Dari Kursi Pelanggan, Kita Merasa Paham Bisnis Kopi. Benarkah?

Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Muhammad Thoha Alfaridzi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hampir semua orang yang rutin ngopi pernah punya pikiran ini: “Kedai ini selalu ramai. Kalau saya buka yang serupa, pasti jalan.”
Saya pun pernah berpikir begitu. Kita hafal menu favorit, tahu kursi paling nyaman, dan bisa menilai kedai mana yang pelayanannya ramah. Dari kursi pelanggan, semuanya tampak jelas dan sederhana.
Pertanyaannya, apakah pengalaman sebagai pelanggan cukup untuk memahami bisnisnya? Menurut saya, belum. Dan justru karena kopi begitu dekat dengan keseharian kita, perasaan “sudah paham” itu mudah muncul.
Mengapa Budaya Ngopi Begitu Memikat
Daya tarik budaya ngopi, menurut pengamatan saya, berakar pada kebutuhan akan tempat bertemu yang santai. Bagi mahasiswa dan pekerja muda, kedai menjadi pilihan di luar rumah, kampus, atau kantor. Ada yang datang untuk mengerjakan tugas, ada pula yang hanya ingin menghabiskan waktu bersama teman.
Ajakan “ngopi dulu” juga terasa ringan. Tidak perlu acara khusus atau percakapan serius. Pelanggan mungkin datang karena minumannya, tetapi kembali karena merasa nyaman dan diterima.
Pintu masuknya pun lebar. Laporan Coffee Annual dari Layanan Pertanian Luar Negeri Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA Foreign Agricultural Service) edisi Mei 2026 menyebut kopi susu sebagai minuman yang populer bagi konsumen baru dan tersedia luas melalui kedai maupun produk siap minum. Laporan itu juga menggambarkan adanya peminat kopi murah dari pedagang keliling serta konsumen gerai di ruang publik, termasuk Generasi Z. Artinya, budaya ngopi tidak identik dengan kafe mahal berinterior estetik. Ada ragam harga dan tempat untuk kebutuhan yang berbeda.
Media sosial ikut memperkuatnya. Foto minuman dan video suasana kedai membuat orang mengenal pengalaman minum kopi sebelum datang langsung. Namun, terlalu sederhana jika semua ini dianggap sekadar ikut-ikutan. Orang bisa datang pertama kali karena unggahan teman, lalu kembali karena cocok dengan harga, rasa, atau pelayanannya. Tren memperkenalkan sebuah kedai, tetapi pengalaman pelanggan yang menentukan kelanjutannya.
Dari Meja Pelanggan, Ide Itu Muncul
Kedai di sekitar kampus, kawasan perkantoran, dan permukiman mempertemukan anak muda dengan kegiatan usaha secara langsung. Dari meja pelanggan, mereka memperhatikan cara barista melayani pesanan, menu yang paling sering dipesan, hingga promosi yang ditawarkan. Pertanyaan “mengapa kedai ini ramai?” pun berkembang menjadi pertanyaan tentang lokasi, harga, dan kebutuhan konsumen.
Pengamatan semacam itu berharga sebagai pembelajaran informal. Akan tetapi, di sinilah jebakannya.
Yang Tidak Terlihat dari Kursi Pelanggan
Kita tahu kursi mana yang paling nyaman, tetapi belum tentu tahu apakah pendapatan kedai cukup untuk membayar sewanya.
Kedai yang penuh pada akhir pekan belum tentu seramai itu sepanjang minggu. Antrean saat promosi belum tentu berarti keuntungan besar. Pengunjung melihat bagian depan, sedangkan pemilik harus memikirkan semua yang terjadi di belakangnya: bahan yang harus dipesan, kualitas yang harus dijaga, karyawan yang harus dikelola, dan keluhan yang harus ditanggapi. Saat penjualan sepi pun, sebagian biaya tetap berjalan.
Jadi, jawaban sementara saya untuk pertanyaan pada judul: pelanggan memahami pengalamannya, tetapi belum tentu memahami bisnisnya.
Pasar Besar Tetap Butuh Hitungan
Besarnya pasar kopi memang menumbuhkan optimisme. Dalam laporan Mei 2026 tadi, USDA memperkirakan konsumsi kopi Indonesia pada tahun pemasaran 2026/2027 mencapai 4,83 juta kantong berukuran 60 kilogram, naik dari 4,81 juta kantong pada tahun sebelumnya. Perlu dicatat, angka ini merupakan proyeksi konsumsi nasional dalam berbagai bentuk, bukan penjualan kedai.
