Hari Ibu: Sekadar Dirayakan, atau Benar-Benar Dihargai?

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Program Studi Hukum Pidana Islam
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Irsyad Muzhaffar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hari Ibu peringatannya kembali datang. Setiap 22 Desember, ucapan terima kasih mengalir deras di media sosial, disertai foto kebersamaan dan kata-kata penuh cinta. Ibu dipuji, dikenang, dan dirayakan. Namun setelah hari itu berlalu, muncul pertanyaan yang patut direnungkan bersama: apakah penghormatan kepada ibu berhenti pada perayaan, atau benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari?

Di tengah euforia peringatan Hari Ibu, sering kali makna sejatinya justru tereduksi menjadi simbol semata. Padahal, penghargaan kepada ibu seharusnya tidak bersifat musiman, melainkan melekat dalam sikap dan perilaku kita setiap waktu.
A. Ibu dalam Realitas Kehidupan Sehari-hari
Ibu adalah sosok yang kerap memikul peran ganda: mengurus rumah, mendampingi anak, menopang emosi keluarga, bahkan tidak jarang ikut mencari nafkah. Dalam diamnya, terdapat lelah yang jarang terucap. Dalam kesabarannya, tersimpan pengorbanan yang sering kali tidak terlihat.
Sayangnya, banyak dari pengorbanan itu dianggap sebagai kewajaran. Ibu diharapkan selalu kuat, selalu ada, dan selalu mengalah. Ketika ibu lelah, dunia seolah menuntutnya tetap tersenyum. Penghargaan pun sering datang terlambat saat ibu sudah menua, atau bahkan ketika penyesalan tak lagi bisa diungkapkan.
B. Perspektif Hukum Islam: Memuliakan Ibu adalah Kewajiban
Dalam Islam, penghormatan kepada ibu bukan sekadar anjuran moral, melainkan kewajiban agama. Al-Qur’an dan hadis menempatkan ibu pada posisi yang sangat mulia. Bahkan, bakti kepada orang tua terutama ibu disejajarkan dengan perintah tauhid setelah menyembah Allah.
Rasulullah SAW menegaskan keutamaan ibu hingga tiga kali lipat dibanding ayah, menunjukkan betapa besar hak dan kedudukannya. Islam tidak membatasi penghormatan kepada ibu pada momen tertentu, melainkan menuntut konsistensi dalam sikap, tutur kata, dan perlakuan.
Dalam pandangan hukum Islam, berkata lembut, tidak membentak, tidak menyakiti perasaan, serta memenuhi kebutuhan ibu termasuk bagian dari birrul walidain. Maka, jika Hari Ibu hanya berhenti pada ucapan simbolis tanpa perubahan sikap, nilai penghormatan itu menjadi timpang bahkan berpotensi bertentangan dengan esensi ajaran Islam.
Antara Perayaan Modern dan Nilai Keislaman
Merayakan Hari Ibu bukanlah hal yang keliru selama tidak melanggar nilai agama. Namun, perayaan seharusnya menjadi pengingat, bukan pengganti kewajiban. Islam tidak mengenal penghormatan yang bersifat seremonial semata, tetapi menekankan amal nyata yang berkelanjutan.
Memberi hadiah satu hari dalam setahun tidak akan sebanding dengan kesabaran ibu yang diberikan seumur hidup. Oleh karena itu, peringatan Hari Ibu seharusnya menjadi momentum introspeksi sejauh mana kita telah menjalankan kewajiban sebagai anak, bukan sekadar mengekspresikan emosi sesaat.
Solusi: Menghadirkan Penghargaan dalam Tindakan Nyata
Menghargai ibu tidak harus menunggu momen khusus. Dalam perspektif Islam dan kemanusiaan, bentuk penghormatan paling bermakna justru hadir dalam keseharian, seperti:
Bertutur kata lembut dan penuh adab kepada ibu.
Meluangkan waktu untuk mendengar keluh kesahnya.
Membantu meringankan beban fisik dan emosinya.
Tidak meremehkan pendapat serta keputusan ibu.
Mendoakan ibu, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.
Tindakan sederhana ini memiliki nilai ibadah dan dampak emosional yang jauh lebih besar daripada perayaan simbolis.
Penutup
Hari Ibu seharusnya tidak berhenti sebagai agenda tahunan yang ramai diperingati lalu sunyi dalam praktik. Dalam perspektif Islam, menghormati ibu adalah kewajiban sepanjang hayat, bukan pilihan yang bersifat situasional.
Sudah saatnya kita memaknai Hari Ibu bukan hanya sebagai hari perayaan, tetapi sebagai cermin untuk memperbaiki sikap. Dari sekadar ucapan, menuju tindakan. Dari simbol, menuju pengamalan nilai. Sebab, bagi seorang ibu, penghargaan terbesar bukanlah bunga atau unggahan media sosial, melainkan bakti yang tulus dan berkelanjutan dari anak-anaknya.
