Deforestasi Keanekaragaman Hayati Farmasi yang Terancam Hilang

Pharmacy Major in State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nabila Gemintang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Obat kanker yang menyelamatkan jutaan nyawa hari ini berasal dari kulit pohon cemara pasifik. Kina untuk malaria dari pohon kina di Amerika Selatan. Aspirin dari ekstrak kulit pohon willow. Sejarah farmasi modern adalah sejarah manusia belajar dari hutan. Tapi ada pertanyaan besar yang jarang diajukan bagaimana dengan obat-obat yang belum sempat ditemukan karena pohonnya sudah ditebang lebih dulu? Inilah ancaman nyata dari deforestasi keanekaragaman hayati farmasi yang terus berlangsung diam-diam setiap harinya.

Deforestasi Keanekaragaman Hayati Farmasi yang Sedang Kita Hancurkan Sendiri
Angkanya mengejutkan sekaligus mengguncang. Dari 50.000 tanaman obat yang sudah diketahui manusia yang menjadi dasar dari lebih dari 50 persen semua obat-obatan yang ada, hingga seperlima dari jumlah itu terancam punah di tingkat lokal, nasional, regional, atau global akibat deforestasi.
Ini bukan tentang tanaman yang tidak diketahui fungsinya. Ini tentang tanaman yang sudah kita ketahui berkhasiat obat, yang sedang kita hancurkan habitatnya sebelum sempat kita pelajari sepenuhnya.
Menurut WHO, penemuan medis dan farmakologis yang signifikan terus dibuat melalui pemahaman yang lebih dalam tentang keanekaragaman hayati bumi. Hilangnya keanekaragaman hayati akibat deforestasi dapat membatasi penemuan pengobatan masa depan untuk berbagai penyakit yang dialami manusia di seluruh dunia.
Satu dari Lima Tanaman Obat Terancam Punah
Gambaran yang lebih luas dari riset terbaru bahkan lebih mengkhawatirkan. Meskipun dunia tanaman secara luas dianggap sebagai modal alam dengan potensi menghasilkan obat-obatan baru, potensi ini sedang terancam oleh hilangnya keanekaragaman hayati yang mengkhawatirkan. Estimasi terbaru menunjukkan bahwa setiap satu dari lima spesies tanaman di bumi terancam punah.
Sekitar 400 tanaman obat berisiko punah akibat pengambilan berlebihan dan deforestasi, mengancam penemuan obat-obatan masa depan. Di antaranya adalah pohon yew yang kulitnya digunakan untuk membuat paclitaxel, obat kanker penting; separuh dari spesies magnolia yang digunakan dalam pengobatan Cina selama 5.000 tahun untuk melawan kanker, demensia, dan penyakit jantung; serta autumn crocus yang digunakan untuk mengobati asam urat.
Yang lebih menyedihkan, banyak dari tanaman ini hilang sebelum sempat diuji secara ilmiah. Kita tidak tahu apa yang kita hilangkan karena kita tidak sempat mempelajarinya.
Indonesia di Garis Terdepan Krisis Ini
Bagi Indonesia, ini bukan isu yang jauh di sana. Indonesia adalah salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, rumah bagi ribuan spesies tanaman yang belum sepenuhnya dipetakan potensi farmasinya. Aktivitas manusia dan perubahan iklim secara serius mempengaruhi kelangsungan hidup tanaman dan ekosistem, mengancam lingkungan, keanekaragaman hayati, dan pengembangan berkelanjutan produk berbasis tanaman.
Deforestasi di Indonesia tidak hanya menghancurkan habitat satwa liar. Ia juga membakar "perpustakaan farmasi" yang belum sempat kita baca seluruh isinya. Setiap hektar hutan hujan tropis yang hilang membawa serta senyawa kimia unik yang mungkin saja menjadi dasar obat kanker, antivirus, atau antibiotik generasi berikutnya yang belum pernah ada.
Pengetahuan Tradisional yang Ikut Hilang
Ada dimensi lain yang sering luput dari diskusi tentang deforestasi dan farmasi yaitu hilangnya pengetahuan tradisional tentang tanaman obat yang tidak tertulis di mana pun kecuali di ingatan para tetua adat.
Penurunan keanekaragaman hayati ini sebagian besar merupakan hasil dari pertumbuhan populasi global, industrialisasi yang cepat dan kadang tidak terencana, deforestasi yang tidak terkendali, eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, dan polusi. Ironinya, potensi manfaat tanaman obat itu sendiri yang menyebabkan eksploitasi tidak ilmiah terhadap sumber daya alam ini terjadi secara global.
Ketika sebuah komunitas adat kehilangan hutan tempat mereka mengumpulkan tanaman obat, bukan hanya tanamannya yang hilang. Generasi pengetahuan tentang cara mengolah, kapan memanen, dan untuk penyakit apa menggunakannya juga ikut lenyap selamanya.
Pasar Obat Tradisional yang Terancam dari Dalam
Dari sisi ekonomi, taruhannya juga sangat besar. Pasar obat tradisional global diproyeksikan mencapai 115 miliar dolar pada akhir 2023. Namun industri ini dan kehidupan jutaan orang yang bergantung padanya sedang terancam oleh hilangnya keanekaragaman hayati dan perubahan iklim.
Pergeseran distribusi spesies tanaman akibat perubahan iklim dan deforestasi berimplikasi pada perubahan ketersediaan tanaman obat di industri farmasi dan kosmetik, yang berpotensi mengganggu rantai nilai farmasi secara global. Ini bukan ancaman di masa depan yang jauh. Ini sudah terjadi sekarang.
Ada Harapan yang Perlu Diperkuat
Tidak semua kabarnya buruk. Komunitas ilmiah dan konservasi mulai bergerak lebih serius. Badan regulasi harus menegakkan panduan terstandarisasi untuk pengembangan dan penerapan klinis produk herbal, karena kerangka regulasi yang terpadu akan memajukan pengembangan sistematis dan integrasi pasar global dalam pemanfaatan tanaman obat secara berkelanjutan.
Beberapa langkah yang sudah berjalan adalah program bank benih tanaman obat, kolaborasi antara peneliti farmasi dengan komunitas adat untuk mendokumentasikan pengetahuan tradisional, serta kebijakan hutan lindung yang secara eksplisit mempertimbangkan nilai farmasi kawasan hutan.
Bagi Indonesia, ini adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Menjaga hutan bukan hanya soal iklim atau satwa liar. Ia juga tentang menjaga kemungkinan penemuan obat yang mungkin suatu hari menyelamatkan nyawa kita sendiri atau generasi yang akan datang.
