AI Mengubah Kerja Pemula, Siapa Siapkan Talenta?
Tulisan dari Nabilah Farhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah cara perusahaan menjalankan pekerjaan. Sejumlah tugas administratif, pengolahan data, hingga pekerjaan berulang kini dapat dibantu oleh teknologi. Perubahan ini memang membuka peluang bagi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi. Namun, ada persoalan lain yang perlu diperhatikan: bagaimana nasib tenaga kerja pemula yang selama ini menjadikan pekerjaan tersebut sebagai pintu masuk untuk membangun pengalaman profesional?
Persoalannya bukan sekadar berkurangnya kebutuhan terhadap tenaga kerja pemula. Ada hal yang lebih jauh untuk dipikirkan, yaitu keberlanjutan pembentukan talenta di dalam perusahaan. Karyawan yang saat ini menduduki posisi senior maupun manajerial pada dasarnya pernah memulai karier dari pekerjaan tingkat awal. Jika kesempatan tersebut semakin terbatas tanpa adanya jalur pengembangan alternatif, perusahaan berpotensi menghadapi kesulitan dalam menyiapkan tenaga kerja berpengalaman pada masa mendatang.
Perubahan ini mulai mendapat perhatian dalam pembahasan mengenai masa depan pekerjaan. World Economic Forum (WEF) melalui laporan Artificial Intelligence and the Future of Entry-Level Work yang diterbitkan pada Juni 2026 menyebutkan bahwa lebih dari satu dari tiga pekerja muda di dunia berada dalam pekerjaan dengan tingkat paparan sedang hingga tinggi terhadap perubahan tugas akibat AI. Laporan tersebut juga menyoroti empat aspek penting, yaitu akses terhadap pekerjaan, desain pekerjaan, jalur pengembangan talenta, serta keselarasan antara pendidikan dan kebutuhan dunia kerja.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa dampak AI terhadap pekerjaan pemula tidak cukup dilihat dari kemungkinan suatu tugas digantikan oleh teknologi. Perusahaan juga perlu memperhatikan bagaimana perubahan tugas memengaruhi kesempatan karyawan baru untuk belajar dan memperoleh pengalaman. Sebab, pekerjaan tingkat awal bukan hanya tentang menyelesaikan tugas sederhana, melainkan juga menjadi tempat seseorang mengenal proses kerja, memahami budaya organisasi, dan mengembangkan kemampuan profesional.
Kondisi ini relevan bagi perusahaan di Indonesia. Dalam Future of Jobs Report 2025, WEF mencatat bahwa digitalisasi menjadi faktor utama yang diperkirakan memengaruhi transformasi pasar tenaga kerja Indonesia hingga 2030. Sebanyak 83% perusahaan yang beroperasi di Indonesia memperkirakan digitalisasi akan berdampak terhadap organisasinya, lebih tinggi dibandingkan angka global sebesar 60%. WEF juga mencatat bahwa perusahaan di Indonesia memperkirakan kebutuhan terhadap tenaga ahli AI dan spesialis keberlanjutan akan meningkat, sementara pekerjaan administrasi dan entri data diperkirakan mengalami penurunan.
Dalam kondisi tersebut, perusahaan perlu mulai mengevaluasi kembali peran pekerjaan entry-level. Tugas yang bersifat rutin dapat dibantu oleh AI, sementara karyawan pemula tetap perlu dilibatkan dalam pekerjaan yang memberikan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan kemampuan. Misalnya, karyawan tidak hanya diminta mengolah data, tetapi juga belajar membaca hasil analisis, memahami kebutuhan pelanggan, dan membantu menyelesaikan persoalan operasional.
Selain merancang ulang pekerjaan, perusahaan juga perlu menyediakan jalur pengembangan yang jelas. Pelatihan, pendampingan dari karyawan senior, serta kesempatan untuk terlibat dalam berbagai bagian pekerjaan dapat membantu karyawan pemula memahami proses bisnis secara lebih menyeluruh. Dengan cara tersebut, perusahaan tidak hanya mendapatkan tenaga kerja untuk kebutuhan saat ini, tetapi juga membangun calon tenaga kerja berpengalaman yang dapat mengisi posisi dengan tanggung jawab lebih besar.
Upaya menyiapkan tenaga kerja juga terlihat melalui program pemagangan yang diselenggarakan pemerintah. Kementerian Ketenagakerjaan melalui program Pemagangan Nasional 2026 menargetkan 150.000 peserta. Program ini menjadi salah satu bentuk upaya memberikan pengalaman kerja kepada masyarakat, khususnya pencari kerja. Namun, pengembangan talenta tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Perusahaan juga memiliki peran penting dalam menyediakan pengalaman kerja, pembinaan, dan kesempatan belajar yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Pada akhirnya, tantangan perusahaan di tengah perkembangan AI bukan hanya menentukan pekerjaan mana yang dapat digantikan oleh teknologi. Perusahaan juga perlu memikirkan bagaimana tenaga kerja pemula tetap memperoleh kesempatan untuk belajar dan berkembang. Efisiensi memang penting, tetapi keberlanjutan perusahaan juga bergantung pada kemampuan menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten. Jika jalur pengembangan bagi pekerja pemula semakin terbatas, perusahaan perlu memikirkan kembali dari mana talenta berpengalaman untuk masa depan akan berasal.