Besarnya konsumsi nasional tidak menjawab apakah sebuah kedai akan berhasil di lokasi tertentu. Mahasiswa yang ingin duduk berjam-jam membutuhkan fasilitas yang berbeda dari pekerja yang membeli kopi sebelum masuk kantor. Perbedaan itu memengaruhi lokasi, kecepatan layanan, harga, dan biaya operasional.
Kesalahan yang menurut saya perlu dihindari adalah terlalu cepat meniru usaha yang tampak sukses. Interior, nama menu, dan kemasan mudah diamati, sedangkan alasan bisnis di baliknya jauh lebih sulit dipahami. Pertanyaan tentang konsep kedai seharusnya diikuti pertanyaan tentang konsumennya. Tempat seperti apa yang mereka butuhkan? Harga berapa yang masuk akal? Mengapa mereka memilih kita ketika pilihan lain begitu banyak?
Antusias Saja Tidak Cukup
Di media sosial, hidup sebagai pemilik kedai tampak menyenangkan: meracik minuman, bertemu banyak orang, dan membangun tempat sesuai selera. Gambaran itu bisa menginspirasi, tetapi perlu dilengkapi dengan pemahaman tentang kerja sehari-harinya.
Kesiapan berwirausaha, bagi saya, mulai terlihat ketika seseorang mau mempelajari bagian-bagian yang tidak fotogenik itu. Antusiasme perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan menghitung, mencatat, dan mengevaluasi.
Data literasi keuangan menunjukkan pentingnya proses belajar ini. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026 yang diumumkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat indeks literasi keuangan kelompok usia 18 sampai 25 tahun sebesar 73,32 persen, sedangkan indeks inklusinya 95,69 persen. Inklusi di sini mengukur penggunaan produk dan layanan keuangan. Angka ini tidak mengukur kesiapan membuka kedai, tetapi menunjukkan bahwa menggunakan layanan keuangan dan memahami keuangan merupakan dua hal yang berbeda. Hal yang sama berlaku pada kebiasaan minum kopi dan pemahaman tentang bisnis kopi.
Belajar bisa dimulai dari hal sederhana, yaitu menghitung biaya satu produk, memisahkan uang pribadi dan uang usaha, serta memahami selisih antara pendapatan kotor dan keuntungan.
Dari Kursi Pelanggan ke Ruang Belajar
Hubungan antara kedai dan pembelajaran kewirausahaan memiliki contoh konkret. Pada 2024, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkenalkan tiga kafe sebagai ruang praktik mahasiswa untuk mempelajari pengelolaan usaha, mulai dari pemasaran, sumber daya manusia, hingga bisnis berkelanjutan.
Program itu tidak membuktikan bahwa kebiasaan nongkrong dengan sendirinya melahirkan pengusaha. Yang menghubungkan keduanya adalah pengalaman mengelola dan proses belajar. Pendekatan seperti ini, menurut saya, patut diperluas. Kampus dan komunitas dapat membantu anak muda menguji ide melalui uji coba penjualan, pendampingan pencatatan keuangan, atau pengalaman bekerja di usaha yang sudah berjalan.
Anak muda juga perlu diberi ruang untuk mengubah rencana setelah belajar. Menemukan bahwa sebuah konsep belum layak merupakan hasil evaluasi yang berharga. Minat pada kopi pun dapat disalurkan melalui banyak peran, seperti barista, pemasok, pengolah biji kopi, atau penyedia jasa bagi pelaku usaha.
Jadi, Benarkah Kita Paham?
Dari kursi pelanggan, kita memang merasa sudah memahami bagaimana sebuah kedai kopi seharusnya berjalan. Kita bisa menilai rasa kopi, kenyamanan tempat, keramahan pelayanan, hingga suasana yang membuat pelanggan ingin datang kembali. Bahkan, tidak jarang kita membayangkan bahwa membuka kedai kopi sendiri adalah sesuatu yang menyenangkan. Kita bisa menentukan konsep tempat, memilih menu, mengatur dekorasi, dan menciptakan suasana sesuai keinginan. Namun, apakah pengalaman sebagai pelanggan sudah cukup untuk membuat kita benar-benar memahami bisnis kedai kopi?
Kenyataannya, apa yang terlihat dari meja pelanggan hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan proses bisnis. Di balik secangkir kopi yang kita nikmati, ada berbagai perhitungan dan tanggung jawab yang harus dijalankan. Pemilik kedai harus memikirkan harga bahan baku, biaya listrik, sewa tempat, gaji karyawan, perawatan peralatan, hingga strategi menghadapi persaingan. Belum lagi risiko ketika jumlah pelanggan menurun, harga bahan baku meningkat, atau penjualan tidak mampu menutupi biaya operasional. Hal-hal tersebut sering kali tidak terlihat oleh pelanggan yang datang hanya untuk menikmati kopi dan suasana.
