Cara Publik Speaking dan Story Telling Membantu Anak Memasarkan Produk

Saya seorang Mahasiswa Univeritas Pamulang Program Studi Manajemen yang memiliki minat di bidang bisnis, manajemen, dan pengembangan sumberdaya manusia
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari MUHAMMAD BAHY SALWA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita melihat seorang anak yang sebenarnya memiliki banyak ide, tetapi tiba-tiba terdiam ketika diminta berbicara di depan orang lain? Mereka mungkin mengetahui apa yang ingin disampaikan, bahkan memahami produk yang ingin diperkenalkan, tetapi rasa malu dan gugup sering kali membuat mereka kesulitan mengungkapkannya.
Situasi seperti ini menunjukkan bahwa kemampuan berbicara bukan hanya tentang merangkai kata. Ada rasa percaya diri, keberanian, dan kemampuan menyampaikan pesan yang perlu dilatih sejak dini. Terlebih ketika anak mulai diperkenalkan dengan kegiatan kewirausahaan, seperti menjelaskan atau memasarkan produk hasil karya mereka sendiri.
Di tengah kehidupan yang semakin kompetitif, keterampilan komunikasi menjadi bekal penting bagi anak untuk mengembangkan potensi diri. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui *public speaking* dan *storytelling*. Keduanya bukan sekadar keterampilan berbicara, melainkan juga sarana untuk membantu anak mengenali kemampuannya, menyampaikan gagasan, dan berani tampil di hadapan orang lain.
Ketika Rasa Malu Menjadi Tantangan untuk Berani Tampil
Bayangkan seorang anak yang sedang mengikuti kegiatan bazar. Di hadapannya terdapat produk yang ingin diperkenalkan kepada calon pembeli. Ia mengetahui nama produk tersebut dan memahami kegunaannya, tetapi ketika seseorang bertanya, ia justru menjawab dengan suara pelan atau merasa gugup.
Kondisi seperti ini menjadi gambaran tantangan yang dapat dihadapi anak ketika harus berbicara di depan umum. Masalahnya bukan selalu karena mereka tidak memahami produk, tetapi bisa juga karena belum terbiasa menyampaikan informasi secara jelas dan meyakinkan.
Hal tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan oleh tim dari Program Studi Manajemen Universitas Pamulang di Yayasan Pundi Amal Dermawan Indonesia. Kegiatan yang berlangsung pada 24–28 September 2025 ini berfokus pada pengembangan keterampilan *public speaking* dan *storytelling* untuk meningkatkan kepercayaan diri anak dalam memasarkan produk.
Berdasarkan hasil pengamatan awal yang dijelaskan dalam jurnal, sebagian anak masih memiliki kepercayaan diri yang rendah, belum memahami teknik komunikasi secara efektif, dan mengalami kesulitan menyusun cerita kreatif untuk mendukung promosi produk. Keterbatasan pelatihan terstruktur juga membuat mereka belum memperoleh cukup kesempatan untuk mengembangkan keterampilan tersebut.
Dari sinilah pelatihan dirancang, bukan hanya agar anak mampu berbicara, tetapi juga supaya mereka dapat menyampaikan ide dan memperkenalkan produk dengan cara yang lebih menarik.
Public Speaking Bukan Sekadar Berbicara di Depan Orang Banyak
Bagi sebagian orang, *public speaking* mungkin identik dengan pidato di atas panggung atau presentasi formal. Padahal, keterampilan ini juga dapat diterapkan dalam kegiatan sederhana sehari-hari, termasuk memperkenalkan diri, menjelaskan sesuatu kepada teman, hingga menawarkan produk kepada calon pembeli.
Dalam konteks pemasaran, kemampuan berbicara membantu seseorang menyampaikan informasi tentang produk secara jelas dan meyakinkan. Produk yang baik perlu dijelaskan dengan cara yang mudah dipahami agar calon pembeli mengetahui manfaat dan keunggulannya.
Anak-anak pun dapat mempelajari hal tersebut melalui latihan yang sesuai dengan usia mereka. Mereka dapat belajar mengatur intonasi suara, mengelola pernapasan, melakukan kontak mata, menggunakan ekspresi wajah, serta memperhatikan bahasa tubuh.
Keterampilan tersebut tidak harus langsung dikuasai dalam satu kali latihan. Anak membutuhkan kesempatan untuk mencoba, melakukan kesalahan, menerima masukan, dan mencoba kembali.
Dalam kegiatan pelatihan di Yayasan Pundi Amal Dermawan Indonesia, proses pembelajaran dimulai dengan pengenalan dasar *public speaking*, permainan, diskusi, dan latihan sederhana. Pendekatan interaktif ini membantu menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman sehingga anak memiliki kesempatan untuk berpartisipasi secara aktif.
Hal yang perlu dipahami adalah keberanian tidak selalu muncul secara spontan. Terkadang, keberanian tumbuh dari pengalaman kecil ketika seorang anak berhasil menyelesaikan kalimatnya di depan teman-teman, berani mengangkat tangan, atau mencoba berbicara meskipun masih merasa gugup.
