PKS Pabatu Gelar Simulasi Tanggap Darurat Kebakaran, Libatkan Mahasiswa UINSU
Tulisan dari Muhhammad Al Fahri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PTPN IV Regional II yang berlokasi di Pabatu, Tebing Tinggi, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, menggelar simulasi tanggap darurat kebakaran pada Selasa (8/9). Kegiatan ini diikuti sekitar 25 peserta, terdiri dari pekerja dan pegawai PKS Pabatu.
Selain internal perusahaan, simulasi ini juga melibatkan 5 mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) yang tengah menjalani Latihan Kerja Peminatan (LKP) bidang Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di lokasi tersebut.
Simulasi ini digelar di tengah situasi karhutla yang masih menjadi perhatian nasional. BMKG menyatakan September 2026 masih menjadi fase kritis kebakaran hutan dan lahan akibat kondisi kering dan pengaruh El Niño. Sejumlah provinsi, termasuk Sumatera Selatan yang berbatasan dengan Sumatera Utara, masih melaporkan titik panas baru hingga awal September ini.
Di tengah situasi tersebut, PKS Pabatu menunjukkan komitmen kesiapsiagaan lewat kegiatan yang rutin digelar sesuai Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, yang mewajibkan setiap tempat kerja memiliki upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Simulasi semacam ini bukan kegiatan insidental, melainkan bagian dari agenda kesiapsiagaan tanggap darurat yang dijalankan perusahaan secara berkala.
"Di tempat kita simulasi itu wajib dilakukan satu tahun sekali, berlandaskan peraturan perundang undangan di Indonesia mengenai SMK3. Untuk manfaatnya ya banyak, karna tidak semua orang mengerti cara memakai apar dan hydrant, jadi dengan adanya simulasi ini pekerja jadi mengerti cara memakai apar dan hydrant sebagai upaya tanggap darurat jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan,” Suprapto Wijaya, Krani Dokumen Sistem dan Sertifikasi PKS Pabatu.
Kegiatan diawali dengan apel pagi seluruh peserta. Dalam apel tersebut disampaikan pengarahan mengenai pentingnya kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat, termasuk materi dasar tanggap darurat kebakaran di lingkungan industri pengolahan kelapa sawit.
Kegiatan ini merujuk pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, yang mewajibkan setiap tempat kerja memiliki upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran.
Usai apel, peserta mendapat demonstrasi sekaligus praktik langsung penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Mulai dari teknik menarik pin pengaman, mengarahkan nozzle ke sumber api, hingga menyemprotkan media pemadam dengan gerakan menyapu.
Kemampuan menggunakan APAR menjadi keterampilan dasar yang penting dimiliki setiap pekerja. APAR berfungsi sebagai alat pemadam tahap awal untuk mengendalikan kebakaran kecil sebelum api membesar dan sulit dikendalikan.
Simulasi dilanjutkan dengan praktik pemadaman api menggunakan goni basah. Metode ini menjadi teknik sederhana untuk memadamkan api skala terbatas, khususnya saat APAR tidak tersedia atau sebagai langkah pendukung.
Peserta diajarkan cara membasahi goni secara merata serta teknik menutup sumber api agar suplai oksigen ke titik api dapat diminimalkan, sekaligus tetap memperhatikan keselamatan diri selama proses pemadaman.
Sebagai puncak rangkaian, peserta mengikuti simulasi penggunaan sistem hidran yang tersedia di lingkungan PKS Pabatu. Peserta diperkenalkan pada tata cara pengoperasian hidran, mulai dari penyambungan selang, pengaturan tekanan air, hingga teknik pengarahan semprotan air ke titik api.
Sesi ini menekankan pentingnya koordinasi dan kekompakan tim, mengingat penggunaan hidran umumnya membutuhkan kerja sama lebih dari satu orang agar proses pemadaman berjalan efektif dan aman. Ketentuan mengenai sarana proteksi kebakaran seperti hidran diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor Per-186/MEN/1999.
Salah satu mahasiswa yang mengikuti LKP di PKS Pabatu, Muhammad Ramadhan Ginting, yang menjabat sebagai Ketua LKP, mengaku simulasi ini menjadi pengalaman berharga untuk menerapkan langsung materi K3 yang dipelajari di kampus.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami, tidak hanya mendapat materi namun kami juga dapat mempraktikkan secara langsung apa yang kami pelajari di ruang kelas, ini menjadi pengalaman berharga" ujar Ramadhan.
Suprapto menambahkan, keterlibatan mahasiswa dalam simulasi semacam ini turut menjadi sarana memahami secara langsung sistem tanggap darurat dan kesiapsiagaan kebakaran yang diterapkan di lingkungan kerja perusahaan perkebunan.

