Kenapa Banyak Orang Ingin Jadi Agen Properti, tetapi Tidak Bertahan Lama?

Founder RumahAgen - Master of Technobiomedic - Unair, Senior data analyst in food industry, Ex-Bankers, Ex-penulis majalah jalan-jalan "infobackpakers".
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari mujtahid aktanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ini adalah kisah inspiratif dari founder aplikasi Rumahagen. Dari sebuah kegagalan sebagai agen properti menjadi sebuah aplikasi yang menjadi solusi untuk banyak agen properti

Ini adalah adalah kisah asli dari founder Rumahagen, sebuah aplikasi prop-tech untuk membantu para agen properti dalam menjalankan bisnisnya. Dimana founder Rumahagen awalnya adalah seorang programmer yang ingin menambah penghasilan dengan menjadi freelance agen properti. Awalnya hanya sebagai agen individu, karena ternyata hasilnya tidak berkembang, bukannya menyerah tapi justru nekat mendaftar menjadi agen professional di agency ternama. “mungkin karena tidak punya nama besar merk agency sehingga pelanggan tidak percaya untuk bertransaksi dengan saya”. Tapi setelah bergabung dengan agency properti ternama, ternyata belum memiliki hasil yang diharapkan. Tentu dengan berbagai macam kendala.
Pada satu momen, Founder Rumahagen bertemu dengan salah satu investor yang menawarkan ingin membeli secara franchise sebuah kantor merk agency properti ternama di Indonesia dan menawarkan founder Rumahagen menjadi principal di cabang agency tersebut. Dengan tanpa ragu dia meninggalkan seluruh pekerjaannya dan fokus menekuni bisnis kantor agency properti. Namun ternyata hambatan yang di hadapi juga berbeda dan kian kompleks. Mulai dari merekrut, membina, menjalankan operasional dan segala kompleksitasnya yang berujung kegagalan kembali. kegagalan tersebut membuat investor memutuskan menunjuk principal lain menggantikannya.
Disinilah Founder Rumahagen mulai berpikir sejenak dan melihat pain point dan perjalanan panjang menjadi seorang agen properti . Berbekal pengalaman dan kemampuan membuat aplikasi sebelumnya, dia sehingga memutuskan membuat aplikasi yang bisa membantu para agen untuk berhasil.dan Kini rumahagen hadir sebagai aplikasi wajib bagi para agen properti.
Perjalanan panjang seorang agen properti
Saya beberapa kali bertemu dan berbagi cerita dengan orang yang tertarik menjadi agen properti. Biasanya alasannya hampir sama.
“Kerjanya fleksibel ya?”
“Kalau berhasil jual satu rumah, komisinya lumayan.”
“Atau mungkin ini bisa jadi pekerjaan sampingan?”
Saya bisa memahami kenapa profesi ini menarik.
Menjadi agen properti memang terlihat sederhana dari luar. Ada rumah yang mau dijual, ada calon pembeli, kemudian tinggal mempertemukan keduanya.
Tapi setelah melihat lebih dekat bagaimana seorang agen bekerja, saya mulai melihat persoalan yang berbeda.
Menjadi agen properti ternyata bukan hanya soal bisa menjual rumah. Ada orang yang baru mulai dan bingung harus mencari listing dari mana. Ada yang sudah punya banyak listing, tetapi tidak tahu bagaimana mendapatkan calon pembeli. Ada juga yang semangat selama beberapa minggu. Rajin posting, rajin menawarkan properti, menghubungi calon pembeli. Lalu perlahan berhenti.
Bukan karena mereka tidak mau bekerja. Kadang mereka hanya tidak tahu harus melanjutkan dari mana. Dan menurut saya, di situlah masalahnya.
Dari sini saya mulai bertanya kepada diri sendiri: kalau seseorang ingin membangun karier sebagai agen properti, siapa yang sebenarnya membantu dia berkembang?
Portal properti membantu mempertemukan listing dengan pencari properti. Platform iklan membantu mendapatkan exposure. Aplikasi komunikasi membantu berhubungan dengan calon pembeli.
Tetapi bagaimana dengan proses seseorang dari belum tahu apa-apa, menjadi agen pemula, kemudian menjadi agen profesional, membangun jaringan, masuk organisasi, sampai akhirnya mampu menghasilkan transaksi secara konsisten?
Saya kemudian mencoba mencari data tentang berapa banyak agen yang akhirnya berhenti.
Salah satu angka yang sering muncul di berbagai tulisan industri adalah bahwa sebagian besar agen baru tidak bertahan dalam jangka panjang. Angka “87%” bahkan sering dikutip.
