Ruang 404: Misteri Horor Sekolah

Mahasiswa Prodi Ilmu komunikasi, Universitas Pamulang
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Muhammad Arifin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Horor Sekolah mengenai misteri Ruang 404 dan Siswa yang Menghilang Tanpa Jejak
Di Jayakarta Senior High School, sebuah sekolah elite, terdapat ruang kelas misterius bernama Ruang 404. Kisah horor sekolah itu bermula dari aturan aneh setiap Kamis pagi: siswa wajib membawa buku sesuai tulisan di papan tulis, atau mereka akan menghilang tanpa jejak.
Di Jayakarta Senior High School, ada satu bangku yang tidak pernah ditempati siapa pun.
Bangku itu berada di barisan ketiga, tepat di dekat jendela Ruang 404. Tidak ada yang menganggapnya aneh. Ketika guru bertanya mengapa bangku tersebut dibiarkan kosong, ketua kelas selalu menjawab bahwa jumlah siswa di kelas itu memang tidak genap.
Anehnya, tidak seorang pun pernah menghitung ulang.
Arvean baru menyadari hal itu setelah tiga bulan bersekolah di sana.
Sebagai siswa penerima beasiswa prestasi, ia terbiasa memperhatikan hal-hal kecil. Kebiasaan itu membantunya memenangkan berbagai olimpiade sains di sekolah lama, meskipun di sekolah barunya, kecerdasan bukan satu-satunya hal yang menentukan posisi seseorang.
Di Jayakarta Senior High School, nama keluarga bisa membuka pintu yang tidak bisa dibuka oleh nilai sempurna.
Arvean memahami itu sejak hari pertamanya. Ia tidak pernah benar-benar dirundung, tetapi teman-temannya tahu siapa yang bisa dimintai bantuan tanpa perlu menawarkan imbalan. Ia mengerjakan tugas kelompok, membantu persiapan presentasi, dan, sejak awal semester, mendapat giliran datang lebih pagi setiap Kamis.
Tugasnya sederhana: memeriksa papan tulis Ruang 404, memotret tulisan yang muncul di sana, lalu mengirimkannya ke grup kelas.
Tidak ada yang tahu siapa yang pertama kali membuat aturan itu. Kakak kelas menyebutnya tradisi. Guru-guru tidak pernah membicarakannya.
Setiap Kamis, sebelum pukul tujuh pagi, sebuah nama mata pelajaran akan tertulis di papan tulis. Semua siswa wajib membawa buku sesuai tulisan tersebut. Mereka yang lupa membawa buku konon akan menghilang.
Arvean tidak pernah percaya pada bagian terakhir.
Sampai Damar menghilang.
Pagi itu, tulisan di papan tulis berbunyi MATEMATIKA. Arvean memotretnya dan mengirimkan gambar tersebut ke grup kelas. Beberapa menit kemudian, Damar tiba dengan napas tersengal. Ia membongkar tasnya, memeriksa setiap buku, lalu mengumpat pelan.
Buku Matematikanya tertinggal di rumah.
“Pinjam punya lo dulu, dong,” katanya kepada Arvean.
“Gue cuma bawa satu.”
“Ya, nanti gue balikin.”
Arvean ragu. Ia teringat aturan yang selama ini dianggap sebagai lelucon, tetapi akhirnya menyerahkan bukunya juga. Damar tertawa kecil, mengucapkan terima kasih, lalu duduk di tempatnya.
Pukul tujuh tepat, lampu kelas berkedip.
Hanya sebentar.
Ketika cahaya kembali normal, semua orang melanjutkan aktivitas masing-masing. Damar masih duduk di bangkunya, menunduk sambil mencoret-coret buku pinjaman.
Keesokan paginya, Arvean menemukan bangku Damar kosong.
Ia mengira temannya itu sakit. Namun, ketika ia menyebut nama Damar di kelas, beberapa orang menatapnya seperti baru mendengar nama asing.
“Damar yang mana?” tanya Arka, teman sebangkunya.
“Yang duduk di belakang lo.”
Arka menoleh. Di sana hanya ada sebuah bangku kosong.
“Dari dulu juga kosong, Van.”
Arvean tertawa kecil. Ia menunggu Arka mengaku bahwa itu hanya lelucon. Namun, ekspresi temannya tetap sama.
