan untuk berkuliah di negeri atau swasta adalah memilih sekolah kedinasan. Tetapi hidup terkadang tidak seindah romansa di televisi, kalimat “Maaf anda belum memenuhi kriteria kami, harap dicoba lagi tahun depan dan tetap semangat.” Adalah sebuah kalimat yang sering kali ditemui pada mereka yang mendaftar di sekolah kedinasan. Untuk mencoba peruntungan di tempat lain sembari menunggu pendaftaran tahun depan, seseorang juga tidak jarang ditolak perusahaan-perusahaan akibat pengalaman yang kurang atau skill yang tidak mumpuni.
Pengalaman pahit ini yang seharusnya diubah menjadi penyemangat untuk bangkit kembali untuk berubah lebih baik dengan terus belajar, meningkatkan skill, dan memperbaiki segala hal-hal yang kiranya menjadi penghalang saat menjalani tes. Tetapi, ada seseorang yang hidupnya penuh tekanan dan dihadapi oleh berbagai kegagalan justru memilih jalan yang tidak harusnya dilalui untuk pelampiasan. Seperti bunuh diri, menggunakan obat-obat terlarang, dan melakukan tindak kriminal yang merugikan diri sendiri serta orang lain.
Sisakan Ruang Ikhlas
Untuk mencegah terjadinya hal-hal buruk yang tidak diinginkan, kita dapat melakukan hal-hal seperti:
Lebih sering beribadah sesuai kepercayaan masing-masing agar hati dan jiwa lebih dekat kepada Tuhan.
Berpikir positif bahwa dibalik kegagalan ada sukses yang menunggu. Mungkin tidak sekarang, tapi ada suatu hari nanti kita akan mendapatkan kata “selamat” bukan “semangat.”
Istirahat sejenak dari media sosial agar tidak membuat rasa iri semakin membesar.
Mulai berbicara kepada teman yang dapat dipercaya agar sedikit merasa lega.
5. Limpahkan stres ke dalam tulisan, lukisan, atau olahraga.
6. Memaafkan diri sendiri dan orang lain serta mengikhlaskan atas hal yang terjadi.
Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, habiskan jatah kegagalan dengan terus mencoba hal-hal baru agar di masa tua nanti kita tinggal menikmati hasil dari jerih payah yang telah dilakukan dan agar mempunyai cerita bahwa di masa muda kita telah bertempur habis-habisan serta kita mampu untuk menghadapinya.
Terus berjuang untuk kalian para insan yang haus akan kesuksesan dengan cara yang baik, istirahatlah sejenak bila kalian mengalami hambatan karena penulis juga masih berjuang untuk menggapai mimpi-mimpinya, sehingga mengetahui tentang perasaan yang tidak dapat diungkap oleh kata-kata dan penulis berharap semua orang dapat menggapai impiannya agar bisa membanggakan keluarga dan diri sendiri.
