Ketika Laki-Laki Tidak Boleh Feminin: Standar Maskulinitas dalam Masyarakat
Tulisan dari Nadia Suherman Al-Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membaca Standar Maskulinitas dan Konstruksi Gender Masyarakat Lewat Lagu VIX3N "Diluar Aja"
Di panggung musik, laki-laki bebas bersuara. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, mereka belum tentu bebas menjadi diri sendiri. Standar maskulinitas yang dibentuk masyarakat masih sering menentukan bagaimana laki-laki seharusnya bersikap, berpakaian, bahkan mengekspresikan dirinya.
Pernahkah kamu mendengar kalimat “cowok kok suka warna pink?” atau “laki-laki jangan lemah lembut, nanti dikira banci”? Kalimat seperti ini sering dilontarkan sambil lalu, kadang dengan tawa. Tapi bagi orang yang menerimanya, efeknya bisa panjang: rasa malu, rasa salah, dan keputusan untuk menyembunyikan sebagian dirinya.
Pengalaman itulah yang terasa hidup dalam “Diluar Aja”, single terbaru VIX3N yang dirilis 7 April 2026. Lagu ini bisa dibaca sebagai potret pergulatan seseorang menghadapi tuntutan maskulinitas di lingkungan sosialnya. Tulisan ini tidak mengulas lagu itu dari sisi musikalitas. Saya memakainya sebagai pintu masuk untuk membicarakan persoalan yang lebih besar: mengapa standar maskulinitas masih begitu mengikat, dan siapa yang membayar harganya.
Gender Itu Dibentuk, Bukan Hanya Dibawa Sejak Lahir
Dalam lagu ini ada larik yang menyentil: “laki-laki tak perlu warna”. Kalimat pendek itu menyimpan persoalan sosiologis yang besar. Siapa yang memutuskan bahwa warna tertentu “milik” perempuan dan laki-laki harus tampil serba netral, gelap, dan kaku?
Sosiologi punya jawaban sederhana: itu bukan hukum alam, melainkan konstruksi sosial. Filsuf Simone de Beauvoir pernah menulis bahwa perempuan tidak dilahirkan, melainkan dibentuk menjadi perempuan. Logika yang sama berlaku bagi laki-laki. Kita belajar menjadi “laki-laki” lewat sosialisasi sejak kecil, mulai dari pilihan mainan, cara berpakaian, sampai cara menangis (atau tidak boleh menangis).
Contoh warna cukup menarik. Di Barat pada awal abad ke-20, merah muda pernah dianggap lebih cocok untuk anak laki-laki karena dipandang sebagai versi lembut dari merah yang “tegas”. Pembagian pink untuk perempuan dan biru untuk laki-laki baru mengeras belakangan, seiring perkembangan industri dan pemasaran. Artinya, aturan yang kita anggap kodrat ternyata bisa berubah mengikuti zaman.
Pemikir seperti Judith Butler menyebut gender sebagai performativitas, yaitu sesuatu yang terus-menerus kita “tampilkan” sesuai naskah yang disediakan masyarakat. Masalahnya, naskah itu sering tidak memberi ruang bagi mereka yang ingin berimprovisasi.
Maskulinitas yang Hanya Punya Satu Versi
Standar maskulinitas yang berkembang di masyarakat tidak terbentuk begitu saja. Ada nilai dan norma sosial yang membuat laki-laki seolah-olah harus memenuhi gambaran tertentu agar diterima sebagai sosok yang maskulin.
Sosiolog Raewyn Connell memperkenalkan konsep maskulinitas hegemonik, yaitu satu citra ideal tentang menjadi laki-laki yang dominan dalam suatu masyarakat. Ciri-cirinya sudah akrab: kuat, tegas, tidak emosional, tidak bergantung pada orang lain, dan tentu saja tidak “kemayu”.
Di titik inilah maskulinitas berubah menjadi toxic. Istilah toxic masculinity bukan berarti laki-laki itu beracun. Yang dimaksud adalah seperangkat norma yang merugikan, termasuk bagi laki-laki sendiri. Norma ini menuntut laki-laki menekan emosi, menolak kerentanan, dan menjauhi apa pun yang dicap feminin. Laki-laki yang tampil lembut, peduli penampilan, atau menyukai hal-hal yang dianggap “perempuan” akan segera mendapat sanksi sosial berupa ejekan, julukan merendahkan, atau pengucilan.
Perhatikan polanya: yang dihukum bukan perilaku yang merugikan orang lain, melainkan perilaku yang dianggap menyimpang dari naskah. Ejekan seperti “banci” atau “melambai” sebenarnya bekerja sebagai alat disiplin. Pesannya jelas: kembali ke barisan, atau terima akibatnya.
