Orientasi Status Sosial dan Pergeseran Makna Pendidikan

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sosiologi, Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nabilla Al-Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi banyak calon mahasiswa, diterima di program studi impian merupakan pencapaian yang ingin diraih melalui berbagai persiapan dan usaha. Namun, apa yang terjadi ketika keinginan masuk ke program studi tertentu begitu besar hingga ada keluarga yang rela membayar ratusan juta rupiah demi meloloskan anaknya, meskipun harus menghadapi risiko tebongkar dan konsekuensi hukum?
Fenomena ini menjadi sorotan ketika praktik joki Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) digunakan untuk memperoleh kursi di Fakultas Kedokteran (FK) yang menjadi salah satu program studi incaran banyak calon mahasiswa, terutama di perguruan tinggi ternama.
Bagi sebagian keluarga, diterima di FK, terutama di perguruan tinggi ternama, merupakan kebanggaan besar. Profesi dokter kerap dikaitkan dengan masa depan yang menjanjikan, kedudukan sosial yang dihormati, dan kestabilan ekonomi. Pandangan tersebut membuat FK tidak sekadar dipandang sebagai pilihan pendidikan, tetapi juga sebagai jalan menuju kehidupan yang dianggap berhasil.
Gambaran ini semakin menjadi sorotan ketika pada Mei 2026, polisi membongkar sindikat joki UTBK-SNBT di Surabaya yang mematok tarif Rp500 juta hingga Rp700 juta per peserta. Menurut pemberitaan di sejumlah media, kasus kecurangan dalam jaringan tersebut lebih banyak menyasar program studi kedokteran. Besarnya biaya yang dipertaruhkan memunculkan persoalan tentang bagaimana keinginan meraih pendidikan dan status sosial dapat mendorong seseorang mengambil risiko besar demi mencapai tujuan tersebut.
Praktik joki jelas merupakan pelanggaran yang merugikan peserta lain yang mengikuti seleksi dengan kemampuan sendiri. Namun, persoalan ini tidak cukup dipahami sebagai tindakan tidak jujur individu. Di baliknya, ada pandangan masyarakat yang menempatkan profesi tertentu sebagai simbol keberhasilan, disertai harapan keluarga agar anak memperoleh masa depan yang dianggap menjanjikan. Akibatnya, masuk FK di kampus ternama dapat dipandang sebagai pencapaian yang harus diraih, bukan sekadar salah satu pilihan pendidikan.
Keinginan masuk FK pun tidak selalu berasal dari alasan yang sama. Ada calon mahasiswa yang memang bercita-cita menjadi dokter, ada yang ingin memenuhi harapan orang tua, dan ada pula yang menghadapi keduanya sekaligus. Harapan keluarga dapat berubah menjadi tekanan ketika profesi dokter dianggap sebagai satu-satunya pilihan yang membanggakan. Meski begitu, tekanan orang tua bukan satu-satunya penyebab praktik joki, dan cita-cita menjadi dokter tetap tidak dapat membenarkan kecurangan.
Fenomena joki UTBK dapat dijelaskan melalui teori anomi Robert K. Merton, yang membahas ketegangan antara tujuan yang dianggap penting oleh masyarakat dan cara yang digunakan untuk mencapainya. Dalam konteks ini, masuk Fakultas Kedokteran dan meraih profesi dokter dipandang sebagai tujuan yang bernilai tinggi, sedangkan belajar dan mengikuti seleksi secara jujur merupakan cara yang sah untuk meraihnya. Ketika seseorang merasa harus mencapai tujuan tersebut, tetapi menganggap jalur yang tersedia terlalu sulit atau takut menghadapi kegagalan, muncul kemungkinan untuk mencari jalan pintas. Merton menyebut pola ini sebagai inovasi, yaitu ketika seseorang tetap mengejar tujuan yang diakui, tetapi menggunakan cara yang menyimpang dari norma.
Kesediaan membayar ratusan juta rupiah untuk jasa joki memperlihatkan bagaimana keinginan mencapai tujuan dapat mendorong seseorang mengambil risiko besar. Uang digunakan untuk mencoba memperoleh hasil seleksi tanpa menjalani proses sebagaimana mestinya, sementara peserta lain harus mempersiapkan diri dan bersaing berdasarkan kemampuan masing-masing. Situasi ini juga memperlihatkan bahwa kemampuan ekonomi dapat dimanfaatkan untuk mencoba melewati hambatan dalam persaingan pendidikan. Meski begitu, fenomena tersebut tidak berarti semua keluarga berada melakukan kecurangan atau setiap calon mahasiswa yang gagal seleksi akan memilih jalan yang sama.
Persoalan ini menjadi semakin penting karena pendidikan kedokteran tidak berhenti pada keberhasilan masuk perguruan tinggi. Mahasiswa kedokteran perlu menguasai ilmu, mengembangkan keterampilan, dan membangun tanggung jawab karena profesi dokter kelak berkaitan langsung dengan keselamatan manusia.
Lolos melalui joki tidak membuktikan bahwa seseorang memiliki kesiapan untuk menjalani pendidikan tersebut. Jika keberhasilan hanya diukur dari diterimanya seseorang di kampus ternama, tujuan pendidikan berisiko bergeser dari proses membangun kemampuan menjadi sekadar memperoleh status yang diakui masyarakat. Proses belajar pun dapat kehilangan makna ketika pendidikan lebih dipandang sebagai jalan untuk mencapai kedudukan sosial daripada sebagai proses mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan tanggung jawab.
Kasus joki UTBK memperlihatkan bahwa persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan individu yang melanggar aturan, tetapi juga dengan cara masyarakat memaknai keberhasilan. Ketika nama kampus dan prestise profesi dianggap begitu penting, sebagian orang dapat terdorong untuk mengejar hasil tanpa memedulikan proses yang seharusnya ditempuh.
Tekanan keluarga dan persaingan juga dapat menjadi bagian dari persoalan tersebut, meskipun tidak bisa dijadikan pembenaran atas kecurangan. Karena itu, pendidikan perlu menjaga keadilan seleksi sekaligus membangun pemahaman bahwa keberhasilan bukan sekadar tentang siapa yang berhasil masuk ke kampus ternama, tetapi juga tentang kemampuan dan tanggung jawab yang dikembangkan melalui proses belajarnya.
