Penerapan Ilmu Sejarah dalam Kehidupan Sehari-hari

Mahasiswa S1 Sejarah Peradaban Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Muhammad Aulia Hafiizh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pembuka
Pernahkah kita berpikir mengapa ada tradisi yang masih dilakukan sampai sekarang, sementara tradisi lainnya mulai ditinggalkan? Sebenarnya, banyak hal yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari berasal dari kebiasaan dan pengalaman masyarakat pada zaman dahulu. Contohnya adalah tradisi menentukan hari pernikahan, cara mengolah lahan pertanian, hingga kebiasaan bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah. Hal ini menunjukkan bahwa sejarah bukan hanya tentang menghafal tanggal, nama tokoh, atau peristiwa masa lalu. Sejarah juga membantu kita memahami kebiasaan masyarakat, nilai-nilai budaya, dan pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan mempelajari sejarah, kita bisa mengambil pelajaran dari masa lalu untuk menjalani kehidupan sekarang dengan lebih bijak.
Mengapa Penting
Mempelajari sejarah penting karena dapat membantu kita mengenal dan menjaga identitas budaya sendiri di tengah perkembangan zaman. Saat ini, kehidupan masyarakat terus berubah karena pengaruh teknologi dan modernisasi. Jika tidak mengenal sejarah dan budaya sendiri, kita bisa saja melupakan nilai-nilai yang sudah diwariskan oleh generasi sebelumnya. Oleh karena itu, sejarah lokal perlu dipelajari agar kita memahami bagaimana kebiasaan dan nilai-nilai masyarakat pada masa lalu masih bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Latar dan Konsep Dasar
Pembahasan mengenai penerapan ilmu sejarah dalam kehidupan sehari-hari dapat dipelajari melalui buku Sejarah dan Kebudayaan Kerajaan Muna karya J. Couvreur yang diterjemahkan oleh Dr. René van den Berg, serta Buletin Haba No. 89 tahun 2018 yang diterbitkan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh . Buku karya J. Couvreur membahas kehidupan masyarakat Kerajaan Muna, termasuk asal-usul, adat istiadat, dan aturan yang berlaku pada masa itu. Dalam kehidupan masyarakat Muna, terdapat istilah sara-sara yang berkaitan dengan hukum atau aturan adat. Ada juga pande kotika, yaitu orang yang membantu menentukan hari baik berdasarkan perhitungan tradisional. Sementara itu, masyarakat Gayo mengenal sistem sarak opat, yaitu sistem kepemimpinan yang melibatkan beberapa unsur masyarakat untuk menjaga ketertiban dan keharmonisan bersama. Contoh-contoh tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat pada masa lalu sudah memiliki aturan dan pengetahuan yang digunakan untuk mengatur kehidupan mereka.
Kutipan Pertama
Dr. René van den Berg, ketika membahas karya J. Couvreur, menyampaikan bahwa bangsa yang memahami sejarahnya akan lebih siap menghadapi tantangan masa kini dan masa depan. Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa mempelajari sejarah bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi juga untuk mengambil pelajaran dari pengalaman sebelumnya. Dengan memahami sejarah daerah dan budaya sendiri, masyarakat dapat mengenal nilai-nilai yang perlu dipertahankan serta mengetahui kesalahan yang sebaiknya tidak diulangi. Pengetahuan tersebut dapat menjadi pedoman ketika menghadapi perubahan dan berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh Nyata
Salah satu contoh penerapan pengetahuan tradisional dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat Muna. Menurut catatan J. Couvreur, masyarakat petani tradisional Muna menggunakan bantuan pande kotika untuk menentukan waktu yang dianggap baik untuk menanam padi dan melakukan panen. Penentuan tersebut dilakukan berdasarkan perhitungan tradisional, termasuk pengamatan terhadap bintang ea-ea ngkululi. Contoh lainnya terdapat pada masyarakat Alas di Aceh. Hasbullah menjelaskan bahwa mereka mengenal selamponen, yaitu tempat duduk khusus dari bambu yang berada di depan rumah dan digunakan untuk menerima tamu serta berbincang atau bermusyawarah dengan warga. Kedua contoh tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan yang diwariskan dari generasi sebelumnya memiliki fungsi dalam kehidupan masyarakat, mulai dari membantu kegiatan pertanian hingga mempererat hubungan sosial.
Kutipan Kedua
Contoh lain dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat Gayo. Agung Suryo Setyantoro mengutip pepatah adat Gayo, yaitu ike mah kude kuwan wih, enti bio ari kuduke. Pepatah tersebut memiliki makna bahwa jika ingin membawa kuda masuk ke air, orang yang menuntunnya harus masuk terlebih dahulu, bukan hanya menyuruh dari belakang. Jika dikaitkan dengan kehidupan sekarang, pepatah ini mengajarkan pentingnya memberikan contoh sebelum meminta orang lain melakukan sesuatu. Seorang pemimpin, baik dalam keluarga, organisasi, maupun pemerintahan, seharusnya menunjukkan sikap dan tindakan yang baik terlebih dahulu. Dengan begitu, orang lain akan lebih mudah percaya dan mengikuti arahan yang diberikan.
Hubungan dan Tantangan
Dalam penerapannya, ilmu sejarah memiliki hubungan dengan berbagai bidang lain, seperti antropologi, sosiologi, hukum adat, dan ilmu lingkungan. Hal ini karena sejarah tidak hanya membahas peristiwa masa lalu, tetapi juga membantu menjelaskan kebiasaan, hubungan sosial, aturan, dan cara masyarakat memanfaatkan lingkungan. Namun, penerapan nilai-nilai sejarah menghadapi tantangan pada zaman sekarang. Perkembangan teknologi dan penggunaan gawai, misalnya, membuat sebagian masyarakat semakin jarang mengikuti kegiatan tradisional. Nurmila Khaira juga membahas mulai tersisihnya tradisi lisan, kesenian, dan permainan tradisional seperti hadang akibat perubahan gaya hidup masyarakat. Selain itu, aturan resmi yang berlaku secara umum terkadang kurang sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat. Karena itu, diperlukan upaya untuk menjaga tradisi dan menyesuaikan nilai-nilai lama dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan makna pentingnya.
Penutup
Berdasarkan pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa ilmu sejarah memiliki manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sejarah membantu kita memahami budaya, menjaga hubungan baik dengan orang lain, serta mengambil pelajaran dari pengalaman masyarakat pada masa lalu.Kita juga perlu mempelajari sejarah secara terbuka, bukan hanya melihat keberhasilan yang pernah terjadi, tetapi juga memahami kesalahan yang dapat dijadikan pelajaran untuk masa depan. Oleh karena itu, generasi muda perlu ikut menjaga sejarah dan budaya lokal agar tidak hilang akibat perkembangan zaman. Dengan mengenal sejarah sendiri, kita dapat menghargai warisan leluhur sekaligus mengambil hal-hal positif yang masih sesuai untuk diterapkan dalam kehidupan sekarang.
