Tentang Sabar yang Sering Disalahpahami

Orang biasa yang baru saja lulus dengan predikat cumlaude di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta - Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi - Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Muhammad Dwiki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kita sering mendengar nasihat, "Sabar saja, nanti semuanya akan baik-baik saja."
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, ketika sedang berada di tengah masalah, menjalani kesulitan, atau menghadapi sesuatu yang tidak kunjung berubah, sabar ternyata tidak sesederhana mengucapkannya.
Ada kalanya kita sudah berusaha, sudah berdoa, sudah mencoba bertahan, tetapi keadaan tetap tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Lalu, sebenarnya apa itu sabar?
Apakah sabar berarti hanya diam dan menerima semuanya?
Atau apakah sabar berarti tidak boleh merasa sedih, kecewa, marah, bahkan lelah?
Mungkin selama ini kita terlalu sering memahami sabar dengan cara yang sempit.
Sabar Bukan Berarti Tidak Boleh Sedih
Ada anggapan bahwa orang yang sabar harus selalu terlihat tenang.
ketika mendapatkan masalah, tidak boleh menangis. Ketika disakiti, tidak boleh kecewa. Ketika kehilangan sesuatu, harus segera mengatakan bahwa dirinya ikhlas.
Padahal, menjadi manusia berarti memiliki perasaan.
Sedih ketika kehilangan adalah hal yang wajar. Kecewa ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan juga manusiawi. Bahkan menangis bukan berarti seseorang tidak sabar.
Sabar bukan tentang tidak memiliki emosi.
Sabar adalah tentang bagaimana kita menghadapi emosi tersebut tanpa membiarkannya membawa kita kepada sesuatu yang buruk. Kita boleh menangis, kita boleh merasa lelah, kita boleh mengakui bahwa hari ini terasa berat.
Yang perlu dijaga adalah bagaimana kita tetap berusaha untuk tidak menyerah dengan keadaan.
Sabar Bukan Berarti Pasrah Tanpa Usaha
Kesalahpahaman lainnya adalah menganggap sabar sama dengan pasrah.
Ketika menghadapi masalah, seseorang memilih tidak melakukan apa-apa dengan alasan, "Saya sedang belajar sabar."
Padahal, sabar tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti berusaha.
Seorang mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi tetap harus mengerjakan revisi meskipun berkali-kali mendapat koreksi.
Seseorang yang sedang mencari pekerjaan tetap perlu mengirim lamaran meskipun sebelumnya sering mendapatkan penolakan.
Orang yang sedang memperbaiki kehidupannya tetap perlu mengambil langkah meskipun hasilnya belum terlihat. Berdoa dan berusaha bukan dua hal yang harus dipertentangkan.
Kita berusaha sebaik mungkin, kemudian belajar menerima bahwa hasil akhirnya tidak selalu berada dalam kendali kita.
Di situlah kesabaran diuji.
Ada Hal yang Memang Tidak Bisa Kita Paksakan
Dalam hidup, ada banyak hal yang berada di luar kendali kita.
Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk tetap tinggal.
Kita tidak bisa memaksa semua orang memahami niat baik kita.
Kita tidak bisa memaksa sebuah pekerjaan menerima kita.
Kita juga tidak bisa menentukan kapan doa akan dikabulkan sesuai dengan keinginan kita. Pada titik tertentu, sabar bukan lagi tentang terus memaksa keadaan agar sesuai keinginan. Sabar bisa berarti menerima kenyataan bahwa ada sesuatu yang memang belum menjadi milik kita.
Menerima bukan berarti berhenti berharap. Menerima berarti menyadari bahwa kita sudah melakukan bagian kita, sementara hasil akhirnya kita serahkan kepada Allah.
Sabar Tidak Selalu Terlihat Hebat
Kadang-kadang, sabar justru hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Sabar ketika memilih diam daripada membalas perkataan yang menyakitkan.
Sabar ketika tetap menyelesaikan tanggung jawab meskipun sedang tidak memiliki semangat. Sabar ketika tidak menyerah setelah berkali-kali gagal.
Sabar ketika memilih memaafkan meskipun hati masih membutuhkan waktu untuk pulih. Sabar ketika tetap berdoa meskipun jawaban yang ditunggu belum datang.
Tidak semua bentuk kesabaran terlihat oleh orang lain. Bahkan mungkin, tidak ada yang tahu seberapa keras seseorang sedang berusaha untuk tetap bertahan.
