Konten dari Pengguna

Membangun HMI yang Berkelanjutan dan Progresif Sesuai Kebutuhan Zaman

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Raynan Rizky Akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi pengurus HMI FK UB periode 2026/2027. (Sumber: Dokumentasi HMI FK UB)
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi pengurus HMI FK UB periode 2026/2027. (Sumber: Dokumentasi HMI FK UB)

Menjadi bagian dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan hanya tentang menjadi bagian dari sebuah organisasi mahasiswa. Bagi saya, HMI adalah ruang untuk belajar, bertumbuh, mengasah intelektualitas, sekaligus menguji sejauh mana gagasan dapat diterjemahkan menjadi kerja nyata.

Sebagai Ketua Umum HMI Komisariat Kedokteran Universitas Brawijaya, saya melihat bahwa tantangan terbesar HMI hari ini bukan sekadar bagaimana organisasi tetap berjalan, tetapi bagaimana organisasi mampu tetap relevan di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat.

Dunia mahasiswa telah berubah. Cara belajar berubah, cara berkomunikasi berubah, cara masyarakat memperoleh informasi berubah, bahkan bentuk persoalan sosial yang kita hadapi juga semakin kompleks. Karena itu, organisasi mahasiswa tidak cukup hanya mempertahankan pola lama. HMI harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitas dan nilai yang menjadi fondasinya.

Bagi saya, membangun HMI yang progresif tidak berarti meninggalkan tradisi organisasi. Justru sebaliknya, progresivitas harus lahir dari kemampuan membaca zaman dengan tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan yang menjadi karakter HMI.

HMI Harus Mampu Membaca Perubahan

Generasi mahasiswa hari ini tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat. Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik. Artificial intelligence mulai masuk ke ruang pendidikan dan pekerjaan. Isu kesehatan, ekonomi, lingkungan, demokrasi, hingga hak asasi manusia semakin saling terhubung.

Dalam kondisi seperti ini, mahasiswa tidak hanya membutuhkan ruang untuk berkumpul. Mereka membutuhkan organisasi yang mampu membantu mereka memahami perubahan.

HMI harus hadir sebagai ruang intelektual yang membentuk kader agar tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu membaca, mengolah, mengkritisi, dan menghasilkan gagasan.

Kader HMI harus memiliki kemampuan berpikir kritis, kemampuan riset, kemampuan komunikasi, literasi digital, serta keberanian untuk terlibat dalam persoalan masyarakat.

Bagi saya, organisasi yang berkelanjutan adalah organisasi yang mampu menciptakan kader yang kualitasnya terus berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Artinya, keberhasilan sebuah kepengurusan tidak seharusnya diukur hanya dari banyaknya program kerja yang terlaksana. Ukuran yang lebih penting adalah apakah setelah kepengurusan berakhir, terdapat sistem yang lebih baik, kader yang lebih berkembang, dan budaya organisasi yang lebih kuat.

Dokumentasi pelantikan pengurus HMI FK UB periode 2026/2027. (Sumber: Dokumentasi HMI FK UB)

Keberlanjutan Harus Dimulai dari Kaderisasi

HMI memiliki sejarah panjang dalam mencetak kader yang kemudian berkontribusi di berbagai bidang kehidupan. Namun, sejarah tersebut tidak boleh hanya menjadi kebanggaan masa lalu.

Setiap generasi memiliki tugas untuk meneruskan nilai sekaligus menjawab tantangan pada masanya sendiri.

Karena itu, kaderisasi harus menjadi perhatian utama dalam membangun HMI yang berkelanjutan. Kaderisasi tidak boleh berhenti pada forum formal atau pemenuhan tahapan administratif organisasi. Kaderisasi harus menjadi proses pembentukan karakter, intelektualitas, kepemimpinan, dan kepekaan sosial.

Saya percaya bahwa kader HMI harus diberikan ruang untuk mencoba, berdiskusi, melakukan riset, menyampaikan pendapat, bahkan melakukan kesalahan dan belajar darinya.

Kaderisasi yang sehat bukanlah proses untuk menyeragamkan cara berpikir. Sebaliknya, kaderisasi harus melahirkan individu yang memiliki dasar nilai yang kuat sekaligus mampu memiliki cara berpikir yang mandiri.

