Konstruksi Kepintaran dan Reproduksi Ketimpangan Sosial di Sekolah

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sosiologi, Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nabilla Al-Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di dalam kelas, siswa yang cepat menjawab pertanyaan guru, aktif berdiskusi, dan memperoleh nilai tinggi sering kali lebih mudah dilabeli sebagai siswa pintar. Label tersebut tidak hanya berkembang di antara siswa, tetapi juga dapat muncul dalam penilaian guru terhadap kemampuan mereka. Sebaliknya, siswa yang jarang berbicara atau membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami materi terkadang dianggap kurang mampu. Penilaian semacam ini mungkin terlihat wajar karena guru membutuhkan cara untuk mengenali perkembangan belajar siswa. Namun, pernahkah kita mempertanyakan mengapa kepintaran sering kali diukur melalui cara-cara tersebut?
Apakah siswa yang tidak menonjol dalam diskusi berarti tidak memiliki kemampuan yang sama baiknya?
Pada artikel sebelumnya, pembahasan berfokus pada bagaimana ketimpangan kesempatan dapat memengaruhi pencapaian pendidikan. Kali ini perhatian diarahkan pada bagaimana standar kepintaran di sekolah dapat membuat perbedaan latar belakang sosial memengaruhi pengakuan terhadap kemampuan siswa.
Kepintaran sebenarnya tidak selalu terlihat dalam bentuk yang sama. Ada siswa yang mampu menyampaikan gagasan secara lisan, ada yang lebih terampil menuangkan pemikirannya dalam tulisan, dan ada pula yang membutuhkan waktu untuk memahami materi sebelum dapat menjelaskan kembali apa yang dipelajarinya. Sayangnya, kemampuan yang mudah diamati sering kali lebih cepat mendapat pengakuan. Ketika satu cara menunjukkan kemampuan lebih dihargai daripada cara lainnya, siswa yang sesuai dengan standar tersebut berpeluang lebih besar untuk dianggap pintar, sementara kemampuan siswa lain belum tentu terlihat secara utuh.
Persoalan ini berkaitan dengan pemikiran Pierre Bourdieu tentang modal budaya, yaitu pengetahuan, kebiasaan, keterampilan, dan cara berkomunikasi yang terbentuk melalui lingkungan sosial seseorang. Sejak kecil, setiap siswa memperoleh pengalaman yang berbeda dari keluarga dan lingkungan sekitarnya. Ada yang terbiasa mengungkapkan pendapat, berdiskusi dengan orang dewasa, atau menggunakan bahasa yang sesuai dengan kebiasaan di sekolah. Ada pula yang tumbuh dengan kebiasaan berkomunikasi berbeda.
Perbedaan tersebut tidak menentukan siapa yang lebih cerdas, tetapi dapat memengaruhi seberapa mudah kemampuan seseorang dikenali dan dihargai di lingkungan pendidikan.
Masalah muncul ketika kebiasaan yang lebih sesuai dengan tuntutan sekolah dianggap sebagai ukuran kemampuan yang berlaku bagi semua siswa. Misalnya, siswa yang terbiasa berbicara dengan percaya diri mungkin lebih mudah dinilai aktif dan memahami pelajaran. Padahal, siswa yang memilih diam belum tentu tidak mengerti materi. Jika penilaian terlalu bergantung pada cara tertentu dalam menunjukkan kemampuan, perbedaan kebiasaan sosial dapat berubah menjadi perbedaan pengakuan akademik. Akibatnya, kebiasaan yang terbentuk melalui lingkungan sosial dapat terlihat seolah-olah sebagai keunggulan pribadi semata, tanpa mempertimbangkan bagaimana kebiasaan tersebut berkembang.
Dalam pemikiran Bourdieu, sekolah dapat ikut mereproduksi ketimpangan sosial ketika lebih menghargai modal budaya tertentu dan memperlakukannya seolah-olah sebagai standar yang netral. Siswa yang kebiasaannya sesuai dengan tuntutan sekolah cenderung lebih mudah menyesuaikan diri dan memperoleh pengakuan.
Sebaliknya, siswa dengan pengalaman berbeda perlu beradaptasi agar kemampuannya dapat diterima. Ketika pola ini terus berlangsung, perbedaan yang berasal dari lingkungan sosial berisiko dipertahankan melalui proses penilaian dan pengakuan akademik. Ketimpangan tidak selalu muncul dalam bentuk perlakuan yang terang-terangan berbeda, tetapi dapat terbentuk melalui standar yang tampak sama bagi semua siswa.
Bukan berarti nilai akademik, keaktifan, atau kemampuan berbicara tidak penting. Semua itu tetap dapat menjadi bagian dari penilaian pembelajaran. Persoalannya adalah ketika satu indikator digunakan untuk menggambarkan keseluruhan kemampuan siswa tanpa mempertimbangkan apa yang sebenarnya dapat mereka pahami dan lakukan.
Guru perlu memiliki cara penilaian yang beragam agar siswa dapat menunjukkan pemahamannya melalui diskusi, tulisan, tugas, maupun bentuk kegiatan lain yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Dengan begitu, perbedaan cara belajar tidak langsung dianggap sebagai perbedaan tingkat kecerdasan.
Cara sekolah mendefinisikan kepintaran juga perlu mendapat perhatian karena penilaian akademik dapat memengaruhi kepercayaan diri siswa, ekspektasi guru terhadap mereka, dan kesempatan yang diberikan untuk berkembang. Siswa yang terus-menerus dianggap kurang mampu mungkin menjadi kurang percaya diri untuk berpartisipasi, sedangkan siswa yang sejak awal dikenal pintar bisa lebih sering dipercaya untuk mengambil peran tertentu. Jika dibiarkan, penilaian awal dapat ikut memengaruhi pengalaman belajar siswa berikutnya.
Karena itu, persoalan kepintaran di sekolah bukan hanya tentang siapa yang memperoleh nilai tertinggi, tetapi juga tentang kemampuan seperti apa yang diakui dan bagaimana pengakuan tersebut diberikan. Jika standar kepintaran lebih mudah dipenuhi oleh siswa yang memiliki kebiasaan tertentu sejak awal, sekolah berisiko mengubah perbedaan pengalaman sosial menjadi ketimpangan pengakuan.
Pendidikan seharusnya bisa membantu menemukan dan mengembangkan kemampuan setiap siswa meski mereka memiliki latar belakangnya yang berbeda, bukan membiarkan latar belakang sosial yang menentukan siapa yang lebih mudah diakui sebagai siswa pintar dan siapa yang justru dianggap kurang mampu hanya karena tidak banyak menunjukkan kemampuannya secara terbuka.