Tetapi saya tidak ingin begitu saja mengatakan bahwa 87% agen properti di Indonesia gagal. Saya tidak menemukan dasar yang cukup kuat untuk menyebut angka tersebut sebagai statistik nasional Indonesia.
Yang menarik, ada penelitian longitudinal terhadap 5.304 broker yang memberikan gambaran lain: sekitar 13% keluar setelah tahun pertama, sekitar 22% setelah tahun kedua, dan sekitar setengahnya sudah tidak lagi aktif setelah delapan tahun.
Bagi saya, angka tersebut bukan sekadar statistik.
Angka itu membuat saya berpikir: mungkin persoalannya bukan hanya bagaimana mendapatkan transaksi pertama, tetapi bagaimana membuat seseorang mampu bertahan dan berkembang sebagai agen?
Dari pertanyaan itulah RumahAgen mulai saya bayangkan.
Saya tidak ingin membuat satu lagi website yang hanya menjadi tempat memasang iklan rumah.
Jadi, dalam pikiran saya, RumahAgen bukan hanya tempat untuk mencari properti. RumahAgen ingin menjadi tempat bagi seseorang untuk tumbuh sebagai agen properti.
Saya tidak tahu apakah konsep ini nantinya akan berjalan sempurna.
Tetapi saya percaya ada satu hal yang layak dicoba:
bagaimana kalau teknologi tidak hanya membantu agen menjual properti, tetapi juga membantu mereka belajar, bekerja, membangun jaringan, dan bertahan lebih lama?
Menjadi agen properti terlihat mudah dari luar. Tapi setelah menjalaninya, saya melihat ada persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar menjual rumah.
Kenapa banyak orang tertarik menjadi agen properti, tetapi tidak semuanya bisa bertahan?
Awalnya saya mengira jawabannya sederhana. Mungkin karena mereka tidak berhasil menjual rumah.
Tapi ternyata persoalannya tidak sesederhana itu.
Ada orang yang sebenarnya punya kemampuan komunikasi yang baik. Ada yang punya banyak teman dan jaringan. Ada juga yang rajin menggunakan media sosial.
Tetapi setelah beberapa waktu, aktivitasnya mulai berkurang. Yang awalnya setiap hari mencari listing, mulai jarang posting. Yang sebelumnya rajin menghubungi calon pembeli, mulai berhenti melakukan follow-up. Sampai akhirnya profesi agen properti tersebut hanya menjadi sesuatu yang pernah dicoba.
Saya kemudian mulai berpikir, jangan-jangan masalahnya bukan hanya soal kemampuan menjual.
Mungkin ada persoalan yang lebih mendasar.
Bagaimana seseorang yang baru mulai menjadi agen bisa tahu harus belajar apa, melakukan apa, menggunakan alat apa, dan berkembang ke tahap berikutnya?
Menjadi agen ternyata bukan hanya soal punya listing
Kalau kita melihat dunia properti, kita akan menemukan begitu banyak informasi mengenai rumah, apartemen, tanah, perumahan, investasi, harga, lokasi, sampai pembiayaan.
Tetapi dari sisi agen, pekerjaannya tidak berhenti ketika sebuah listing sudah dibuat.
Justru setelah listing dibuat, pekerjaan sebenarnya baru dimulai.
Agen harus mencari calon pembeli. Kemudian melakukan komunikasi. Menjawab pertanyaan. Melakukan follow-up. Mengatur jadwal. Membuat janji bertemu. Menjelaskan kelebihan dan kekurangan properti. Kadang mengadakan open house. Belum lagi kalau calon pembelinya membutuhkan pembiayaan. Agen juga perlu memahami hal-hal yang berkaitan dengan KPR, karena keputusan membeli rumah sering kali tidak hanya ditentukan oleh harga rumah, tetapi juga kemampuan pembeli mendapatkan pembiayaan.
Jadi kalau dipikir-pikir, pekerjaan agen sebenarnya cukup kompleks.
Namun yang sering terlihat dari luar hanyalah satu hal:
“Agen jual rumah dan dapat komisi.”
Padahal proses di belakangnya jauh lebih panjang.
Apa yang sebenarnya membuat seorang agen bisa bertahan lebih lama dibandingkan agen lainnya? Apakah hanya karena mereka lebih pintar menjual? Saya rasa tidak.
Mungkin karena mereka punya sistem kerja yang lebih baik? Mungkin karena mereka punya komunitas? Mungkin karena mereka terus belajar? Mungkin karena mereka mempunyai mentor?Atau mungkin karena mereka menemukan lingkungan yang membuat mereka merasa tidak bekerja sendirian?
Dari sini saya mulai melihat masalah yang berbeda.