Di komisariat, hal tersebut menjadi semakin penting karena komisariat merupakan ruang terdekat dengan mahasiswa. Di sinilah proses pembentukan karakter kader berlangsung secara langsung.

Karena itu, komisariat harus menjadi rumah intelektual yang hidup. Bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi ruang untuk membaca realitas, membangun diskursus, dan menghasilkan gagasan.

Muhammad Raynan Rizky Akbar, Ketua HMI FK UB periode 2026/2027. (Sumber: Dokumentasi HMI FK UB)

Dari Tradisi Diskusi Menuju Budaya Riset

HMI dikenal sebagai organisasi yang memiliki tradisi intelektual. Namun di tengah kompleksitas persoalan hari ini, tradisi diskusi saja tidak cukup.

Diskusi harus berkembang menjadi budaya riset.

Ketika membicarakan persoalan kesehatan, misalnya, kader tidak cukup hanya menyampaikan opini. Kita perlu memahami data, membaca penelitian, melihat kebijakan, memahami kondisi masyarakat, lalu menyusun argumentasi berdasarkan bukti.

Hal yang sama berlaku ketika HMI berbicara mengenai persoalan sosial, pendidikan, ekonomi, lingkungan, maupun kebijakan publik.

Saya ingin melihat kader HMI tidak hanya aktif berbicara, tetapi juga mampu menghasilkan tulisan, penelitian, kajian, policy brief, dan berbagai bentuk pengetahuan yang dapat memberikan kontribusi nyata.

Dengan demikian, HMI tidak hanya menjadi organisasi yang menghasilkan aktivis, tetapi juga menghasilkan pengetahuan.

Memanfaatkan Teknologi Tanpa Kehilangan Nilai

Perubahan teknologi juga harus menjadi perhatian organisasi.

Hari ini, organisasi tidak dapat mengabaikan media sosial, platform digital, artificial intelligence, hingga berbagai bentuk teknologi informasi. Semua itu dapat menjadi instrumen untuk memperluas ruang belajar, mempercepat penyebaran gagasan, dan meningkatkan efektivitas organisasi.

Namun teknologi hanyalah alat.

Yang menentukan arah tetap manusia dan nilai yang digunakan untuk mengendalikan alat tersebut.

Karena itu, digitalisasi organisasi bagi saya bukan sekadar membuat akun media sosial atau memindahkan administrasi ke platform digital. Digitalisasi harus menjadi bagian dari transformasi budaya organisasi.

Administrasi harus lebih tertata, dokumentasi harus lebih baik, basis data kader harus terkelola, publikasi harus lebih profesional, dan pengetahuan organisasi harus dapat diwariskan dengan baik kepada generasi berikutnya.

Jangan sampai setiap pergantian kepengurusan membuat organisasi kembali memulai semuanya dari nol.

Pengetahuan organisasi harus menjadi aset bersama yang terus berkembang.

HMI dan Tantangan Mahasiswa Kedokteran

Sebagai bagian dari lingkungan pendidikan kedokteran, saya melihat ada tantangan yang lebih spesifik.

Mahasiswa kedokteran setiap hari berhadapan dengan persoalan akademik yang berat, perkembangan ilmu kedokteran yang cepat, tuntutan profesionalisme, serta realitas sosial kesehatan masyarakat.

Karena itu, kader HMI di lingkungan kedokteran tidak cukup hanya unggul secara akademik.

Kita juga perlu membentuk calon tenaga kesehatan yang memiliki kepekaan sosial dan memahami bahwa ilmu kedokteran pada akhirnya memiliki hubungan erat dengan kehidupan manusia.

Dokter tidak hanya berhadapan dengan penyakit. Dokter berhadapan dengan manusia, keluarga, masyarakat, sistem kesehatan, dan berbagai persoalan sosial yang memengaruhi kesehatan.

Di titik ini, HMI memiliki ruang yang sangat besar untuk membangun tradisi intelektual yang menghubungkan ilmu kedokteran dengan persoalan sosial.

Kader dapat berdiskusi mengenai ketimpangan akses kesehatan, kebijakan kesehatan, kesehatan masyarakat, etika profesi, teknologi kesehatan, hingga berbagai tantangan kesehatan yang muncul akibat perubahan sosial.

Dengan demikian, keberadaan HMI di lingkungan kedokteran memiliki relevansi yang semakin besar.

