Kerugian Tersembunyi Karhutla: Dampak dan Implikasi Bagi Ekonomi Publik

Mahasiswa Universitas pamulang Fakultas: FKIP Jurusan: Pendidikan Ekonomi S1
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nadila Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan salah satu persoalan lingkungan yang memiliki dampak luas terhadap kehidupan masyarakat dan perekonomian daerah. Selama ini, kerugian akibat karhutla sering kali dilihat dari luas lahan yang terbakar dan biaya pemadaman. Padahal, terdapat berbagai kerugian tidak langsung yang sering kali tidak terlihat secara langsung, seperti menurunnya produktivitas tenaga kerja, terganggunya kegiatan usaha, meningkatnya biaya kesehatan, terhambatnya transportasi, serta menurunnya aktivitas ekonomi masyarakat.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa karhutla bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga persoalan ekonomi regional. Ketika aktivitas masyarakat dan dunia usaha terganggu, maka perputaran ekonomi daerah ikut terdampak. Oleh karena itu, karhutla perlu dianalisis tidak hanya berdasarkan kerusakan fisik, tetapi juga berdasarkan biaya ekonomi yang muncul secara langsung maupun tersembunyi.
Karhutla sebagai Masalah Ekonomi Publik
Ekonomi publik mempelajari bagaimana pemerintah berperan dalam mengatasi persoalan ekonomi yang tidak dapat diselesaikan secara optimal oleh mekanisme pasar. Salah satu konsep yang relevan dalam kasus karhutla adalah eksternalitas negatif.
Eksternalitas negatif terjadi ketika aktivitas seseorang atau suatu pihak menimbulkan biaya kepada pihak lain yang tidak terlibat langsung dalam aktivitas tersebut. Dalam kasus karhutla, pihak yang melakukan pembakaran mungkin memperoleh manfaat tertentu dari aktivitasnya, sementara biaya yang ditimbulkan berupa asap, gangguan kesehatan, kerusakan lingkungan, dan terganggunya kegiatan ekonomi harus ditanggung oleh masyarakat secara lebih luas.
Dengan demikian, terdapat perbedaan antara biaya privat dan biaya sosial. Biaya privat merupakan biaya yang ditanggung oleh pelaku kegiatan, sedangkan biaya sosial mencakup biaya privat ditambah kerugian yang ditanggung masyarakat.
Kerugian yang Terlihat dan yang Tersembunyi
Kerugian akibat karhutla dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kerugian langsung dan kerugian tidak langsung.
Kerugian langsung meliputi kerusakan lahan, tanaman, fasilitas produksi, serta biaya pemadaman dan penanganan kebakaran. Sementara itu, kerugian tidak langsung muncul akibat terganggunya kegiatan ekonomi.
Contohnya, ketika asap menyebabkan jarak pandang rendah dan kualitas udara memburuk, transportasi dapat terganggu. Jika mobilitas masyarakat menurun, perdagangan dan jasa juga dapat mengalami penurunan aktivitas. Pekerja yang mengalami gangguan kesehatan juga berpotensi mengalami penurunan produktivitas atau kehilangan hari kerja.
Kerugian tersebut disebut sebagai “tersembunyi” karena tidak selalu terlihat dalam bentuk kerusakan fisik. Namun, apabila berlangsung dalam waktu yang cukup lama, akumulasinya dapat memberikan tekanan terhadap perekonomian daerah.
Kajian Bank Dunia mengenai kebakaran lahan gambut Indonesia juga menunjukkan bahwa dampak kebakaran tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi mencakup kesehatan, kesejahteraan, mata pencaharian, serta biaya jangka panjang dan lintas wilayah.
Beban bagi Anggaran Pemerintah
Karhutla juga memiliki implikasi langsung terhadap keuangan publik. Pemerintah harus menyediakan sumber daya untuk melakukan pencegahan, pemadaman, evakuasi apabila diperlukan, pelayanan kesehatan, hingga rehabilitasi kawasan yang terdampak.
Pengeluaran tersebut merupakan biaya yang harus ditanggung oleh negara. Dalam perspektif ekonomi publik, persoalannya bukan hanya berapa besar biaya yang dikeluarkan, tetapi apakah anggaran tersebut lebih efektif digunakan untuk pencegahan atau harus terus dialokasikan untuk penanganan setelah kebakaran terjadi.
Pencegahan dapat berupa pengawasan kawasan rawan kebakaran, peningkatan kapasitas pemadam kebakaran, edukasi masyarakat, pengelolaan lahan yang lebih baik, serta sistem deteksi dini.
Apabila pencegahan mampu mengurangi kemungkinan terjadinya karhutla, pemerintah dapat mengurangi potensi biaya penanganan dan kerugian sosial di kemudian hari. Dengan demikian, kebijakan pencegahan dapat dipandang sebagai investasi publik untuk mengurangi biaya sosial yang lebih besar.
Dampak terhadap Aktivitas Ekonomi
Karhutla juga dapat mengganggu berbagai kegiatan ekonomi. Ketika asap menyebar dalam jumlah besar, aktivitas transportasi dapat terganggu dan mobilitas masyarakat menurun. Kondisi tersebut dapat memengaruhi perdagangan, jasa, pariwisata, dan kegiatan ekonomi lainnya.
Dampak ekonomi juga dapat dirasakan oleh masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam. Kerusakan hutan dan lahan dapat mengurangi kemampuan lingkungan dalam menyediakan berbagai manfaat ekonomi, seperti hasil hutan, pengaturan tata air, serta fungsi ekologis lainnya.
Dengan demikian, kerugian karhutla tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Sebagian dampaknya dapat berlangsung lebih panjang karena lingkungan membutuhkan waktu untuk mengalami pemulihan.
