Generasi TikTok: Kreatif atau Terperangkap Algoritma?

Nama : Moh. Galih Pratama,kuliah S1 di uin syarif hidayatullah jakarta,hukum pidana Islam,alumnus buntet pesantren cirebon
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Moh Galih Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa yang nggak kenal TikTok? Dulu, aplikasi ini cuma jadi tempat iseng-iseng bikin video joget. Sekarang, TikTok sudah jadi bagian dari keseharian bahkan identitas Generasi Z (Gen Z).
Cukup rekam, edit, dan unggah, siapa saja bisa viral dalam hitungan jam. Tapi, coba kita tanya sekali lagi: apakah TikTok benar-benar membebaskan kreativitas kita, atau malah menjebak kita dalam pusaran algoritma yang sulit dikendalikan?
TikTok: Panggung Ekspresi Tanpa Batas
Jujur saja, TikTok memberi ruang yang luas bagi remaja untuk berekspresi. Dari bikin konten masak, nari, melukis, sampai berbagi pendapat, banyak anak muda yang akhirnya menemukan “suara” mereka lewat video pendek.
Riset bahkan menunjukkan bahwa TikTok bisa memicu kreativitas, terutama dalam hal atensi dan penghayatan terhadap konten.
Banyak juga yang awalnya cuma iseng, sekarang malah jadi konten kreator dengan penghasilan tetap. TikTok jadi panggung yang demokratis: siapa pun bisa tampil, tanpa perlu modal besar atau koneksi industri.
Sisi Gelap: Kreativitas yang Terpaksa
Tapi, ada harga yang harus dibayar. Di balik layar yang penuh warna, tersimpan sisi gelap yang jarang dibahas. Algoritma TikTok yang sangat responsif ternyata mampu membentuk perilaku, pola konsumsi, bahkan cara pandang generasi muda terhadap dunia. Fitur scroll tanpa ujung membuat pengguna sulit berhenti, seperti sedang bermain mesin slot yang bikin kecanduan.
Kreativitas yang seharusnya menyenangkan, perlahan berubah jadi beban. Banyak remaja yang merasa tertekan untuk mengikuti tren agar tetap “relevan”.
Pertanyaan seperti “Apakah konten saya bakal masuk FYP?” atau “Apakah saya sudah cukup menarik?” sering muncul di kepala mereka. Tekanan ini bisa memicu kecemasan sosial, bahkan gangguan tidur karena begadang demi mengejar interaksi.
Sebuah riset mencatat, cukup 20 menit main TikTok, skor depresi bisa naik 12% dan kecemasan 15%. Di Indonesia, banyak remaja mengaku cemas ketika video mereka sepi likes atau views. Akibatnya, muncul rasa rendah diri, masalah citra tubuh, hingga menarik diri dari dunia nyata.
Ketika Algoritma yang Mengendalikan
Masalahnya bukan pada TikTok sebagai platform, tapi pada cara kerja algoritmanya. Algoritma ini dirancang untuk membuat kita betah berlama-lama di aplikasi. Ia terus menampilkan konten populer, menanamkan rasa takut ketinggalan atau Fear of Missing Out (FOMO).
Hasilnya, bukan lagi kita yang mengendalikan algoritma, tapi algoritma yang mengendalikan kita. Kreativitas yang seharusnya bebas, kini terikat pada standar viralitas yang sempit. Banyak konten kreator muda yang akhirnya ikut-ikutan tren, bukan karena ingin berkreasi, tapi karena ingin dilihat.
Jalan Tengah: Literasi Digital dan Kesadaran Kritis
TikTok itu seperti pisau bermata dua. Bisa jadi alat kreativitas, bisa juga jadi sumber kecemasan. Solusinya bukan melarang, tapi membekali generasi muda dengan literasi digital dan kesadaran kritis.
Orang tua, guru, dan pemerintah perlu kerja sama mengajarkan remaja cara pakai media sosial secara sehat. Misalnya, batasi waktu main, pilih konten yang bermutu, dan jangan jadikan jumlah likes atau views sebagai tolok ukur kesuksesan.
Di sisi lain, platform seperti TikTok juga perlu lebih terbuka tentang cara kerja algoritmanya. Dengan begitu, pengguna bisa lebih sadar: kapan mereka sedang berkreasi, dan kapan mereka sedang dikendalikan.
Penutup
Generasi TikTok berdiri di persimpangan: antara kreativitas dan keterpaksaan, antara kebebasan dan keterjebakan. Pilihan ada di tangan mereka—apakah akan jadi tuan atas algoritma, atau budak yang diperbudak olehnya.
