Ketika Batik Menolak Seragam: Eco-print dan Relasi Manusia dengan Alam

Saya adalah seorang mahasiswa Universitas Padjajaran prodi ilmu komunikasi
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Nadha Syabaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tak ada satu pun kain eco-print yang bisa diulang persis sama. Daun yang dipetik dari pohon yang sama, direbus dengan cara serupa, dan dikerjakan oleh tangan yang sama, tetap menghasilkan warna dan jejak motif yang berbeda. Cuaca, usia daun, kadar air, hingga waktu pengukusan ikut menentukan hasil akhir. Dalam dunia tekstil modern yang mengejar keseragaman dan efisiensi, eco-print justru bergerak ke arah sebaliknya.
Eco-print kerap disandingkan dengan batik karena sama-sama bekerja di atas kain dan memanfaatkan motif alami. Namun secara teknis, eco-print tidak menggunakan malam dan berada di luar definisi batik klasik. Penyebutan kata batik dalam nama Ecoprint Batik Dahon merujuk pada identitas produk dan konteks budaya, bukan pada teknik batik tulis atau cap.
Prinsip inilah yang dijalani Ibu Elin Herlina di Pangandaran, Jawa Barat. Melalui Ecoprint Batik Dahon, ia mengerjakan kain eco-print bukan sekadar sebagai teknik tekstil, melainkan sebagai cara berelasi dengan alam. Baginya, alam bukan bahan baku yang bisa dipaksa, melainkan bagian dari proses yang harus dipahami pelan-pelan.
Belajar Menerima Hasil yang Tidak Selalu Sesuai Rencana
Ketertarikan Ibu Elin pada kain bermotif alam bermula dari pengalamannya sebagai pedagang batik keliling. Selama bertahun-tahun, ia menyambangi perkantoran sambil menjajakan batik dari sentra seperti Cirebon, Solo, dan Yogyakarta. Ia terbiasa dengan motif rapi, warna stabil, dan permintaan pasar yang jelas. Pandangannya mulai berubah saat ia mengunjungi sebuah pameran batik di Yogyakarta pada 2018.
Di sana, ia melihat kain dengan jejak daun dan tumbuhan yang tampil apa adanya. Warnanya lembut, tidak mencolok, dan berbeda satu sama lain. Kain-kain itu tidak menawarkan kesempurnaan visual, tetapi menghadirkan kesan alami. Dari situ, rasa penasaran muncul. Ia melihat kemungkinan lain dalam dunia tekstil, yang tidak sepenuhnya dikendalikan oleh pola dan rumus.
Keinginan untuk belajar eco-print tidak mudah diwujudkan. Biaya belajar formal cukup besar, sementara ia memiliki keterbatasan dana. Ibu Elin memilih belajar secara mandiri melalui bimbingan jarak jauh dari seorang mentor di Banjarnegara. Sejak akhir 2018, ia mulai bereksperimen di rumah dengan peralatan sederhana dan bahan di sekitarnya.
Hampir satu tahun penuh dihabiskan untuk kegagalan. Warna merah yang diharapkan muncul justru berubah menjadi cokelat kusam. Kuning bergeser menjadi hijau. Kesalahan memilih daun, mencampur mordan, hingga menentukan waktu pengukusan membuat hasil jauh dari bayangan. Kain-kain percobaan menumpuk dan tidak layak jual.
“Waktu itu memang bukan untuk dijual,” ujarnya. “Saya suka saja bikinnya.”
Dalam logika industri tekstil, kegagalan sering dianggap pemborosan waktu dan biaya. Namun bagi Ibu Elin, proses itu menjadi cara belajar membaca alam. Ia memahami bahwa bahan alami memiliki karakter sendiri yang tidak bisa diseragamkan. Dari situlah muncul kesadaran bahwa eco-print menuntut kesabaran dan kerelaan menerima hasil di luar rencana.
Ketika Pasar Menerima Ketidakteraturan
Keraguan sempat muncul. Warna-warna alami kain eco-print cenderung lembut dan earthy, berbeda dengan kain bermotif sintetis yang cerah dan seragam. Ia khawatir hasil karyanya tidak diminati. Namun dorongan dari lingkungan sekitar membuatnya memberanikan diri mengikuti pameran desa di Kabupaten Pangandaran pada Agustus 2019.
Tanpa ekspektasi besar, kain-kain eco-print itu dipajang. Respons yang datang justru di luar dugaan. Pengunjung tertarik, bertanya tentang prosesnya, lalu membeli. Dalam satu acara pameran desa, penjualan mencapai lebih dari satu juta rupiah.
“Waktu itu saya mikir, kok ini laku?” katanya sambil tersenyum. “Ternyata ada juga yang mau.”
Pengalaman tersebut menjadi titik balik. Ia menyadari bahwa ada pasar yang menghargai keunikan, ketidakteraturan, dan cerita di balik proses. Sejak saat itu, eco-print tidak lagi sekadar eksperimen, tetapi mulai dijalani sebagai usaha yang tumbuh perlahan, mengikuti ritme alam yang tidak bisa dipercepat.
Produksi yang Sengaja Diperlambat
Seiring waktu, Eco-print Batik Dahon berkembang. Pada 2021, usahanya menjadi UMKM binaan Bank Indonesia dan mulai bekerja sama dengan sejumlah hotel di Pangandaran. Permintaan datang dari berbagai arah. Namun, alih-alih mempercepat produksi, Ibu Elin memilih menjaga ritme kerja.
Eco-print hanya dikerjakan dua hingga tiga kali dalam seminggu. Satu kain bisa memakan waktu hampir sepekan hingga benar-benar selesai. Keputusan ini bukan karena keterbatasan semata, melainkan kesadaran akan daya dukung alam.
Daun tidak bisa dipetik sembarangan. Ada daun yang warnanya keluar baik saat masih muda, ada pula yang optimal ketika hampir gugur. Air tidak selalu berada dalam kondisi ideal, dan cuaca sulit diprediksi. Memaksakan produksi berarti mengabaikan batas-batas tersebut dan berisiko merusak keseimbangan lingkungan.
“Kalau kita pakai alam, kita juga harus menghargai alam,” ujarnya. “Ambil seperlunya, jangan berlebihan.”
Kain Sebagai Catatan Proses
Dalam setiap kain eco-print yang dihasilkan Ecoprint Batik Dahon, tersimpan cerita tentang waktu dan tempat. Tentang daun yang tumbuh di sekitar Pangandaran, air yang digunakan, dan cuaca saat kain dikukus. Tidak ada dua kain yang benar-benar sama, dan hal itu diterima sebagai bagian dari proses, bukan kekurangan.
Eco-print tidak hanya menghasilkan produk tekstil, tetapi juga mencatat relasi manusia dengan lingkungannya. Ia mengajarkan kesabaran, penerimaan, dan kepekaan terhadap perubahan kecil yang sering luput diperhatikan.
Di tengah industri kreatif yang bergerak semakin cepat dan seragam, eco-print menawarkan alternatif yang lebih pelan. Kain yang tidak mengejar kuantitas, tidak menuntut kesempurnaan visual, dan tidak memisahkan keindahan dari etika ekologis. Bagi Ibu Elin, kain hanyalah medium. Yang terpenting adalah proses dan kesadaran bahwa manusia tidak pernah benar-benar bekerja sendirian, melainkan selalu bersama alam yang ikut menentukan hasil akhir.