Organisasi Harus Berani Mengevaluasi Diri

Membangun organisasi yang progresif juga membutuhkan keberanian untuk melakukan evaluasi.

Tidak semua tradisi harus dipertahankan hanya karena sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Begitu pula tidak semua hal baru harus diterima hanya karena dianggap modern.

Keduanya harus diuji berdasarkan kebutuhan dan kemanfaatannya.

Saya percaya bahwa organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu melakukan refleksi secara berkala.

Apa yang sudah berjalan baik harus dipertahankan. Apa yang tidak lagi relevan harus diperbaiki. Apa yang belum dimiliki harus mulai dibangun.

Hal tersebut membutuhkan budaya organisasi yang terbuka terhadap kritik.

Kritik seharusnya tidak dianggap sebagai ancaman terhadap kepemimpinan. Kritik justru merupakan salah satu mekanisme untuk menjaga organisasi agar tidak kehilangan arah.

Ketua umum bukan pemilik organisasi. Pengurus bukan pemilik organisasi. HMI adalah rumah bersama yang dibangun dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, kepemimpinan seharusnya tidak hanya berbicara mengenai kewenangan, tetapi juga mengenai tanggung jawab untuk memastikan organisasi tetap memiliki masa depan.

Progresif Bukan Berarti Kehilangan Identitas

Ada satu hal yang menurut saya harus selalu dijaga dalam proses pembaruan HMI.

Kita boleh beradaptasi dengan teknologi. Kita boleh mengembangkan metode kaderisasi. Kita boleh memperbarui sistem organisasi. Kita boleh membangun jejaring yang lebih luas.

Tetapi seluruh proses tersebut tetap harus berangkat dari nilai.

Progresif bukan berarti mengikuti semua perubahan tanpa batas.

Progresif berarti mampu membaca perubahan, memilih mana yang relevan, kemudian menggunakannya untuk mencapai tujuan organisasi.

Dalam konteks HMI, modernitas dan identitas bukan dua hal yang harus dipertentangkan.

Kita dapat menjadi organisasi yang modern sekaligus tetap memiliki karakter yang kuat.

Kita dapat berbicara mengenai artificial intelligence sekaligus membicarakan etika.

Kita dapat membahas perkembangan teknologi kesehatan sekaligus membicarakan keadilan sosial.

Kita dapat aktif di ruang digital sekaligus tetap membangun kedekatan dengan masyarakat.

Di sanalah menurut saya relevansi HMI akan terus menemukan bentuknya.

Menjadikan HMI sebagai Rumah yang Terus Bertumbuh

Pada akhirnya, membangun HMI yang berkelanjutan bukan pekerjaan satu periode kepengurusan.

Satu periode mungkin hanya cukup untuk memulai perubahan. Tetapi keberlanjutan membutuhkan sistem, budaya, dan komitmen lintas generasi.

Sebagai Ketua Umum HMI Komisariat Kedokteran Universitas Brawijaya, saya melihat bahwa tugas kepengurusan bukan sekadar menjalankan program kerja, melainkan menyiapkan fondasi agar generasi setelah kami dapat melanjutkan sesuatu yang lebih baik.

Kami tidak harus menyelesaikan seluruh persoalan organisasi dalam satu periode.

Yang jauh lebih penting adalah meninggalkan sistem yang lebih tertata, kader yang lebih siap, budaya intelektual yang lebih kuat, dan keberanian untuk terus melakukan pembaruan.

HMI harus menjadi organisasi yang mampu hidup di zamannya sendiri.

Bukan hanya mengulang cerita masa lalu, tetapi terus melahirkan cerita baru.

Bukan hanya mempertahankan eksistensi, tetapi memberikan kontribusi.

Bukan hanya membentuk kader untuk hari ini, tetapi menyiapkan kader yang mampu menghadapi persoalan masa depan.

Karena bagi saya, keberlanjutan HMI tidak diukur dari seberapa lama organisasi ini bertahan.

Keberlanjutan diukur dari seberapa mampu setiap generasi membuat HMI tetap relevan bagi zamannya.

Dan progresivitas bukan sekadar keberanian untuk berubah.

Progresivitas adalah keberanian untuk terus belajar, mengevaluasi, memperbaiki, dan memastikan bahwa setiap perubahan membawa organisasi semakin dekat dengan tujuan perjuangannya.