Guru Takkan Tergantikan AI: Guru Membentuk Manusia, AI Membentuk Mesin

Mahasiswi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Defa Suci Muzdalifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Zaman terus menerus mengalami kemajuan. Membawa banyak sekali perubahan bagi kehidupan manusia melalui perkembangan teknologi yang dibawanya. Memberikan pengaruh terhadap berbagai bidang. Salah satu produk teknologi yang memberikan pengaruh signifikan bagi kehidupan adalah AI atau kecerdasan buatan.
Dalam dunia pendidikan, AI digunakan secara masif oleh para peserta didik. Dilansir dari puslapdik.kemendikdasmen.go.id, Meutya Hafid selaku Menteri Komunikasi Digital mengungkapkan, berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Tirto dan Jakpat, ditemukan bahwa sebanyak 87% pelajar Indonesia sudah memanfaatkan teknologi AI untuk membantu mereka dalam penyelesaian tugas-tugas sekolah.
Melansir dari kompasiana.com, bukti masifnya penggunaan AI dalam pendidikan diperkuat pula oleh hasil survei EdTech 2025 Kemendikbudristek yang mencatat bahwa sebanyak 43% sekolah menengah di kota besar telah menggunakan setidaknya satu platform pembelajaran berbasis AI. Dampak yang diberikan adalah peningkatan rata-rata nilai siswa sebanyak 12% setelah enam bulan, menurut laporan Pusat Asesmen & Pembelajaran (Pusmenjar) 2024.
Melihat dari data di atas yang menjadi bukti penguat bahwa AI telah merasuk sangat dalam terhadap dunia pendidikan, menimbulkan pertanyaan dalam benak kita, akankah AI sepenuhnya mengambil alih peran dalam pendidikan? Akankah peran guru dapat dengan mudah tergantikan oleh AI?
Jawabannya adalah, tidak. Peran guru dalam dunia pendidikan tidak akan bisa dan tidak akan pernah tergantikan oleh AI.
Mengapa Peran Guru dalam Dunia Pendidikan Tidak Akan Pernah Bisa Tergantikan Oleh AI?
Melihat maraknya penggunaan AI dalam dunia pendidikan mungkin membuat kita berpikir bahwa kehadiran AI dapat dengan mudah menggantikan posisi guru dalam belajar mengajar. Namun, perlu kita ketahui bersama bahwasannya esensi pendidikan tidak hanya terpaku pada sejauh mana peserta didik dapat memahami teori pembelajaran. Akan tetapi sejauh mana peserta didik dapat menjadi manusia seutuhnya dengan intelektual dan karakter yang baik.
AI memang bisa menjadi alat yang mampu menjelaskan berbagai teori kepada para siswa, tetapi AI tidak akan pernah mampu untuk menuntun serta membentuk manusia secara utuh. Pendidikan bukan hanya sekedar proses transfer ilmu. Menurut pandangan Ki Hajar Dewantara, pendidikan merupakan proses “menuntun” segala kekuatan kodrat yang ada pada anak, supaya mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Kodrat tersebut hanya dapat dihidupkan melalui sentuhan manusia.
Sejatinya, esensi pendidikan hanya dapat dijalankan melalui peran guru. AI dapat menjadi salah satu alat bantu dalam pengajaran. Tetapi peran utama pendidik tetap hanya akan bisa dijalankan oleh guru. AI tidak memiliki intuisi dan juga pengalaman hidup (tacit knowledge), apabila peserta didik hanya mengandalkan bimbingan AI, dapat dipastikan bahwa yang akan terbentuk bukanlah manusia, melainkan mereka hanya akan terbentuk menjadi mesin yang mengetahui banyak hal, namun miskin daya berpikir kritis, kecerdasan emosional, dan kreativitas.
Pembentukan karakter peserta didik untuk dapat menjadi manusia seutuhnya hanya dapat dilakukan oleh guru. Hanya gurulah yang mampu menanamkan etika dan jiwa sosial kepada peserta didik. Selain itu, AI tak akan pernah mampu untuk memahami kondisi psikologis peserta didik. Hanya guru yang memiliki kemampuan membaca kondisi psikologis anak. Misalnya ada anak yang selalu diam dan sulit mengikuti pembelajaran di kelas, guru dapat membaca situasi tersebut dengan mencari tahu faktor penyebabnya, sedangkan sensor AI tentu saja tidak dapat membaca situasi tersebut.
Pada hakikatnya, peran guru dalam dunia pendidikan tidak akan pernah tergantikan oleh apapun. Sebab yang dapat membentuk manusia seutuhnya hanyalah guru. Hanya gurulah yang dapat menghidupi kodrat peserta didik dalam pendidikan. AI hanya hadir sebagai alat bantu pengajaran yang tidak akan pernah bisa sepenuhnya menggantikan peran guru.