Ia mengeluarkan ponsel dan membuka grup kelas. Foto papan tulis yang dikirimkannya sehari sebelumnya masih ada, tetapi percakapan tentang Damar telah menghilang. Bahkan pesan yang ia kirimkan pagi itu—meminta Damar mengembalikan buku Matematikanya—tidak lagi ditemukan.
Hanya ada satu bukti yang tersisa.
Buku Matematika milik Arvean tergeletak di dalam tasnya, terbuka pada halaman terakhir. Di sana terdapat tulisan tangan yang bukan miliknya.
Kalau mereka tidak mengingatku, setidaknya jangan biarkan aku hilang dua kali.
Arvean membaca kalimat itu berulang kali.
Ia mulai mencari tahu tentang siswa-siswa yang pernah menggunakan Ruang 404. Di perpustakaan, ia memeriksa album foto angkatan lama. Di ruang tata usaha, ia meminta daftar siswa yang pernah pindah sekolah. Ia bahkan mencari berita tentang Jayakarta Senior High School di internet.
Semua berakhir dengan hasil yang sama: tidak ada apa-apa.
Namun, ketika memperhatikan foto kelas dari tahun-tahun sebelumnya, Arvean menemukan sesuatu yang mengganggunya. Dalam beberapa foto, selalu ada ruang kosong di antara para siswa. Bukan karena seseorang tidak hadir, melainkan karena posisi mereka seolah sengaja dikosongkan.
Pada bagian belakang salah satu foto, terdapat tulisan yang hampir pudar.
Empat siswa tidak pernah kembali.
Arvean membawa foto itu ke ruang arsip. Setelah membongkar beberapa kotak dokumen, ia menemukan sebuah buku induk siswa dari puluhan tahun lalu. Beberapa halaman telah robek, sementara sebagian nama dicoret dengan tinta hitam.
Pada halaman terakhir, terdapat catatan singkat mengenai penutupan sementara sebuah kelas akibat insiden yang tidak dijelaskan lebih lanjut.
Nama guru yang bertanggung jawab atas kelas itu masih tercantum.
Nama yang sama muncul berulang kali di antara dokumen yang seharusnya tidak saling berkaitan.
Pak Adikara.
Arvean mencari nama itu di internet, tetapi tidak menemukan informasi yang berarti. Ia kemudian memeriksa lemari arsip yang lebih tua dan menemukan sebuah surat yang ditujukan kepada kepala sekolah. Kertasnya menguning, sebagian tulisannya luntur.
Surat itu berisi permintaan agar sekolah menyelidiki hilangnya beberapa siswa. Penulisnya mengaku telah melaporkan kejadian tersebut berulang kali, tetapi tidak pernah mendapat jawaban.
Di bagian bawah surat, terdapat satu kalimat yang digarisbawahi.
Anak-anak itu tidak pernah meninggalkan sekolah. Sekolah inilah yang meninggalkan mereka.
Arvean merasakan tengkuknya meremang.
Malam itu, ia pulang dengan membawa salinan dokumen tersebut. Ia berusaha menyusun kejadian-kejadian yang ditemukannya, tetapi semakin lama ia membaca, semakin sulit ia membedakan mana fakta dan mana sesuatu yang tidak masuk akal.
Pukul sebelas malam, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Pesan itu hanya berisi foto papan tulis Ruang 404.
Di tengah papan, tertulis satu kalimat dengan kapur putih.
Jangan datang hari Kamis.
Arvean menatap layar cukup lama. Ia hendak membalas ketika sebuah pesan kedua muncul.
Kalau kau datang, mereka akan mengingatmu.
Keesokan harinya, Arvean tetap datang ke sekolah.
Ia tiba sebelum matahari terbit. Koridor lantai dua masih gelap, dan suara langkahnya terdengar terlalu keras di antara dinding yang kosong. Ia berhenti di depan Ruang 404, mengeluarkan kunci yang dipinjamnya dari petugas kebersihan, lalu membuka pintu.
Kelas itu tampak sama seperti biasanya.
Meja tersusun rapi. Papan tulis bersih. Bangku di barisan ketiga masih kosong.
Arvean duduk di sana dan menunggu.
Ia tidak membawa buku pelajaran apa pun.
Pukul tujuh tepat, pintu menutup sendiri.
Lampu padam. Udara mendadak dingin. Dari arah papan tulis terdengar bunyi kapur yang bergerak perlahan.
