Konten dari Pengguna

Ketika Produktivitas Menjadi Standar Harga Diri Anak Muda

Bangun pagi, membaca buku, berolahraga, mengikuti kelas tambahan, membangun karier, dan terus mengembangkan diri. Di tengah budaya produktivitas, kapan seseorang dianggap sudah cukup melakukan sesuatu?

Ketika Produktivitas Menjadi Standar Harga Diri Anak Muda
zoom-in-whitePerbesar

Pernahkah kamu membuka media sosial dan menemukan seseorang yang terlihat menjalani hari dengan sangat teratur? Pagi dimulai dengan olahraga, dilanjutkan membaca buku, bekerja atau kuliah, mengikuti kegiatan tambahan, lalu menutup hari dengan evaluasi diri.

Rutinitas semacam itu sering ditampilkan sebagai gambaran kehidupan ideal. Anak muda didorong untuk terus berkembang, memanfaatkan waktu sebaik mungkin, dan tidak membiarkan satu hari berlalu tanpa menghasilkan sesuatu.

Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk menjadi lebih baik. Namun, persoalan muncul ketika produktivitas tidak lagi sekadar menjadi cara mencapai tujuan, melainkan berubah menjadi ukuran untuk menilai harga diri seseorang.

Seseorang yang beristirahat mulai merasa bersalah. Hari yang tidak diisi kegiatan dianggap sebagai hari yang terbuang. Bahkan, ketika melihat pencapaian orang lain, seseorang bisa merasa dirinya tertinggal meskipun sebenarnya sedang berusaha menjalani hidup sesuai kemampuannya.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa budaya produktivitas bukan hanya berkaitan dengan kebiasaan individu. Ada nilai dan tuntutan sosial yang ikut membentuk cara anak muda memandang waktu, pekerjaan, dan keberhasilan.

Ketika Sibuk Dianggap Berarti Berhasil

Dalam kehidupan sehari-hari, kesibukan sering kali mendapatkan pengakuan sosial. Mahasiswa yang mengikuti banyak organisasi dianggap aktif. Pekerja yang selalu lembur dipandang memiliki dedikasi. Seseorang yang memiliki banyak kegiatan tambahan terlihat lebih ambisius dibandingkan mereka yang menjalani rutinitas sederhana.

Akibatnya, muncul anggapan bahwa semakin sibuk seseorang, semakin produktif pula kehidupannya.

Padahal, kesibukan dan produktivitas bukan hal yang sama. Seseorang dapat menghabiskan banyak waktu untuk bekerja tanpa menghasilkan sesuatu yang sebanding. Sebaliknya, seseorang yang memiliki waktu istirahat cukup belum tentu kurang memiliki ambisi.

Persoalannya terletak pada bagaimana masyarakat memberikan penghargaan terhadap aktivitas tertentu. Kesibukan sering kali lebih mudah terlihat dan dipamerkan dibandingkan proses belajar, pemulihan, atau pekerjaan yang hasilnya tidak langsung tampak.

Di media sosial, kondisi tersebut semakin terasa. Rutinitas produktif dapat dikemas menjadi konten yang menarik, mulai dari video study with me, morning routine, hingga tantangan membangun kebiasaan baru selama beberapa puluh hari.

Tanpa disadari, kehidupan sehari-hari dapat berubah menjadi rangkaian aktivitas yang harus selalu terlihat bermakna dan menghasilkan.

Produktivitas sebagai Bentuk Kontrol Sosial

Dalam perspektif sosiologi, fenomena ini dapat dibaca melalui pemikiran Michel Foucault mengenai disiplin dan pengawasan.

Foucault menjelaskan bahwa kekuasaan tidak selalu bekerja melalui larangan atau hukuman secara langsung. Kekuasaan juga dapat hadir melalui aturan, pengawasan, dan pembentukan kebiasaan yang membuat individu mengatur perilakunya sendiri.

Konsep ini membantu kita memahami mengapa seseorang terkadang merasa harus terus produktif meskipun tidak ada orang yang secara langsung memerintahkannya.

Mahasiswa mungkin merasa harus mengambil banyak kegiatan agar tidak dianggap tertinggal. Pekerja muda merasa perlu terus meningkatkan keterampilan agar tidak kalah bersaing. Bahkan ketika sedang beristirahat, muncul dorongan untuk memeriksa pekerjaan atau mencari kegiatan lain yang dianggap lebih bermanfaat.

Tuntutan tersebut perlahan berubah menjadi standar yang diterapkan individu terhadap dirinya sendiri.

Dalam konteks ini, kontrol sosial tidak selalu datang dari atasan, keluarga, atau institusi pendidikan. Ia juga dapat muncul melalui nilai-nilai yang telah diterima dan dianggap wajar oleh masyarakat.

Seseorang akhirnya mengawasi dirinya sendiri, mengukur keberhasilannya melalui target, dan merasa bersalah ketika tidak mampu memenuhi standar yang telah dibentuk.

Ketika Budaya Hustle Bertemu dengan Realitas Pekerjaan

Fenomena produktivitas juga tidak dapat dilepaskan dari perubahan dunia kerja. Perkembangan ekonomi digital membuat semakin banyak orang bekerja melalui sistem fleksibel, proyek, dan pekerjaan berbasis platform.

