Konten dari Pengguna

KKN UMY Hadirkan Pelatihan Affiliate Marketing Pemuda Desa Dusun Babadan

Muhammad Luthfi Pratama Batubara

Muhammad Luthfi Pratama Batubara

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Luthfi Pratama Batubara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi KKN Persyarikatan Muhammadiyah UMY setelah memberikan pemaparan program kerja KKN tentang soft-skill meliputi affiliate, penggunaan dasar Canva, serta penggunaan AI dengan bijak di Dusun Babadan, Sendangtirto, Berbah, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (19/8/2026).
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi KKN Persyarikatan Muhammadiyah UMY setelah memberikan pemaparan program kerja KKN tentang soft-skill meliputi affiliate, penggunaan dasar Canva, serta penggunaan AI dengan bijak di Dusun Babadan, Sendangtirto, Berbah, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (19/8/2026).

Pentingnya Affiliate Marketing Pemuda Desa di Era Digital

Di era digital saat ini, program pelatihan affiliate marketing pemuda desa menjadi langkah nyata mahasiswa KKN UMY dalam mendampingi anak muda Dusun Babadan. Di Dusun Babadan, pemandangan anak-anak muda yang berkumpul sambil menggenggam smartphone sudah menjadi hal yang lumrah, meski mayoritas dari mereka masih sebatas menjadi konsumen visual. Melihat potensi besar tersebut, lewat rangkaian program kerja KKN UMY, para pemuda desa di Dusun Babadan diajak untuk melangkah lebih jauh. Berbekal smartphone di tangan dan koneksi internet, mereka didorong untuk meraih peluang pendapatan mandiri melalui program Affiliate Marketing.

Menjadi seorang affiliate creator pada dasarnya mirip dengan tradisi warga desa yang suka merekomendasikan hal-hal baik ke tetangga atau teman. Bedanya, dalam dunia digital, setiap kali ada orang yang membeli produk melalui tautan khusus yang dibagikan, sang kreator akan mendapatkan komisi atau uang jasa. Skema ini sangat cocok untuk pemuda desa karena tidak membutuhkan modal untuk stok barang maupun kerumitan mengurus pengiriman. Banyak anak muda di Dusun Babadan yang awalnya merasa ragu karena belum lihai mengedit video, bingung mencari ide, atau mengira harus memiliki puluhan ribu followers dan kamera mahal. Padahal, algoritma platform saat ini jauh lebih mengutamakan kejujuran, relevansi, dan keunikan ide konten ketimbang jumlah pengikut, sehingga HP seadanya di sudut desa pun sudah lebih dari cukup untuk memulai langkah pertama.

Untuk mempermudah proses pembuatan konten, para pemuda desa dibekali dua alat bantu digital serba praktis, yaitu penggunaan dasar aplikasi Canva dan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI). Lewat Canva, mereka diajarkan cara membuat cover video yang memikat, menambahkan teks visual yang jelas, serta menata template promosi langsung dari HP tanpa keahlian desain grafis tingkat lanjut. Sementara itu, teknologi AI dikenalkan sebagai asisten pribadi yang membantu merancang ide konten, menyusun skrip ucapan video secara otomatis, hingga membuat kalimat promosi yang menarik hanya dengan memasukkan kata kunci sederhana. Bantuan teknologi ini membuat pembuatan konten yang tadinya memakan waktu lama kini bisa diselesaikan dalam hitungan menit.

Selain penguasaan alat bantu digital, para pemuda Dusun Babadan juga dibekali strategi dasar dalam mengeksekusi konten affiliate. Mereka diarahkan untuk memilih niche produk yang sesuai dengan hobi atau kehidupan harian di desa, menguasai teknik tiga detik pertama (hook) untuk memancing perhatian penonton, menyajikan ulasan jujur dan lugas agar membangun kepercayaan audiens, serta mengolah satu produk menjadi beragam sudut pandang konten seperti video unboxing, uji ketahanan, hingga menjawab pertanyaan netizen di kolom komentar.

Memulai karier sebagai affiliate creator kini tidak lagi mengenal batasan geografis maupun kerumitan teknis. Dengan kemudahan dari Canva dan AI, pemuda dari Dusun Babadan punya peluang yang sama besarnya dengan anak-anak muda di kota besar untuk meraih penghasilan mandiri. Kunci utamanya terletak pada konsistensi, keberanian untuk mulai berkarya dari sudut desa, serta pola pikir yang berfokus memberikan manfaat bagi penonton. Pada akhirnya, konten yang berhasil bukanlah konten dengan kamera paling canggih, melainkan konten yang paling jujur dan mampu menjawab kebutuhan audiensnya.