Arvean berdiri, tetapi kedua kakinya terasa berat. Di tengah kegelapan, ia melihat bayangan seseorang berdiri di depan kelas.
Sosok itu mengenakan kemeja putih dengan lengan panjang yang telah menguning. Wajahnya tertutup bayangan, tetapi tangannya bergerak terus, menulis sesuatu di papan tulis.
Satu demi satu, nama mulai muncul.
Arvean mengenali nama Damar.
Lalu nama-nama lain yang tercantum dalam buku induk siswa.
Nama yang selama ini dihapus dari foto, arsip, dan ingatan orang-orang yang pernah mengenal mereka.
Terakhir, sosok itu menuliskan nama Arvean.
Di bawahnya, muncul sebuah kalimat.
Sekarang giliranmu.
Arvean mundur beberapa langkah. Ia akhirnya mengerti bahwa tulisan di papan tulis bukan sekadar peringatan bagi siswa yang lupa membawa buku. Itu adalah cara Ruang 404 memilih siapa yang akan dihapus berikutnya.
Tetapi ada sesuatu yang belum ia pahami.
Mengapa dirinya?
Ia tidak pernah melanggar aturan. Ia bahkan telah meminjamkan bukunya kepada Damar.
Sosok di depan kelas berhenti menulis. Perlahan, kepalanya menoleh ke arah Arvean.
“Karena kau masih mengingat mereka,” katanya.
Suara itu terdengar tua dan serak, seperti berasal dari sebuah ruangan yang telah lama terkunci.
Arvean menatap papan tulis. Di bawah namanya, kini terdapat satu nama lagi.
Nama yang tidak pernah ia temukan dalam dokumen mana pun.
Pak Adikara.
Untuk sesaat, sosok itu tampak seperti guru biasa. Namun, ketika cahaya lampu kembali menyala, Arvean melihat bahwa tidak ada wajah di balik bayangan kepalanya. Hanya permukaan gelap yang memantulkan ruangan, meja, dan bangku-bangku kosong.
Termasuk bangku tempat Damar seharusnya duduk.
Pintu kelas terbuka.
Arvean berlari keluar tanpa menoleh lagi. Ia tidak tahu bagaimana bisa sampai di halaman sekolah. Ia hanya ingat suara lonceng, udara pagi, dan tangannya yang gemetar saat membuka ponsel.
Ia ingin menceritakan semuanya kepada seseorang.
Namun, ketika membuka grup kelas, ia menemukan sesuatu yang membuatnya berhenti bernapas.
Foto kelas terbaru telah diunggah oleh ketua kelas.
Semua siswa berdiri dalam barisan yang rapi. Guru wali kelas tersenyum di tengah mereka. Tidak ada bangku kosong, tidak ada ruang yang janggal di antara para siswa.
Di bagian belakang, Arvean berdiri sendirian.
Ia memperbesar foto itu.
Wajahnya tidak terlihat.
Arvean berlari menuju ruang tata usaha dan meminta petugas memeriksa data dirinya. Petugas itu mengetik namanya, menatap layar beberapa saat, lalu menggeleng.
“Maaf, tidak ada siswa dengan nama itu.”
“Coba periksa lagi. Saya kelas sebelas, Ruang 404.”
Petugas itu menatapnya dengan bingung.
“Ruang 404 sudah lama tidak digunakan untuk kegiatan belajar.”
Arvean mundur perlahan.
Di luar jendela, siswa-siswa berjalan menuju kelas masing-masing. Mereka tertawa, berbicara, dan menjalani hari seperti biasa. Tidak seorang pun memperhatikannya.
Ponselnya bergetar sekali lagi.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Kali ini, pesannya berupa foto papan tulis yang baru saja diambil.
Di sana tertulis sebuah nama.
Bukan nama Arvean.
Nama itu adalah nama seorang siswa yang baru saja menerima beasiswa prestasi di Jayakarta Senior High School.
Di bawahnya, seseorang menambahkan kalimat pendek.
Jangan lupa datang hari Kamis.
Arvean mencoba berteriak, tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Untuk pertama kalinya, ia memahami arti sebenarnya dari bangku kosong di Ruang 404.
Bukan karena tidak ada yang pernah duduk di sana.
Melainkan karena seseorang telah memastikan bahwa tidak akan ada yang mengingat siapa yang pernah duduk di sana.
