Konten dari Pengguna

Cinta Beda Bangsa, Luka Beda Dunia: Membaca Hubungan Hanafi dan Corrie

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ibnu Priyono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hanafi dan Corrie punya hampir semua syarat sebuah kisah cinta: saling tertarik, sama-sama terpelajar, sama-sama fasih berbahasa Belanda. Namun hubungan mereka justru berakhir sebagai salah satu tragedi paling terkenal dalam sastra Indonesia. Mengapa cinta dua orang yang tampak sepadan itu tak pernah menemukan tempat?

Ilustrasi pasangan yang tidak menemukan tempatnya, sumber: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pasangan yang tidak menemukan tempatnya, sumber: pexels.com

Jawabannya ada di Salah Asuhan, novel Abdoel Moeis yang pertama terbit di Balai Pustaka pada 1928. Dari lapangan tenis di Solok hingga akhir yang pahit, hubungan Hanafi dan Corrie menjadi cermin bagi pertanyaan yang lebih besar: apa jadinya cinta ketika dua orang dipisahkan bukan oleh perasaan, melainkan oleh tatanan kolonial dan rasa malu pada diri sendiri?

Dua Anak Muda di Lapangan Tenis

Hanafi adalah pemuda Minangkabau yang disekolahkan ibunya ke Betawi dan tinggal bersama keluarga Belanda. Corrie du Bussee adalah gadis Indo-Prancis yang ibunya perempuan pribumi. Ia begitu memikat sampai surat-surat lamaran datang silih berganti, dan ia menanggapinya dengan gelak. Novel dibuka dengan percakapan keduanya di lapangan tenis di Solok. Hanafi mencium punggung tangan Corrie, dan Corrie menarik tangannya secepat orang tersengat, tepat ketika pasangan Brom datang menggoda mereka sebagai "merpati dua sejoli".

Menariknya, Corrie justru menjadi cermin bagi Hanafi. Ia berkali-kali menegaskan bahwa adat Barat dan Timur memang berbeda, tetapi tidak perlu saling merendahkan, dan ia sendiri menghormati adat Minangkabau tempat ia tinggal. Hanafi malah tersinggung dan merasa Corrie memandangnya hina karena hanya seorang bumiputra. Corrie membalas telak: ucapan yang merendahkan bumiputra lebih sering keluar dari mulut Hanafi sendiri.

Di situlah inti tragedinya. Hanafi malu pada dirinya sendiri, bahkan sebelum orang lain sempat menghinanya.

Cinta yang Dihalangi "Kesombongan Bangsa"

Ayah Corrie, Tuan du Bussee, menentang hubungan mereka dengan alasan "kesombongan bangsa". Ironisnya, ia sendiri beristrikan perempuan pribumi. Ia menjelaskan adanya standar ganda: lelaki Barat yang mengambil "nyai" dianggap wajar, bahkan dipandang berjasa memperbaiki keturunan. Sebaliknya, perempuan Barat yang bersuami bumiputra dianggap merendahkan diri dan kehilangan hak sebagai orang Eropa.

Bagian ini terbaca sebagai kritik halus terhadap hierarki kolonial. Cinta tidak pernah berdiri di ruang kosong. Ia selalu bersinggungan dengan tatanan ras yang dibuat penguasa.

Rapiah, Bayangan di Antara Dua Pertemuan

Sebelum pergi ke Jakarta, Corrie mengirim surat yang memintanya memutus hubungan. Hanafi kecewa, merasa dipermainkan, dan jatuh sakit. Ibunya lalu mendesaknya menikahi Rapiah, anak mamaknya yang telah membiayai sekolahnya, dengan alasan utang budi harus dibayar dengan budi. Hanafi menurut dengan satu syarat: Rapiah tidak boleh berharap pada liefde (cinta), hanya pada plicht (kewajiban).

Rapiah diperlakukan tak ubahnya pembantu dan dijelek-jelekkan di depan teman-teman Hanafi. Anak mereka, Syafei, nyaris tak diperhatikan. Luka yang Hanafi tanam di rumah itu kelak ikut menentukan arah kisah cintanya dengan Corrie.

