Dari Tren TikTok ke Keranjang Belanja: Pengaruh Media Sosial terhadap Keputusan

Halo, Saya Muilan Mahasiswa dari Universitas Pamulang Prodi S1 Manajemen
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Muilan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda membeli sesuatu hanya karena melihatnya di TikTok? Mungkin sebuah produk perawatan kulit yang katanya "viral", gelas minum dengan desain lucu, atau pakaian yang dipakai kreator favorit. Awalnya hanya menonton selama beberapa detik, tetapi tidak lama kemudian ponsel sudah menampilkan halaman checkout. Pengalaman seperti ini begitu umum sehingga kita jarang menyadari bahwa ada proses psikologis dan strategi bisnis yang bekerja di baliknya.
Dalam kajian manajemen perilaku konsumen, keputusan pembelian pada dasarnya melewati beberapa tahap, pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan membeli, dan perilaku pasca pembelian. Dahulu tahapan ini berjalan relatif panjang. Konsumen mencari informasi, membandingkan harga, bertanya kepada kerabat, lalu memutuskan. Media sosial memadatkan semua proses itu menjadi hitungan menit, bahkan detik.
Salah satu perubahan terbesar adalah cara kebutuhan muncul. Dulu orang membeli karena merasa membutuhkan. Kini, banyak kebutuhan justru "diciptakan" oleh konten yang melintas di beranda. Kita tidak sedang mencari botol minum baru, tetapi setelah tiga video berturut-turut menampilkan botol yang sama, tiba-tiba botol lama terasa ketinggalan zaman.
Di sinilah algoritma berperan. Platform seperti TikTok belajar dari kebiasaan menonton penggunanya, lalu menyajikan konten yang paling mungkin menahan perhatian. Bagi pelaku usaha, ini peluang emas karena produk dapat sampai ke calon pembeli yang tepat tanpa biaya iklan yang besar. Bagi konsumen, ini pedang bermata dua: kita merasa memilih secara bebas, padahal pilihan itu sudah disaring dan diarahkan.
Faktor lain yang tidak kalah kuat adalah bukti sosial (social proof). Ulasan, jumlah penjualan, kolom komentar yang ramai, hingga testimoni kreator membuat sebuah produk tampak sudah teruji. Manusia cenderung percaya pada apa yang dipilih banyak orang. Ketika sebuah produk dipuji ribuan akun, kita merasa risikonya kecil.
Ditambah lagi rasa takut tertinggal atau FOMO (fear of missing out). Label "stok terbatas", hitung mundur flash sale, dan tagar yang sedang naik daun mendorong kita bertindak cepat sebelum sempat berpikir panjang. Fitur belanja yang terintegrasi langsung di dalam aplikasi mempersingkat jarak antara rasa ingin dan transaksi. Tidak perlu berpindah aplikasi, tidak perlu waktu untuk menimbang ulang.
Influencer dan kreator konten juga mengubah cara konsumen memandang promosi. Rekomendasi dari seseorang yang terasa dekat sering lebih dipercaya daripada iklan konvensional. Kedekatan ini bersifat parasosial: kita merasa mengenal sang kreator karena rutin menontonnya, padahal hubungannya satu arah. Akibatnya, ajakan membeli terasa seperti saran teman, bukan bujukan penjual.
Masalahnya, tidak semua rekomendasi lahir dari pengalaman tulus. Sebagian merupakan konten berbayar yang tidak selalu diungkapkan dengan jelas. Di titik inilah literasi konsumen menjadi penting.
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa pengaruh media sosial semata-mata buruk. Bagi UMKM, media sosial adalah jalan pintas untuk menjangkau pasar yang luas tanpa modal promosi besar. Banyak usaha kecil di Indonesia tumbuh karena satu video yang kebetulan viral. Konsumen pun diuntungkan karena bisa menemukan produk lokal yang menarik dan melihat pengalaman pengguna lain secara terbuka.
Namun, kemudahan ini punya sisi gelap, yaitu perilaku konsumtif. Pembelian impulsif meningkat ketika proses membeli terlalu mudah dan godaannya datang setiap hari. Tidak sedikit orang menyesal setelah paket tiba karena barang tersebut ternyata jarang dipakai atau tidak sesuai ekspektasi. Penyesalan pascapembelian ini juga bagian dari perilaku konsumen yang sering luput dibahas.
Lalu, apa yang bisa dilakukan? Bagi konsumen, jeda sederhana sering kali cukup efektif. Tanyakan pada diri sendiri "Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini, atau hanya terpengaruh suasana?" Menunda keputusan beberapa jam atau satu hari, membandingkan dengan ulasan dari sumber lain, dan memeriksa apakah sebuah konten bersifat promosi dapat membantu mengurangi pembelian yang disesali.
Bagi pelaku bisnis, memahami perilaku konsumen tidak boleh berhenti pada bagaimana mendorong orang membeli sebanyak mungkin. Bisnis yang bertahan lama adalah bisnis yang jujur dalam promosi dan menjual produk yang sesuai dengan janjinya. Kepercayaan yang rusak karena promosi berlebihan akan jauh lebih mahal harganya daripada penjualan sesaat.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat. Ia dapat memperluas pilihan dan membuka peluang, tetapi juga dapat menggiring kita membeli tanpa berpikir. Perjalanan dari tren TikTok ke keranjang belanja memang hanya sejauh satu ketukan jari, tetapi keputusan di ujung ketukan itu tetap sepenuhnya milik kita. Di era ketika perhatian menjadi komoditas, menjadi konsumen yang sadar adalah bentuk kendali yang paling berharga.
