Konten dari Pengguna

Dari Dapur, Ibu-Ibu Nagari Cupak Menemukan Nilai yang Selama Ini Terlewat

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Faruqi Aidi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dari Dapur, Ibu-Ibu Nagari Cupak Menemukan Nilai yang Selama Ini Terlewat
zoom-in-whitePerbesar

Selama ini, dapur kerap diposisikan sebagai ruang paling sederhana di rumah. Tempat memasak, mencuci, lalu selesai. Namun bagi sejumlah ibu di Nagari Cupak, dapur justru menjadi ruang belajar yang membuka cara pandang baru terhadap bahan-bahan yang selama ini dianggap biasa.

Kelapa, beras, dan minyak bekas dapur umumnya hanya dimanfaatkan sebatas kebutuhan sehari-hari. Bahkan, sebagian berakhir sebagai limbah tanpa pernah dipikirkan ulang. Padahal, dengan pengetahuan yang tepat, bahan-bahan sederhana tersebut menyimpan potensi untuk diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat dan bernilai tambah.

Kesadaran inilah yang perlahan tumbuh melalui kegiatan belajar bersama yang berlangsung di Nagari Cupak, Kabupaten Solok. Kegiatan ini disusun bukan sebagai pelatihan yang kaku, melainkan sebagai ruang berbagi pengalaman. Para peserta diajak berdiskusi, mencoba, dan melihat kembali dapur rumah tangga sebagai bagian dari proses pembelajaran yang dekat dengan kehidupan mereka sendiri.

Beberapa bahan dapur digunakan sebagai contoh sederhana. Minyak bekas tak lagi dilihat sebagai limbah, melainkan sesuatu yang masih dapat dimanfaatkan. Kelapa dan beras pun kembali diperkenalkan sebagai komoditas lokal yang dapat diolah lebih jauh jika masyarakat memiliki pengetahuan yang memadai.

Dalam kegiatan ini, peserta diperkenalkan pada berbagai contoh pengolahan bahan rumah tangga, mulai dari membuat minyak tanak, VCO secara spontan, hingga sabun ramah lingkungan dan sabun beras. Selain praktik, peserta juga diajak memahami konsep nilai tambah produk—materi yang menjadi dasar penting dari seluruh proses belajar tersebut.

Hasil Produk yang dibuat bersama Ibu- ibu PKK Nagari Cupak.

Salah seorang peserta mengaku baru menyadari potensi tersebut setelah mengikuti kegiatan ini.

“Selama ini minyak bekas dan beras hanya digunakan seadanya. Setelah ikut kegiatan ini, kami jadi tahu kalau bahan-bahan tersebut bisa diolah lebih lanjut,” tuturnya.

Materi dan Praktek berlangsung santai dan partisipatif. Dalam hal ini Mahasiswa pendamping, Muhammad Faruqi Aidi dkk., berperan membantu peserta memahami praktik sederhana tanpa kesan menggurui. Diskusi dan praktik berjalan beriringan, menciptakan suasana yang cair dan mudah diikuti.

Di balik kegiatan ini terdapat dukungan dari dosen pembimbing, Wellyalina dkk., yang mendorong pentingnya melihat ulang potensi bahan-bahan rumah tangga. Mereka mengajak peserta memahami bahwa nilai tambah tidak harus selalu lahir dari teknologi besar—kadang justru muncul dari hal-hal yang paling dekat dengan keseharian.

Pengalaman di Nagari Cupak menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat bisa tumbuh dari ruang sekecil dapur rumah tangga. Ketika pengetahuan kampus bertemu dengan kebutuhan warga, kegiatan belajar menjadi lebih relevan, alami, dan bermakna.

Penulis:

Muhammad Faruqi Aidi, mahasiswa Kimia Universitas Andalas, bersama tim.