Karena itu, jangan terlalu cepat menilai seseorang yang sedang berjuang.
Bisa jadi, di balik senyumnya, ada kesabaran yang selama ini tidak pernah ia ceritakan.
Sabar Juga Berarti Memberi Waktu kepada Diri Sendiri
Kita sering menuntut diri sendiri untuk segera pulih.
Ketika gagal, kita ingin segera bangkit.
Ketika kehilangan, kita ingin segera melupakan.
Ketika mengalami sesuatu yang menyakitkan, kita merasa harus segera kembali seperti semula.
Padahal, setiap orang memiliki waktu pemulihan yang berbeda. Ada luka yang membutuhkan waktu, ada kehilangan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu nasihat, ada kegagalan yang membuat kita perlu berhenti sebentar untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak apa-apa jika prosesmu lebih lambat dari orang lain.
Tidak apa-apa jika hari ini kamu masih belajar menerima sesuatu yang sudah terjadi.
Selama kamu masih berusaha untuk bangkit, proses yang lambat bukan berarti gagal.
Allah Tidak Meminta Kita Menjadi Manusia Tanpa Air Mata
Dalam kehidupan, kita mungkin pernah merasa bahwa doa kita terlalu lama dijawab.
Kita sudah meminta, tetapi belum mendapatkan.
Kita sudah berusaha, tetapi belum berhasil.
Kita sudah bersabar, tetapi masalah seolah tidak kunjung selesai.
Di saat seperti itu, mudah bagi kita untuk bertanya, "Sampai kapan?"
Namun, mungkin ada sesuatu yang perlu kita ingat. Allah tidak pernah meminta kita menjadi manusia yang tidak memiliki rasa lelah. Kita tetap manusia yang bisa menangis, takut, kecewa, dan merasa tidak kuat.
Yang penting adalah kita tidak berhenti kembali kepada-Nya.
Bersabar bukan berarti kita tidak pernah mempertanyakan keadaan. Bersabar berarti, meskipun banyak hal yang belum kita pahami, kita tetap berusaha menjaga keyakinan bahwa Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui.
Ada hal-hal yang baru bisa kita pahami setelah melewatinya.
Apa yang dulu kita anggap sebagai kehilangan, mungkin ternyata menjadi perlindungan.
Apa yang dulu kita anggap sebagai kegagalan, mungkin menjadi jalan menuju sesuatu yang lebih baik.
Dan apa yang dulu kita pertanyakan, mungkin suatu hari justru membuat kita berkata, "Ternyata Allah punya alasan."
Pada Akhirnya, Sabar Adalah Sebuah Proses
Sabar bukan sebuah keadaan di mana kita tiba-tiba menjadi kuat dan tidak lagi merasakan sakit.
Sabar adalah proses.
Hari ini mungkin kita kuat.
Besok mungkin kita kembali merasa lelah.
Hari ini kita bisa menerima.
Besok mungkin kita kembali mempertanyakan keadaan.
Dan itu tidak membuat kita menjadi manusia yang gagal bersabar.
Kita hanya sedang belajar.
Belajar menerima apa yang tidak bisa diubah.
Belajar memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki.
Belajar membedakan antara memperjuangkan sesuatu dan memaksakan sesuatu.
Serta belajar menyerahkan hasil kepada Allah setelah melakukan yang terbaik. Mungkin, sabar bukan tentang menunggu tanpa melakukan apa-apa.
Sabar adalah tetap berjalan meskipun kita belum tahu kapan akan sampai.
Tetap berusaha meskipun hasilnya belum terlihat.
Tetap berdoa meskipun jawaban belum datang.
Dan tetap percaya bahwa setiap kesulitan memiliki waktunya sendiri untuk berlalu.
Jadi, jika hari ini kamu sedang berada di fase yang berat, tidak perlu memaksa diri untuk selalu terlihat kuat.
Menangislah jika memang ingin menangis.
Beristirahatlah jika memang lelah.
Berdoalah jika hati terasa sesak.
Kemudian, ketika sudah sedikit lebih tenang, cobalah melangkah lagi.
Karena mungkin, Sabar bukan tentang tidak pernah merasa ingin menyerah, tetapi tentang memilih untuk tetap melangkah meskipun pernah merasa demikian.
