Konten dari Pengguna

Sabut Pinang, Limbah yang Bisa Bikin Minyak Kelapa Jadi Bahan Bakar Lebih Baik

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muji Setiyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Uji nyala api minyak kelapa dengan perlakuan arang sabut pinang, foto: AIS Indonesia
zoom-in-whitePerbesar
Uji nyala api minyak kelapa dengan perlakuan arang sabut pinang, foto: AIS Indonesia

Indonesia punya minyak kelapa yang melimpah. Sudah lama minyak ini dilirik sebagai bahan bakar nabati pengganti solar atau minyak tanah. Kendalanya sederhana: minyak kelapa mentah itu kental, sehingga susah dinyalakan.

Cara mengatasinya ternyata tidak harus mahal. Penelitian terbaru dari Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ) menunjukkan bahwa limbah sabut pinang bisa membantu.

Ditambahkan dalam jumlah sangat kecil

Tim peneliti yang dipimpin Helen Riupassa, bersama Apner Bless, Hendry Y. Nanlohy, dan Selcuk Sarikoc dari Amasya Üniversitesi, Turki, mengolah sabut pinang menjadi arang aktif. Arang ini lalu dipakai sebagai katalis, yaitu zat yang mempercepat reaksi tanpa ikut habis terpakai.

Jumlah yang ditambahkan sangat kecil, hanya 1 sampai 3 ppm (part per million). Artinya, cukup satu sampai tiga bagian katalis untuk setiap sejuta bagian minyak.

Sebagai pembanding, tim juga menguji silika–alumina. Katalis sintetis ini sudah lama dipakai di industri pengolahan minyak bumi.

Diuji satu tetes demi satu tetes

Pengujiannya dilakukan di Laboratorium Teknik Bahan Bakar dan Teknologi Pembakaran USTJ. Setetes kecil campuran minyak kelapa dan katalis, hanya 0,001 mL, digantung pada ujung sensor suhu. Tetesan itu kemudian dinyalakan dengan kawat pemanas.

Setiap nyala api direkam dengan kamera, dari saat menyala sampai padam. Suhunya dicatat secara real time. Setiap variasi diulang lima kali agar hasilnya bisa dipercaya.

Hasilnya: masing-masing punya keunggulan

Minyak kelapa yang dicampur arang sabut pinang terbakar lebih cepat dan lebih panas. Suhu nyalanya mencapai sekitar 700–720 °C. Laju pelepasan panasnya pun sekitar 8–10% lebih tinggi daripada campuran dengan katalis sintetis.

Penyebabnya, arang aktif sabut pinang membuat minyak kelapa lebih encer. Struktur arangnya yang berpori juga membantu bahan bakar menyerap panas, sehingga lebih mudah menguap dan bereaksi.

Kekurangannya, nyala api dengan arang sabut pinang lebih singkat, hanya sekitar 1,7–2 detik. Hasil terbaik didapat pada konsentrasi 2 ppm.

Katalis sintetis silika–alumina menunjukkan sifat sebaliknya. Suhu puncaknya lebih rendah, sekitar 650–665 °C, tetapi nyalanya lebih stabil dan lebih lama, hingga 2,16 detik pada konsentrasi 3 ppm. Panasnya juga turun lebih perlahan setelah mencapai puncak.

Singkatnya, arang sabut pinang unggul soal kecepatan dan intensitas pembakaran, sedangkan silika–alumina unggul soal kestabilan.

Peluang dari limbah pertanian

Bagian yang paling menarik dari penelitian ini adalah bahan bakunya. Sabut pinang selama ini lebih sering dibuang atau dibakar begitu saja. Penelitian ini menunjukkan bahwa limbah tersebut bisa diolah menjadi katalis murah untuk memperbaiki kualitas pembakaran minyak nabati mentah.

Menurut para peneliti, temuan ini bisa dimanfaatkan pada kompor atau tungku (burner) dan sistem pembakaran skala kecil. Peluang ini relevan untuk daerah penghasil kelapa dan pinang, termasuk Papua dan wilayah Indonesia timur lainnya.

Penelitian ini masih tahap laboratorium. Para peneliti menyarankan pengujian dengan rentang konsentrasi yang lebih luas. Mereka juga ingin mencoba menggabungkan kedua katalis, untuk melihat apakah kecepatan arang sabut pinang dan kestabilan silika–alumina bisa didapat sekaligus.

Hasil penelitian ini telah terbit di jurnal Scientific Experiences in Energy and Thermal Engineering (SEETE) Vol. 1 No. 1 (2027) dan dapat dibaca lengkap melalui https://doi.org/10.68252/seete.15.