Di satu sisi, pola kerja tersebut membuka kesempatan bagi anak muda untuk memperoleh penghasilan dan mengembangkan keterampilan. Namun, fleksibilitas juga dapat membuat batas antara waktu bekerja dan kehidupan pribadi menjadi semakin kabur.

Penelitian yang diterbitkan dalam Indonesia Forum on Labour and Productivity mengenai hustle culture pada pekerja gig dan pekerja lepas Gen Z di Indonesia membahas bagaimana tuntutan untuk terus produktif dapat menormalisasi eksploitasi diri. Penelitian tersebut menyoroti kaburnya batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi serta kerentanan pekerja yang tidak memperoleh perlindungan kerja formal.

Hal ini memperlihatkan bahwa budaya produktivitas tidak selalu berkaitan dengan pilihan individu. Dalam situasi tertentu, seseorang memang harus bekerja lebih lama atau mengambil banyak pekerjaan karena tuntutan ekonomi dan ketidakpastian pendapatan.

Karena itu, penting membedakan antara seseorang yang memilih bekerja keras untuk mencapai tujuan dan seseorang yang terpaksa terus bekerja karena tidak memiliki jaminan ekonomi yang cukup.

Keduanya mungkin terlihat sama-sama sibuk, tetapi kondisi sosial yang melatarbelakanginya berbeda.

Media Sosial dan Perlombaan Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri

Media sosial turut memperkuat gambaran mengenai kehidupan produktif. Konten tentang pengembangan diri, manajemen waktu, olahraga, dan pencapaian karier dapat memberikan inspirasi. Namun, konten tersebut juga berpotensi menciptakan standar kehidupan yang sulit dicapai oleh semua orang.

Ketika seseorang melihat orang lain berhasil menyelesaikan banyak hal dalam sehari, ia mungkin mulai membandingkan kehidupannya sendiri.

Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial tidak selalu menggambarkan keseluruhan kehidupan seseorang. Orang cenderung memilih momen yang dianggap menarik untuk dibagikan, sementara kegagalan, kelelahan, dan waktu istirahat sering kali tidak mendapatkan ruang yang sama.

Dalam sosiologi, fenomena ini dapat dikaitkan dengan konsep dramaturgi Erving Goffman. Melalui pendekatan tersebut, kehidupan sosial dipahami sebagai proses ketika individu menampilkan kesan tertentu di hadapan orang lain.

Media sosial menjadi salah satu ruang tempat seseorang mengelola penampilannya. Rutinitas produktif dapat menjadi bagian dari citra diri yang ingin dibangun: disiplin, ambisius, teratur, dan selalu berkembang.

Namun, citra yang ditampilkan tidak selalu sama dengan kondisi yang sebenarnya dialami.

Akibatnya, seseorang dapat membandingkan kehidupan sehari-harinya yang penuh ketidakteraturan dengan kehidupan orang lain yang sudah dikurasi untuk terlihat sempurna.

Apakah Kita Benar-Benar Sedang Berkembang?

Keinginan untuk terus berkembang merupakan hal yang wajar. Belajar keterampilan baru, memperbaiki kebiasaan, dan mengejar tujuan dapat membantu seseorang membangun kehidupan yang lebih baik.

Namun, ada perbedaan antara produktivitas yang membantu manusia menjalani hidup dan produktivitas yang justru membuat manusia merasa tidak pernah cukup.

Ketika setiap waktu harus menghasilkan sesuatu, istirahat dapat dianggap sebagai kemalasan. Ketika setiap pencapaian harus lebih tinggi dari sebelumnya, keberhasilan justru kehilangan kesempatan untuk dirayakan.

Lebih jauh lagi, standar produktivitas yang sama tidak selalu dapat diterapkan kepada semua orang. Mahasiswa yang harus membantu ekonomi keluarga, pekerja dengan jam kerja panjang, dan seseorang yang memiliki tanggung jawab merawat anggota keluarga tentu memiliki kondisi yang berbeda.

Mereka tidak memulai dari sumber daya dan kesempatan yang sama. Karena itu, menilai seseorang hanya berdasarkan seberapa banyak aktivitas yang dapat dilakukannya berisiko mengabaikan realitas sosial yang sedang dihadapi.

Hidup Bukan Perlombaan untuk Selalu Menghasilkan

Budaya produktivitas seharusnya membantu manusia mengembangkan kemampuan, bukan membuatnya merasa bersalah karena memiliki batas.

Kita perlu memahami bahwa nilai seseorang tidak semestinya ditentukan oleh jumlah pekerjaan yang diselesaikan, buku yang dibaca, atau pencapaian yang dapat dipamerkan.

Ada waktu untuk bekerja, belajar, dan mengejar tujuan. Namun, ada pula waktu untuk beristirahat, menikmati kehidupan, dan melakukan sesuatu tanpa harus menghasilkan keuntungan tertentu.

Mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan lagi seberapa produktif kita dalam sehari, melainkan apakah seluruh aktivitas yang kita lakukan benar-benar membawa kita menuju kehidupan yang ingin dijalani.

Sebab, jika produktivitas membuat seseorang terus merasa tertinggal, kelelahan, dan tidak pernah cukup, kita perlu mempertanyakan kembali standar keberhasilan yang selama ini dianggap normal.