Konten dari Pengguna

Inflasi Bukan hanya Uang Beredar: Menelusuri Akar Tekanan Harga dari Penawaran

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Neng Cindy Patikasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto oleh Ahsanjaya dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/uang-memegang-kertas-dompet-8719573/
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Ahsanjaya dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/uang-memegang-kertas-dompet-8719573/

Inflasi Bukan Semata-mata Uang Beredar: Menelusuri Akar Tekanan Harga dari Sisi Penawaran — Opini

Pendahuluan

Secara turun-temurun, pandangan yang paling umum diyakini adalah: inflasi terjadi karena terlalu banyak uang yang beredar mengejar barang yang tersedia. Oleh sebab itu, obatnya pun sederhana — kurangi jumlah uang dengan menaikkan suku bunga, maka harga pun akan turun. Namun kenyataannya sering kali tidak berjalan begitu. Suku bunga sudah dinaikkan tinggi-tinggi, namun harga barang kebutuhan tetap saja naik. Ekonomi melambat, beban rakyat bertambah, namun inflasi tak kunjung turun sepenuhnya. Mengapa? Karena tidak semua inflasi lahir dari banyaknya uang. Sebagian besar tekanan harga yang kita alami justru lahir dari sisi yang berlawanan: bukan terlalu banyak uang, melainkan terlalu sedikit barang yang tersedia atau terlalu mahal biaya untuk menghasilkannya.

Dua Jenis Inflasi yang Berbeda Sumbernya

Ada dua jenis tekanan harga yang mendorong inflasi, dan keduanya memerlukan penanganan yang sama sekali berbeda.

Yang pertama adalah inflasi dari sisi permintaan — benar-benar lahir dari terlalu banyak uang beredar. Ketika orang memiliki banyak uang dan bersedia membelanjakannya, sementara barang yang tersedia jumlahnya belum bertambah, maka pembeli saling bersaing dan harga pun ikut naik. Jenis inilah yang dapat diturunkan dengan menaikkan suku bunga. Biaya pinjaman menjadi mahal, orang menahan belanja, permintaan mereda, dan harga pun ikut turun.

Namun ada jenis kedua yang jauh lebih sulit diatasi: inflasi dari sisi penawaran. Di sini harga naik bukan karena orang berbelanja berlebihan, melainkan karena barangnya memang sulit diperoleh, biaya untuk memproduksinya melonjak, atau jalur pendistribusiannya terganggu. Bisa karena biaya bahan bakar naik, jalan rusak sehingga biaya angkut membengkak, panen gagal akibat cuaca, atau jalur perdagangan dunia terganggu oleh konflik. Dalam kasus seperti ini, harga naik meskipun masyarakat justru semakin miskin dan semakin sedikit uang yang beredar.

Mengapa Suku Bunga Menjadi Kurang Mempan?

Di sinilah terletak kesulitan yang sering luput dari perhatian umum. Jika inflasi lahir dari kelangkaan atau tingginya biaya produksi, maka menaikkan suku bunga tidak akan banyak membantu. Karena masalahnya bukan pada jumlah uang, melainkan pada ketersediaan barang. Walaupun kita mengurangi jumlah uang di masyarakat, barang yang sedikit itu tetap saja sedikit — yang berubah hanyalah semakin banyak orang yang tidak mampu membelinya. Harga tidak turun, daya beli justru hancur.

Lebih buruk lagi, suku bunga yang tinggi justru memperberat tekanan dari sisi penawaran. Biaya pinjaman menjadi mahal bagi petani, pengusaha, dan pedagang. Mereka kesulitan menambah produksi, memperbaiki sarana, atau mendistribusikan barang ke daerah-daerah. Akibatnya, kelangkaan justru bertambah parah, dan tekanan harga pun semakin berat. Obat yang diberikan justru memperburuk penyakitnya sendiri.

Siapa yang Sebenarnya Bertugas Menanganinya?

Inilah yang harus dipahami dengan jelas: menjaga jumlah uang adalah tugas Bank Indonesia, namun menjaga ketersediaan dan kelancaran distribusi barang adalah tugas pemerintah. Jika pemerintah tidak memastikan pasokan pangan cukup, jalur distribusi lancar, biaya energi dan bahan baku terjangkau, maka sekuat apa pun Bank Indonesia menaikkan suku bunga, harga akan tetap naik. Karena sumbernya bukan pada uang, melainkan pada barang.

Sayangnya, sering kali beban menahan harga diletakkan seluruhnya pada kebijakan suku bunga. Bank Indonesia menaikkan bunga demi menahan harga, sementara di sisi lain tekanan harga terus datang dari kelangkaan dan biaya produksi yang terus naik. Akibatnya, suku bunga harus dinaikkan terus-menerus untuk menahan gelombang yang seharusnya ditahan oleh kebijakan penyediaan barang. Beban menjadi berat berlipat ganda, namun hasilnya tidak maksimal karena sumber penyakitnya tidak disembuhkan.

Kesimpulan

Sebagai penutup, saya berpendapat bahwa saatnya kita berhenti memandang inflasi hanya dari satu sisi. Tidak selamanya harga naik karena terlalu banyak uang. Sering kali harga naik karena barangnya tidak cukup, jalurnya tidak lancar, dan biayanya terlalu mahal. Itulah inflasi dari sisi penawaran — yang tidak bisa diatasi dengan suku bunga semata.

Maka dari itu, ketika harga naik, pertanyaan pertama yang harus kita tanyakan bukanlah "siapa yang mencetak terlalu banyak uang?", melainkan "mengapa barangnya menjadi sedikit dan mahal?". Jika sumbernya adalah kelangkaan dan biaya produksi, maka yang diperlukan bukanlah suku bunga lebih tinggi, melainkan kebijakan yang memastikan barang cukup, jalur aman, dan biaya terjangkau. Bank Indonesia bisa menjaga agar uang tidak berlebihan, namun hanya pemerintah yang mampu memastikan agar barang tidak kekurangan. Keduanya harus berjalan beriringan. Jika tidak, maka harga akan tetap naik, dan rakyatlah yang menanggung beban dua kali lipat: biaya pinjaman mahal dan harga barang tetap tinggi.