Ironi Pendidikan Indonesia: Penyebab dan Kesenjangan yang Perlu Dibenahi

Penulis buku dan artikel di beberapa media online. Serta Pegiat Literasi yang aktif membagikan konten berupa tulisan motivasi dan hobi membaca buku.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nabita Kamaliah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Miris sekali, di Indonesia pendidikan seolah bukan hal yang menjadi prioritas bagi anak bangsa. Padahal, negara yang maju adalah negara yang kualitas pendidikannya bagus. Sedangkan di Indonesia, guru saja menjadi profesi yang paling dihindari banyak orang karena gajinya yang tidak layak.
Tak heran, banyak sekali kita temukan stigma, “Jangan jadi guru, nggak enak. Gajinya kecil.” Lihatlah, orang-orang rela meninggalkan kerja sesuai passionnya. Guru di Indonesia hidupnya tidak sejahtera, padahal kerjanya full time. Kalau bukan karena pengabdian dan rasa cintanya kepada pendidikan, mungkin nggak akan pernah ada guru.
Pendidikan yang bagus akan menghasilkan SDM yang berkualitas. Kalau mau wujudin Indonesia emas, ya harus dimulai dari pendidikan. Jangankan lapangan pekerjaan, akses pendidikan di Indonesia saja tidak merata. Masih banyak anak-anak yang terlantar karena terpaksa putus sekolah disebabkan jadi tulang punggung keluarga.
Harus berapa lama lagi kita disuruh sehat di negara yang sakit? Saat banyak warga yang kesusahan pontang-panting mencari pekerjaan, pejabat pun tak ada yang turun tangan. Dengan entengnya bilang, “Guru beban negara.” Padahal, Indonesia tak pernah kekurangan orang pintar. Tugas siapa kalau bukan guru?
Kita tinggal di negara yang minim apresiasi. Guru yang gajinya tak seberapa dibilang beban, dengan pejabat yang tak jelas pekerjaannya menghasilkan apa. Hasil kebijakan pun banyak yang tidak masuk akal. Rakyat pengangguran dibiarkan begitu saja tanpa adanya bantuan dari pemerintah.
Ini bukan lagi tentang ikhlas atau tidaknya melakukan suatu pekerjaan. Gaji adalah faktor utama kita bisa bertahan hidup. Kalau gaji besar, otomatis kerjanya pun akan maksimal. Namun, ketika kita tidak dihargai dan layak untuk hidup sejahtera, maka jangan heran jika banyak yang memilih untuk kerja di luar negeri. Meski bukan kerja sesuai passion tapi sangat cukup untuk nabung 10-20jt perbulan.
Kalau pendidikannya masih gini-gini aja, Indonesia tidak akan pernah menjadi negara maju. Sudah bukan saatnya untuk berdebat di bangku kekuasaan, tapi hasilnya nihil. Mari saling terbuka untuk masa depan yang cerah. Guru adalah profesi yang mulia, meski kerjanya tak terlihat di mata pejabat.
Lulusan pendidikan pun enggan menjadi guru, meski sebenarnya ada keinginan besar untuk meneruskan passionnya. Mereka harus mencari pekerjaan yang gajinya bisa meng-cover hidup. Setidaknya, bisa menyambung hidup.
Hal ini bukan berarti guru nggak bersyukur. Bahkan dengan gaji 300 ribu perbulan sangat susah untuk menghidupi sehari-hari. Tidak sepantasnya pejabat bilang gaji guru adalah beban keuangan negara. Yang mana, guru adalah profesi yang paling dibutuhkan untuk bisa menuju Indonesia emas.
Kalau bukan pemerintah yang bergerak, maka mustahil kita bisa jadi negara maju. Kebijakan-kebijakan yang tidak masuk akal, ujugnya pasti merugikan rakyat sendiri. Gimana nggak sakit hati jadi warga negara Indonesia?
Di bagian pelosok, banyak guru yang hidupnya bahkan jauh dari kata layak. Bahkan dibilang susah. Banyak dari mereka yang terus mengabdi meski tak pernah digaji. Besar impiannya untuk mewujudkan anak-anak Indonesia menjadi generasi emas masa depan.
Namun sayangnya, pemerintah buta akan hal itu. Di mana para guru pun harus mencari kerja sampingan demi bisa hidup sejahtera. Sedangkan di luar sana, para pejabat foya-foya menikmati uang rakyat, bahkan sampai korupsi. Sampai kapan Indonesia akan seperti ini?
Harapannya, semoga ada jalan terang untuk masalah pendidikan di Indonesia. Terutama untuk gaji guru. Karena ini bukan hanya menyangkut soal guru, tapi juga generasi selanjutnya. Anak-anak berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan guru pun berhak hidup sejahtera dengan gaji yang setara.
