Masih Perlukah Kuliah? Membaca Ulang Makna Pendidikan bagi Gen Z

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Program Studi Hukum Pidana Islam
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Muhammad Irsyad Muzhaffar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di sebuah kafe mungil yang nyaris selalu dipenuhi jaringan Wi-Fi stabil dan deretan stopkontak, anak-anak muda tampak larut dalam layar mereka masing-masing. Ada yang mengedit video, mengelola toko daring, membaca artikel akademik, hingga menelusuri peluang kerja. Mereka berasal dari generasi yang sama Gen Z namun tujuan hidup yang dibayangkan sering kali berbeda. Di sela obrolan santai soal masa depan, satu pertanyaan kerap muncul tanpa pernah benar-benar menemukan jawaban final: apakah pendidikan tinggi masih sepenting dulu?
Bagi generasi sebelum mereka, jalur hidup terasa lebih linear. Kuliah dipandang sebagai tahapan wajib: masuk perguruan tinggi, lulus, bekerja, lalu membangun kehidupan secara bertahap. Gelar akademik menjadi simbol keberhasilan sekaligus alat mobilitas sosial. Namun lanskap yang dihadapi Gen Z sangat berbeda. Dunia bergerak lebih cepat, lebih cair, dan penuh ketidakpastian. Internet membuka peluang luas, sekaligus mengaburkan peta lama tentang kesuksesan.
Gen Z tumbuh dengan menyaksikan banyak kisah sukses yang tidak berangkat dari bangku kuliah. Ada yang membangun bisnis dari kamar tidur, menjadi kreator digital dengan audiens besar, atau meraih penghasilan tinggi tanpa ijazah formal. Pada saat yang sama, mereka juga melihat realitas pahit lulusan perguruan tinggi yang kesulitan mendapatkan pekerjaan layak, terjebak status kerja tidak pasti, atau bekerja di bidang yang sama sekali tak berkaitan dengan jurusan kuliah. Kontras inilah yang membentuk cara pandang baru: pendidikan tinggi bukan satu-satunya jalan, melainkan salah satu opsi di antara banyak kemungkinan.
Namun menyebut Gen Z sebagai generasi yang menolak kuliah jelas terlalu sederhana. Yang terjadi sebenarnya adalah perubahan cara memaknai pendidikan tinggi. Bagi mereka, kuliah bukan lagi simbol status sosial, melainkan investasi yang harus rasional. Pertanyaan yang diajukan bukan sekadar soal gelar, tetapi manfaat konkret. Bukan hanya durasi studi, melainkan relevansi kompetensi dengan kebutuhan nyata.
Di mata Gen Z, pendidikan tinggi berada di antara idealisme dan pragmatisme. Banyak dari mereka masih memandang kampus sebagai ruang untuk mengasah nalar kritis, etika, dan kedewasaan intelektual. Kampus diharapkan menjadi tempat belajar berpikir, bukan sekadar menghafal. Namun bersamaan dengan itu, tuntutan akan kejelasan juga menguat: apakah kurikulum mengikuti perkembangan zaman, apakah pengajar memahami realitas industri, dan apakah lulusan benar-benar dipersiapkan menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya.
Kondisi ekonomi global yang penuh gejolak turut membentuk sikap kritis tersebut. Gen Z tumbuh di tengah berbagai krisis mulai dari krisis finansial, pandemi, hingga ancaman perubahan iklim dan disrupsi teknologi. Mereka belajar bahwa stabilitas bisa runtuh sewaktu-waktu. Dalam konteks ini, pendidikan tinggi tidak lagi dipahami sebagai jaminan masa depan, melainkan sebagai salah satu alat untuk bertahan dan beradaptasi. Tak heran jika keterampilan yang fleksibel, lintas bidang, dan aplikatif menjadi semakin diminati.
Bagi sebagian Gen Z, nilai utama pendidikan tinggi justru terletak pada pembentukan cara berpikir. Kampus dipandang sebagai ruang untuk memperluas perspektif, membangun jejaring, dan memahami kompleksitas sosial. Di tengah arus informasi yang deras dan algoritma media sosial yang membentuk opini, kemampuan berpikir kritis dan memahami konteks menjadi semakin penting. Dalam idealnya, pendidikan tinggi menawarkan bekal tersebut.
Namun ada pula yang memandang urgensi kuliah secara lebih selektif. Mereka tidak menolak pendidikan tinggi, tetapi memilih menunda atau mengambil jalur alternatif. Gap year, kursus daring, sertifikasi profesional, hingga pengalaman kerja lebih dulu menjadi pilihan yang dipertimbangkan matang. Keputusan ini kerap lahir dari kesadaran akan biaya, risiko, dan peluang, bukan semata-mata keengganan. Biaya pendidikan yang terus meningkat menjadikan kuliah sebagai keputusan ekonomi besar, terutama bagi mereka yang tak memiliki penyangga finansial.