Storytelling: Mengubah Penjelasan Produk Menjadi Cerita yang Menarik
Selain kemampuan berbicara, ada keterampilan lain yang dapat membuat kegiatan pemasaran menjadi lebih menarik, yaitu *storytelling* atau seni menyampaikan cerita.
Bayangkan dua cara memperkenalkan sebuah produk. Cara pertama hanya menyebutkan nama dan kegunaan produk. Cara kedua menjelaskan produk melalui cerita singkat tentang proses pembuatannya, ide di balik produk tersebut, atau manfaat yang ingin diberikan kepada orang lain.
Keduanya sama-sama menyampaikan informasi, tetapi cerita dapat memberikan konteks yang membuat pesan lebih mudah diikuti dan diingat.
Dalam pemasaran, *storytelling* membantu menghubungkan informasi produk dengan pengalaman atau emosi audiens. Namun, cerita yang menarik tetap perlu disampaikan secara jujur dan sesuai dengan karakteristik produk.
Prinsip ini juga dapat diterapkan dalam pembelajaran anak. Mereka tidak hanya diajak menghafal kalimat promosi, tetapi juga belajar menyusun cerita dengan urutan yang jelas, memilih kata-kata yang tepat, dan menghubungkan cerita dengan nilai produk yang ingin diperkenalkan.
Dalam pelatihan tersebut, anak-anak mengikuti lokakarya kreatif untuk menyusun cerita singkat tentang produk hasil karya mereka. Setelah itu, mereka berlatih mempresentasikan cerita tersebut dengan gaya masing-masing.
Melalui kegiatan ini, anak memperoleh ruang untuk berkreasi. Mereka dapat belajar bahwa menjelaskan produk tidak harus selalu menggunakan kalimat yang kaku. Informasi dapat disampaikan dengan bahasa sederhana, ekspresi yang sesuai, dan cerita yang dekat dengan pengalaman mereka.
Lima Hari Belajar, dari Mengenali Diri hingga Memasarkan Produk
Pelatihan yang berlangsung selama lima hari tersebut disusun secara bertahap. Setiap tahap memiliki fokus berbeda agar anak dapat memahami materi sekaligus menerapkannya melalui praktik.
Pada hari pertama, peserta diperkenalkan dengan dasar-dasar *public speaking* dan pentingnya kepercayaan diri. Kegiatan diawali dengan permainan untuk membangun suasana belajar yang nyaman, dilanjutkan dengan motivasi, diskusi, dan latihan berbicara sederhana.
Memasuki hari kedua, anak mulai mempelajari teknik dasar berbicara, mulai dari intonasi suara, pengaturan napas, kontak mata, ekspresi wajah, hingga bahasa tubuh. Mereka juga berlatih melalui permainan peran agar semakin terbiasa tampil di hadapan orang lain.
Hari ketiga menjadi kesempatan bagi peserta untuk mengembangkan kreativitas melalui *storytelling*. Anak belajar menyusun alur cerita, menggunakan emosi secara tepat, dan menghubungkan cerita dengan nilai produk yang ingin dipasarkan.
Pada hari keempat, keterampilan yang telah dipelajari mulai diterapkan dalam simulasi pemasaran dan presentasi produk. Anak mempraktikkan cara memperkenalkan produk di hadapan pendamping dan teman sebaya. Mereka juga memperoleh masukan untuk memperbaiki cara penyampaian.
Hari kelima digunakan untuk evaluasi, refleksi, dan pembahasan tindak lanjut. Kemampuan peserta dinilai melalui penampilan mereka, sehingga perkembangan dalam berbicara dan menyampaikan cerita dapat diamati.
Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa pembelajaran komunikasi membutuhkan proses. Anak tidak hanya menerima teori, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mencoba dan menerapkan keterampilan secara langsung.
Dari Rasa Gugup Menuju Keberanian Menyampaikan Ide
Salah satu hal menarik dari kegiatan ini adalah perkembangan peserta yang diamati selama pelatihan. Pada awal kegiatan, sebagian anak terlihat malu, ragu, dan belum memahami cara menyusun pembicaraan dengan struktur pembukaan, isi, dan penutup.
Setelah mengikuti latihan melalui permainan suara dan perkenalan diri, mereka mulai menunjukkan ketertarikan serta partisipasi yang lebih aktif.
Pada tahap berikutnya, latihan teknik vokal, ekspresi wajah, kontak mata, dan penyusunan cerita memberi kesempatan kepada anak untuk mencoba berbagai cara berbicara. Beberapa peserta bahkan mulai menunjukkan spontanitas dalam bercerita dan berimprovisasi.
Perkembangan tersebut berlanjut ketika anak mempresentasikan produk dalam simulasi pemasaran. Mereka terlihat lebih lancar berbicara, mampu menyusun cerita secara lebih runtut, serta memilih kata-kata yang lebih tepat.
Dalam penampilan akhir, peserta tidak hanya menunjukkan keberanian untuk berbicara di hadapan teman dan pendamping, tetapi juga mulai mampu menggunakan kalimat ajakan untuk memperkenalkan produk secara lebih alami.