Di sinilah pentingnya membedakan antara menyukai kopi dan memahami bisnis kopi. Menjadi penikmat kopi tidak otomatis membuat seseorang siap menjadi pengusaha kedai kopi. Selera yang baik memang dapat membantu menciptakan produk berkualitas, tetapi menjalankan usaha membutuhkan kemampuan yang lebih luas. Seorang pemilik kedai tidak hanya dituntut mampu menyajikan kopi yang enak, melainkan juga harus memahami pengelolaan keuangan, manajemen persediaan, pelayanan pelanggan, pemasaran, serta pengambilan keputusan ketika usaha menghadapi masalah.
Karena itu, pengalaman dari balik meja kasir justru menjadi pelajaran yang tidak kalah penting dibandingkan pengalaman duduk sebagai pelanggan. Bekerja sebagai barista, mengikuti pelatihan, mengamati operasional kedai, atau belajar langsung dari pelaku usaha dapat membuka pemahaman tentang bagaimana bisnis tersebut sebenarnya berjalan. Dari pengalaman itu, seseorang akan menyadari bahwa keberhasilan sebuah kedai tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pelanggan yang datang, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kualitas, mengendalikan pengeluaran, dan mempertahankan keuntungan secara berkelanjutan.
Ada satu hal yang perlu dipahami, yaitu kedai yang ramai belum tentu menghasilkan keuntungan besar. Banyaknya pesanan tidak selalu sebanding dengan pendapatan bersih yang diperoleh. Jika biaya operasional terlalu tinggi, pengelolaan bahan baku tidak efisien, atau harga jual tidak diperhitungkan dengan tepat, usaha tetap berisiko mengalami kerugian meskipun terlihat ramai setiap hari. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan bisnis tidak cukup diukur melalui apa yang tampak dari luar, tetapi juga dari kondisi keuangan dan kemampuan usaha bertahan dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, mimpi memiliki kedai kopi sendiri tentu bukan sesuatu yang salah. Justru mimpi tersebut dapat menjadi awal yang baik untuk membangun usaha. Namun, mimpi perlu diimbangi dengan kesiapan, pengetahuan, pengalaman, dan keberanian untuk menghadapi kenyataan yang tidak selalu sesuai dengan bayangan. Membuka kedai kopi bukan sekadar menghadirkan tempat yang estetik, menyajikan minuman yang enak, atau menciptakan ruang nongkrong yang nyaman. Lebih dari itu, membuka kedai berarti siap bertanggung jawab atas setiap keputusan dan risiko yang muncul dalam menjalankan usaha.
Menurut saya, persoalan utamanya bukan terletak pada boleh atau tidaknya seseorang bermimpi memiliki kedai kopi, melainkan pada seberapa jauh ia bersedia memahami kenyataan di balik mimpi tersebut. Kita tidak bisa menganggap sebuah bisnis mudah hanya karena kita menikmati hasil akhirnya. Sebab, menjadi pelanggan dan menjadi pemilik usaha adalah dua posisi yang memiliki tanggung jawab berbeda. Pelanggan cukup memutuskan apakah kopi tersebut layak dibeli, sedangkan pemilik harus memastikan bahwa kopi tersebut layak dijual, mampu menghasilkan keuntungan, dan membuat usahanya tetap berjalan.
Jadi, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan lagi sekadar, “Apakah saya ingin memiliki kedai kopi sendiri?”, melainkan, “Apakah saya siap memahami dan menjalankan seluruh proses yang membuat kedai kopi itu mampu bertahan?” Sebab, menyukai suasana kedai kopi adalah satu hal, tetapi membangun dan mempertahankan bisnisnya adalah hal lain. Mimpi dapat menjadi alasan seseorang memulai usaha, tetapi pengetahuan, perhitungan, kedisiplinan, dan kemampuan beradaptasilah yang menentukan apakah usaha tersebut dapat bertahan. Pada akhirnya, kita baru benar-benar memahami dunia kedai kopi ketika tidak hanya menikmati apa yang tersaji di meja, tetapi juga mengerti perjuangan, keputusan, dan tanggung jawab yang berlangsung di baliknya.
Sumber Rujukan
1. USDA Foreign Agricultural Service. Coffee Annual: Indonesia. Mei 2026.
2. Otoritas Jasa Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan, dan Badan Pusat Statistik. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Tahun 2026.
3. Universitas Gadjah Mada. Mengenal Tiga Café FEB UGM, Café untuk Pembelajaran Kewirausahaan Mahasiswa. 2024.