Di titik inilah pendidikan tinggi diuji sebagai institusi sosial. Apakah kampus masih mampu menjadi ruang yang inklusif dan relevan bagi generasi baru? Apakah ia tetap berfungsi sebagai jembatan mobilitas sosial, atau justru memperlebar kesenjangan? Pertanyaan-pertanyaan ini tak luput dari perhatian Gen Z, generasi yang dikenal memiliki sensitivitas sosial cukup tinggi.
Relasi Gen Z dengan otoritas juga memengaruhi cara mereka memandang pendidikan tinggi. Mereka tumbuh dalam budaya dialog, bukan doktrin. Argumen lebih diterima daripada perintah. Karena itu, sistem pendidikan yang masih kaku, hierarkis, dan minim ruang kritik sering terasa asing. Sebaliknya, lingkungan belajar yang kolaboratif, terbuka, dan menghargai suara mahasiswa lebih selaras dengan karakter mereka.
Pada akhirnya, urgensi pendidikan tinggi bagi Gen Z berkaitan erat dengan pencarian makna hidup. Generasi ini kerap digambarkan tidak hanya mengejar materi, tetapi juga nilai. Mereka menginginkan pekerjaan yang sejalan dengan prinsip, kehidupan yang seimbang, serta kontribusi nyata bagi masyarakat. Dalam kerangka ini, pendidikan tinggi dianggap penting sejauh ia membantu proses pencarian tersebut. Kuliah bukan tujuan akhir, melainkan bagian dari perjalanan memahami diri dan dunia.
Tentu, ekspektasi tinggi ini juga memunculkan kekecewaan ketika kampus gagal menjawabnya. Birokrasi berbelit, kurikulum yang tertinggal, serta jarak antara teori dan praktik membuat sebagian Gen Z meragukan relevansi pendidikan tinggi. Kritik ini semestinya dibaca sebagai refleksi, bukan ancaman.
Menariknya, di tengah kritik tersebut, semangat belajar Gen Z tidak pernah benar-benar padam. Mereka hanya belajar dengan cara berbeda. Podcast, video esai, kelas daring, komunitas belajar mandiri, hingga diskusi digital menjadi bagian dari keseharian mereka. Ini menegaskan bahwa persoalannya bukan pada keengganan belajar, melainkan pada bentuk dan struktur pendidikan itu sendiri. Pendidikan tinggi ditantang untuk bertransformasi bukan melawan internet, tetapi melengkapinya.
Bagi Gen Z, pendidikan tinggi juga berkaitan dengan proses pembentukan identitas. Di tengah dunia yang serba cepat, masa kuliah bisa menjadi jeda untuk bertumbuh: ruang untuk mencoba, gagal, dan belajar tanpa tekanan produktivitas yang berlebihan. Sayangnya, nilai ini sering kurang terkomunikasikan, baik oleh institusi pendidikan maupun oleh narasi publik yang terlalu menekankan hasil instan.
Ketika pertanyaan “apa untungnya kuliah?” terus bergema, jawaban Gen Z cenderung lebih kompleks. Keuntungan tidak selalu diukur dari gaji awal, melainkan dari kemampuan jangka panjang untuk beradaptasi, berpikir kritis, dan berkontribusi. Masalahnya, tidak semua perguruan tinggi mampu memberikan bekal tersebut secara merata. Karena itu, sikap selektif dan kritis menjadi wajar.
Pada akhirnya, cara Gen Z memandang urgensi pendidikan tinggi adalah cerminan perubahan zaman. Mereka tidak menolak pendidikan, tetapi menuntut relevansi. Mereka tidak anti-gelar, tetapi menolak ilusi. Pendidikan tinggi tetap penting, namun tidak lagi diposisikan sebagai sesuatu yang sakral tanpa pertanyaan. Nilainya harus terus dibuktikan di hadapan generasi yang tumbuh dengan banyak pilihan dan kesadaran penuh akan risiko.
Mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apakah pendidikan tinggi masih penting, melainkan seperti apa pendidikan tinggi yang masih relevan. Bagi Gen Z, urgensi itu hadir ketika kampus mampu menjadi ruang belajar yang hidup, adaptif, dan manusiawi bukan hanya mencetak lulusan, tetapi membentuk individu yang berpikir, peduli, dan siap menghadapi dunia yang terus berubah. Dalam realitas yang tak menjanjikan kepastian, pendidikan tinggi masih bisa berperan sebagai kompas: bukan peta yang menjamin tujuan, tetapi alat untuk membaca arah. Dan bagi Gen Z, itu sudah cukup untuk membuatnya tetap bermakna.