Ironisnya, hukuman itu juga menunjukkan betapa rapuhnya konsep maskulinitas yang kaku. Jika menjadi laki-laki sejati sekuat itu, mengapa harus dijaga dengan ejekan dan ancaman?
Kontrol Sosial: Siapa yang Merasa Berhak?
Salah satu hal paling menarik dari tema lagu semacam ini adalah pertanyaan tentang siapa yang mengawasi. Keluarga, teman, tetangga, bahkan orang yang baru dikenal sering merasa berhak berkomentar tentang bagaimana seseorang seharusnya bersikap dan berpenampilan.
Dalam sosiologi, ini disebut kontrol sosial, mekanisme yang menjaga anggota masyarakat tetap patuh pada norma. Sebagian kontrol sosial memang berguna, misalnya norma untuk tidak menyakiti orang lain. Namun ketika kontrol itu menyasar hal-hal yang tidak merugikan siapa pun, seperti warna baju atau gaya bicara, ia berubah menjadi tekanan yang melelahkan.
Pierre Bourdieu menyebut salah satu bentuknya sebagai kekerasan simbolik: dominasi yang bekerja halus, diterima sebagai hal wajar, bahkan kadang dijalankan oleh orang-orang yang sebenarnya menjadi korbannya. Banyak laki-laki yang pernah diejek karena tampil lembut akhirnya ikut mengejek orang lain demi membuktikan dirinya “aman”. Lingkaran ini terus berputar karena sebagian besar orang tidak pernah mempertanyakannya.
“Jadi Diri Sendiri”, tapi dengan Syarat
Ada larik lain dalam lagu ini yang terasa getir: “jadi diri sendiri, oh iya, cuma buat yang manly”. Nada sarkastiknya tertangkap jelas. Kita sering mendengar nasihat untuk “jadi diri sendiri”, tetapi dalam praktiknya ada syarat tak tertulis: asal dirimu sesuai standar.
Kesenjangan antara slogan dan kenyataan ini membuat banyak orang memilih jalan kompromi. Mereka tampil sesuai harapan di ruang publik, di depan keluarga, di tongkrongan, di tempat kerja, lalu menyimpan versi dirinya yang lebih jujur untuk ruang yang lebih aman. Judul lagunya, “Diluar Aja”, bisa dibaca dalam semangat itu, meski tafsir lain tentu terbuka: ada jarak antara citra yang ditampilkan ke luar dan diri yang sebenarnya.
Hidup dengan dua wajah punya harga psikologis. Erving Goffman, sosiolog yang meneliti stigma, menjelaskan bahwa orang yang takut dicap menyimpang akan menghabiskan energi besar untuk mengelola kesan. Menyembunyikan diri adalah pekerjaan penuh waktu, dan itu melelahkan.
Mengapa Ini Penting untuk Kita Semua
Mudah untuk menganggap persoalan ini sepele, hanya soal selera warna atau gaya berpakaian. Tetapi ketika laki-laki diajari bahwa kelembutan adalah kelemahan, akibatnya merembet ke banyak hal: sulit bercerita saat sedang tertekan, enggan mencari bantuan, hingga relasi yang dingin dengan keluarga dan pasangan. Kesehatan mental laki-laki sering terabaikan justru karena ekspresi emosi dianggap tidak jantan.
Di sisi lain, ketika sesuatu dilabeli “feminin” lalu dijadikan bahan olok-olok, yang direndahkan sebenarnya bukan hanya laki-laki yang tampil beda, tetapi juga perempuan dan segala hal yang diasosiasikan dengan mereka. Maskulinitas yang kaku dan misogini sering berjalan beriringan.
Dari Panggung ke Percakapan
Itulah sebabnya karya budaya populer seperti lagu punya peran penting. Lagu tidak menawarkan solusi kebijakan, tetapi ia bisa memberi bahasa pada pengalaman yang selama ini tidak punya nama. Ketika seseorang mendengar lagunya lalu berpikir “ini aku banget”, ia sedang menyadari bahwa tekanan yang dialami bukan kesalahan pribadi, melainkan persoalan sosial yang dialami banyak orang.
Menjadi laki-laki tidak harus berarti menjadi satu jenis laki-laki. Masyarakat yang sehat memberi ruang bagi beragam cara menjadi laki-laki: yang tegas dan yang lembut, yang suka olahraga dan yang suka merias diri, yang pendiam dan yang ekspresif, tanpa ada yang perlu bersembunyi di balik “di luar aja”.
Mungkin pertanyaan yang lebih jujur untuk diajukan bukan “mengapa dia tidak seperti laki-laki pada umumnya?”, melainkan “mengapa kita begitu terganggu melihat orang menjadi dirinya sendiri?”