Bayangkan seseorang baru ingin menjadi agen properti. Dia mungkin sudah punya semangat. Sudah punya smartphone.Sudah punya media sosial. Bahkan mungkin sudah mendapatkan satu atau dua listing dari teman. Tetapi setelah itu?
Dia mungkin bertanya:
“Listing saya harus dipasarkan di mana?”
“Bagaimana cara mendapatkan calon pembeli?”
“Bagaimana melakukan follow-up?”
“Kalau calon pembeli tidak membalas, harus bagaimana?”
“Bagaimana membuat konten properti yang menarik?”
“Bagaimana mengadakan open house?”
“Bagaimana saya bisa belajar menjadi agen yang profesional?”
Dan yang paling penting:
“Setelah saya menjadi agen, saya harus berkembang ke mana?”
Pertanyaan terakhir ini yang menurut saya cukup penting.
Karena menjadi agen seharusnya bukan perjalanan yang berhenti pada transaksi pertama. Seharusnya ada perjalanan berikutnya yaitu konsistensi.
Teknologi sudah banyak membantu industri properti. Orang sekarang bisa mencari rumah melalui internet. Listing bisa dipasang secara digital. Calon pembeli bisa melihat foto dan informasi properti tanpa harus datang terlebih dahulu. AI juga mulai membantu membuat konten, menjawab pertanyaan, sampai mengotomatisasi beberapa pekerjaan.
Tapi ada satu hal yang menurut saya masih sangat penting. Yaitu Manusianya.
Seorang agen tetap harus membangun kepercayaan. Tetap harus memahami kebutuhan calon pembeli. Tetap harus mampu berkomunikasi. Tetap harus membangun hubungan dengan pemilik properti, developer, dan calon pembeli.
Karena itu saya melihat AI bukan sebagai pengganti agen. Saya lebih melihat AI sebagai asisten bagi agen. Agen yang menggunakan teknologi dengan baik mungkin justru bisa bekerja lebih cepat dan lebih terorganisasi.
Lalu sebenarnya apa yang dibutuhkan agen baru?
Kalau saya harus menjawabnya sekarang, saya tidak akan mengatakan bahwa agen membutuhkan lebih banyak listing saja.
Menurut saya, agen membutuhkan kombinasi beberapa hal.
Mereka membutuhkan tempat untuk belajar. Mereka membutuhkan alat untuk bekerja. Mereka membutuhkan akses terhadap listing. Mereka membutuhkan cara untuk mendapatkan dan mengelola calon pembeli. Mereka membutuhkan jaringan. Mereka membutuhkan komunitas. Mereka membutuhkan kesempatan untuk bekerja sama dengan organisasi dan developer. Dan mereka juga membutuhkan jalur untuk berkembang.
Karena mungkin persoalan terbesar seorang agen baru bukan:
“Bagaimana saya menjual rumah?” Tetapi “Bagaimana saya membangun karier dari profesi ini?”
RumahAgen dimulai dari pertanyaan sederhana
Saya tidak tahu apakah semua yang saya bayangkan tentang RumahAgen nantinya akan berjalan sempurna.
Startup tidak pernah sesederhana membuat aplikasi lalu menunggu orang datang.
Tetapi saya percaya satu hal.
Kalau teknologi bisa membantu orang mencari rumah, seharusnya teknologi juga bisa membantu orang yang pekerjaannya membantu orang lain menemukan rumah.
Itulah yang ingin saya coba membangun RumahAgen.
Bukan hanya membantu agen menjual properti, tetapi membantu seseorang belajar menjadi agen, bekerja sebagai agen, membangun jaringan, meningkatkan kemampuan, dan pada akhirnya berkembang menjadi profesional di industri properti.
Karena mungkin seorang agen tidak hanya membutuhkan tempat untuk memasang listing.
Mereka juga membutuhkan tempat untuk bertumbuh.
Dan dari pemikiran sederhana itulah RumahAgen dimulai.
RumahAgen juga masih punya tantangan
Saya tidak ingin mengatakan bahwa membuat platform seperti RumahAgen adalah sesuatu yang mudah. Justru tantangannya cukup besar. Platform seperti ini membutuhkan pengguna. Membutuhkan agen yang mau mencoba. Membutuhkan developer yang mau bekerja sama. Membutuhkan agency yang mau bergabung. Dan yang paling penting, membutuhkan kepercayaan.
Karena pada akhirnya, sebanyak apa pun fitur yang dibuat, sebuah platform tidak akan berarti banyak kalau tidak memberikan manfaat nyata bagi penggunanya.
Karena itu saya melihat RumahAgen masih sebagai sebuah perjalanan. Masih akan banyak yang diperbaiki. Masih akan banyak masukan yang harus didengarkan. Dan masih banyak hal yang harus dibuktikan.
