Konten dari Pengguna

Ironi di Balik Cerpen "Dua Hari": Kapan Kita Boleh Bilang Hari Ini Baik?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Rauf Kurnia Nur Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi : Seorang pengendara motor melakukan perjalanan jauh hingga menatap senja. Foto : vr visualrepo/pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi : Seorang pengendara motor melakukan perjalanan jauh hingga menatap senja. Foto : vr visualrepo/pexels

Di balik cerita yang tampak singkat dan sederhana, sebuah cerpen sering kali menyimpan makna yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui rangkaian peristiwa yang dialami tokohnya, pembaca diajak merenungkan bahwa tidak semua kemudahan membawa kebahagiaan, dan kesulitan juga tidak selalu berakhir dengan kegagalan. Cerpen "Dua Hari" menjadi salah satu karya yang menggambarkan bagaimana cara seseorang menghadapi berbagai cobaan dengan sikap sabar, optimis, serta tetap berpikir positif. Namun, apa benar satu rangkaian kejadian buruk berarti seluruh hari akan menjadi buruk? Pertanyaan inilah yang diangkat dalam cerpen "Dua Hari". Melalui kisah sederhana ini, pembaca diajak memahami bahwa cara kita memandang sebuah peristiwa sering kali lebih penting daripada peristiwa itu sendiri.

Cerpen "Dua Hari" karya Bagus Sulistio menceritakan seorang tokoh yang menghadapi berbagai hambatan sejak pagi hari. Mulai dari bangun kesiangan akibat begadang, air di kontrakan yang tidak mengalir, ban motor bocor, hingga terlambat menghadiri rapat karena perjalanan yang macet menyebabkan hari yang seharusnya berjalan biasa berubah menjadi penuh tantangan. Meskipun begitu, tokoh tersebut tidak larut dalam rasa putus asa. Ia tetap berusaha mencari solusi dan menjalani hari dengan pikiran yang positif.

Burhan Nurgiyantoro, dalam buku Teori Pengkajian Fiksi (2018), menyebutkan bahwa penokohan adalah cara pengarang menghadirkan karakter tokoh melalui tindakan, sikap, ucapan, maupun respons terhadap berbagai peristiwa. Berdasarkan teori tersebut, tokoh utama dalam cerpen "Dua Hari" digambarkan sebagai seorang yang selalu berpikir positif dan berusaha mencari jalan keluar meskipun dihadapkan pada berbagai kesulitan. Hal ini terlihat jelas ketika ban motornya kempes di tengah jalan menuju rapat:

"Aku masih sabar melajukan motor dengan cukup pelan. Setengah jam lagi rapat dimulai, aku harus tetap mengutamakan keselamatan."

Kutipan ini menunjukkan bahwa meskipun terdesak waktu, tokoh tetap memilih bersikap tenang dan mengutamakan keselamatan, bukan panik atau ceroboh. Sikap ini sejalan dengan unsur tindakan dan respons terhadap peristiwa. Dalam teori penokohan Nurgiyantoro, menjadi salah satu bukti konkret bahwa karakter tokoh dibangun bukan hanya lewat deskripsi kejadian, melainkan lewat pilihan sikapnya sendiri.

Di tengah perjalanannya menuju kantor setelah ban motornya selesai ditambal, pengarang menuliskan:

"Kata orang, hanya ada dua jenis hari saja di dunia ini: hari baik dan hari buruk. Aku tidak tahu jenis apa yang akan datang pada hari ini."

Kutipan ini menjadi dasar berkembangnya keseluruhan cerita. Dalam cerpen "Dua Hari", tema mengenai hari baik dan hari buruk ini mengikat seluruh rangkaian peristiwa. Berbagai hambatan yang dialami tokoh utama bukan sekadar konflik, melainkan cara pengarang menunjukkan bahwa penilaian terhadap suatu hari bergantung pada cara seseorang menyikapinya. Menariknya, pada bagian ini pengarang juga menyisipkan firasat tokoh sendiri seperti rasa was-was yang merupakan semacam foreshadowing, pertanda dini yang mengarahkan pembaca pada kecelakaan yang akan dialami tokoh di akhir cerita, meskipun tokoh sendiri memilih mengabaikan firasat itu.

Kemudian, pada kutipan menjelang akhir:

"Apakah ini hari baik? Dari beberapa rangkaian kejadian di hari ini, aku bisa pastikan bahwa ini adalah hari baik."

Lalu dihubungkan dengan kutipan penutup, ketika tokoh terlena saat berkendara:

"Awas! Depanmu!"

Kedua kutipan tersebut memperlihatkan ironi yang dialami tokoh. Ketika ia telah yakin bahwa hari itu adalah hari yang baik, justru saat itu pula ia mengalami kecelakaan. Menurut Nurgiyantoro, tema dalam kutipan tersebut merupakan gagasan dasar yang mengikat seluruh unsur cerita. Melalui ironi tersebut, pengarang menegaskan bahwa manusia tidak dapat menentukan baik atau buruknya suatu hari hanya berdasarkan sebagian peristiwa yang dialami. Penilaian tersebut baru dapat dipahami setelah seluruh rangkaian peristiwa berakhir.

Secara keseluruhan, cerpen "Dua Hari" mengajarkan kita bahwa manusia tidak memiliki kendali penuh atas segala peristiwa yang akan terjadi. Ironi yang dialami tokoh yang merasa yakin hari itu baik sesaat sebelum kecelakaan yang menunjukkan bahwa penilaian atas sebuah hari tidak bisa diambil di tengah jalan, melainkan hanya setelah seluruh rangkaian peristiwa selesai. Namun tokoh tidak berhenti pada sikap pasrah semata. Ia menegaskan sendiri sikapnya menghadapi ketidakpastian itu.

"Maka jalan satu-satunya untuk membuktikan hari baik atau buruk yaitu dengan melakukannya."

Kutipan ini memperlihatkan bahwa yang dapat dikendalikan bukan hanya cara menyikapi keadaan, melainkan juga keputusan untuk tetap bertindak meski hasilnya belum diketahui. Hari yang dianggap baik bisa saja berubah menjadi buruk, begitu pula sebaliknya. Melalui kisah sederhana ini, pembaca diajak untuk menerima ketidakpastian hidup sebagai bagian dari perjalanan, karena kita tidak pernah tahu cobaan apa yang menanti kalau tidak mencobanya. Kita hanya dapat bersikap optimis dan aktif menjalani setiap tantangan yang datang.

Daftar Pustaka

Sulistio, B. (2024). Dua Hari. Kompas.id. https://www.kompas.id/artikel/duahari

Nurgiyantoro, B. (2018). Teori Pengkajian Fiksi. Gadjah Mada University Press.