Harga Sebuah "Persamaan Hak"

Setelah digigit anjing gila, Hanafi dibawa berobat ke Betawi. Di sana Corrie mengalami kecelakaan dan Hanafi menolongnya, sehingga harapan lama hidup kembali. Saat Corrie menanyakan kabar Rapiah, Hanafi malah menjelek-jelekkan istri, ibu, dan mamaknya. Corrie termakan ceritanya dan berpendapat bahwa demi kebaikan Rapiah, sebaiknya Hanafi menceraikannya. Hanafi pun mengirim surat cerai, mengajukan persamaan hak dengan orang Eropa, dan memakai nama baru: Christiaan Han. Di atas kertas, ia kini sederajat dengan Corrie.

Kenyataannya tidak sesederhana itu. Corrie justru dilanda kebimbangan, sebab rencana pernikahan mereka ditentang teman-teman sebangsanya. Mereka menikah diam-diam, tetapi rahasia itu terbongkar. Corrie dikucilkan teman-teman Eropanya, sementara Hanafi dijauhi bangsanya sendiri. Rumah tangga mereka digambarkan panas bagai bara api, hingga Corrie memilih bercerai dan pergi. Hanafi menyusulnya, tetapi Corrie bertahan pada pendiriannya, lalu wafat karena kolera. Hanafi pulang ke kampung dengan penyesalan, hanya untuk mendapati anaknya dibawa menjauh. Jiwanya runtuh, dan ia mengakhiri hidupnya.

Ada ironi pahit di ujung kisahnya. Ketika jenazah Hanafi hendak dimakamkan, orang-orang bingung: apakah ia dikubur di pemakaman orang Belanda di Solok, sebab ia sudah "masuk Belanda"? Setelah mufakat ninik mamak, ia dimakamkan di pemakaman kampung. Identitas yang ia tinggalkan akhirnya menjemputnya pulang.

Apa yang Sebenarnya Memisahkan Mereka?

Bukan semata perasaan. Sejak awal, Hanafi yakin Corrie membalas cintanya. Yang menghalangi adalah hal-hal di luar hati: tatanan ras, tekanan lingkungan, dan rasa malu Hanafi pada akarnya sendiri. Pengantar edisi Balai Pustaka 2010 (Denny Prabowo) membaca persoalan Hanafi sebagai gegar budaya: ia merasa sudah menjadi bagian dari bangsa Eropa, lalu meninggalkan akarnya. Ibunya digambarkan arif, dan keluarga Belanda tempat ia menumpang pun orang-orang baik, sehingga keduanya sulit dijadikan kambing hitam.

Pengantar itu juga mengutip pengakuan pengarang. Abdoel Moeis menulis novel ini untuk menjaga pemuda berpendidikan Barat agar tetap berwatak Timur, tanpa bermaksud memperlebar jurang antara dua dunia.

Menjelang akhir, Hanafi sendiri sampai pada kesimpulan pahit: asuhannya "sudah nyata salah dari bermula". Ia sadar, adat yang buruk boleh diganti dengan kebiasaan Barat yang baik, tetapi pondasi asuhan seorang anak Timur tetap harus Timur. Pendidikan Barat bukan musuh. Yang berbahaya adalah silau, lalu malu pada akar sendiri.

Penutup yang Diam-Diam Paling Menohok

Menariknya, novel ini tidak ditutup dengan Hanafi, tetapi dengan sebuah rumah kecil di Solok. Di sanalah ibu Hanafi tinggal bersama Rapiah dan Syafei. Para pelajar dari Betawi yang singgah selalu disambut hangat dan dibekali nasihat: hidup Timur jangan sampai menjadi "sepuhan dari Barat", sekadar lapisan tipis yang mudah luntur. Syafei sendiri berjanji, sepulang dari negeri Belanda kelak, akan kembali meluku sawah ibunya. Sebuah harapan kecil, setelah tragedi yang besar.

Masih Relevan di Zaman Kita

Kita mungkin tidak lagi "masuk Belanda", tetapi godaannya berganti rupa: standar yang dianggap lebih "naik kelas", gaya hidup dari luar, sampai rasa canggung pada bahasa daerah sendiri. Hanafi mengubah status hukum dan namanya demi dianggap sederajat, tetapi tak pernah berdamai dengan dirinya sendiri. Salah Asuhan bukan ajakan anti-asing, melainkan pengingat bahwa cinta, juga identitas, tidak bertahan jika dibangun di atas rasa malu.

Jadi, ketika kita mengubah diri demi diterima, siapa sebenarnya yang kita bawa ke dalam hubungan itu?