Hasil yang dilaporkan dalam jurnal tersebut menunjukkan perkembangan positif dalam kepercayaan diri, kemampuan berbicara di depan audiens, dan keterampilan menyusun narasi pemasaran yang kreatif.
Meski demikian, perkembangan ini bukan berarti rasa gugup akan hilang sepenuhnya. Hal yang lebih penting adalah anak memperoleh pengalaman dan keterampilan untuk menghadapi rasa gugup tersebut, sehingga mereka memiliki bekal untuk terus berlatih.
Dukungan Lingkungan Menjadi Bagian Penting dari Proses Belajar
Keberanian anak untuk tampil tidak hanya dipengaruhi oleh materi pelatihan. Lingkungan belajar yang mendukung juga memiliki peran penting.
Ketika anak melakukan kesalahan saat berbicara, respons orang-orang di sekitarnya dapat memengaruhi kemauan mereka untuk mencoba kembali. Jika kesalahan langsung menjadi bahan ejekan, anak mungkin semakin takut untuk tampil. Sebaliknya, masukan yang membangun dapat membantu mereka memahami bagian yang perlu diperbaiki tanpa merasa kehilangan kepercayaan diri.
Dalam kegiatan ini, pendamping memberikan penguatan positif dan kesempatan kepada peserta untuk menerima masukan dari teman sebaya. Dukungan tersebut membantu menciptakan pengalaman belajar yang lebih nyaman.
Prinsip ini dapat diterapkan pula di rumah dan sekolah. Orang tua dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk menceritakan pengalaman sehari-hari, sedangkan guru dapat melibatkan mereka dalam presentasi sederhana atau permainan peran.
Anak juga dapat diajak memperkenalkan benda yang mereka sukai, menjelaskan hasil karya, atau bercerita tentang kegiatan yang baru dilakukan. Latihan sederhana seperti ini dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan berkomunikasi.
Dengan memberikan ruang untuk mencoba dan berkembang, orang dewasa membantu anak memahami bahwa kemampuan berbicara bukan bakat yang hanya dimiliki sebagian orang, melainkan keterampilan yang dapat dilatih.
Mengapa Keterampilan Ini Penting untuk Masa Depan Anak?
Kemampuan *public speaking* dan *storytelling* memiliki manfaat yang melampaui kegiatan pemasaran. Anak yang terbiasa menyampaikan gagasan dapat memperoleh pengalaman untuk berkomunikasi, bekerja sama, dan mengekspresikan pendapat dengan lebih terarah.
Dalam dunia pendidikan, keterampilan tersebut dapat membantu anak ketika melakukan presentasi atau berdiskusi. Dalam kegiatan sosial, kemampuan komunikasi dapat mendukung interaksi dengan orang lain. Sementara itu, dalam kewirausahaan, kemampuan menjelaskan produk menjadi bekal untuk memperkenalkan hasil karya kepada calon pembeli.
Pengalaman memasarkan produk juga memberi anak kesempatan untuk belajar tentang kreativitas, tanggung jawab, dan cara memahami kebutuhan orang lain. Mereka tidak hanya belajar menawarkan sesuatu, tetapi juga belajar menjawab pertanyaan, menerima masukan, dan menyampaikan informasi secara jujur.
Karena itu, pelatihan seperti yang dilakukan di Yayasan Pundi Amal Dermawan Indonesia dapat menjadi salah satu contoh pengembangan keterampilan nonakademik yang bermanfaat bagi anak.
Agar dampaknya berkelanjutan, kegiatan serupa perlu didukung dengan latihan rutin, pendampingan, dan kesempatan praktik dalam situasi nyata. Materi juga dapat dikembangkan dengan komunikasi persuasif, improvisasi, dan presentasi kreatif sesuai kebutuhan peserta.
Penutup: Setiap Anak Berhak Mendapat Kesempatan untuk Berani
Kisah pelatihan *public speaking* dan *storytelling* di Yayasan Pundi Amal Dermawan Indonesia mengingatkan kita bahwa mengembangkan kemampuan anak tidak cukup hanya dengan memberikan pengetahuan. Mereka juga membutuhkan ruang untuk mencoba, kesempatan untuk berlatih, dan dukungan ketika menghadapi kesulitan.
Melalui kegiatan yang berlangsung selama lima hari, anak-anak memperoleh pengalaman untuk mengenali potensi diri, menyampaikan cerita, dan mempraktikkan cara memperkenalkan produk. Perkembangan yang dilaporkan menunjukkan bahwa pendekatan interaktif dan praktik langsung dapat membantu anak menjadi lebih berani dalam berkomunikasi.
Pada akhirnya, tujuan melatih anak berbicara bukan sekadar membuat mereka pandai menyampaikan promosi atau menawarkan produk. Lebih dari itu, keterampilan tersebut dapat menjadi bekal agar mereka berani mengemukakan ide, menghargai proses belajar, dan percaya bahwa pendapat mereka layak untuk disampaikan.
Sebab, di balik setiap anak yang berani berbicara, ada proses belajar yang membutuhkan waktu dan dukungan. Dan mungkin, satu kesempatan sederhana untuk bercerita hari ini dapat menjadi langkah awal bagi mereka untuk tampil lebih percaya diri pada masa depan.
