Siswa Generasi Digital

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Program Studi Ilmu Hadis
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nadine Azkia Nurhadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saat ini, para guru sering melihat para siswa asyik mengutak-atik ponsel atau tablet pada saat jam istirahat, jam pulang sekolah, atau bahkan ketika kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. Ada pula siswa yang membolos dan asyik berada di bilik-bilik warung internet (warnet) untuk mengobrol (chatting) maupun bermain gim daring (game online) pada jam pelajaran. Bahkan, tidak sedikit siswa yang betah bermain gim daring di warnet hingga larut malam, bahkan sampai menginap di sana. Fenomena ini menggambarkan realitas sebagian besar siswa kita saat ini.
Google, Yahoo, blog, Wikipedia, YouTube, Facebook, X (Twitter), gim daring, SMS, kamera, pemutar MP3/MP4, Bluetooth, 3G, 4G, hingga GPRS merupakan istilah teknologi yang sudah sangat akrab bagi para anak didik kita. Lewat sentuhan jari, berbagai informasi tersaji dengan sangat mudah di hadapan mereka. Anak-anak atau siswa dengan karakteristik seperti inilah yang disebut sebagai generasi digital.

Lantas, apakah bijak jika anak usia SD atau SMP dibelikan perangkat seperti tablet pintar hanya karena orang tuanya mampu secara finansial? Rasanya kurang tepat. Informasi seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh anak usia sekolah dasar atau menengah pertama melalui perangkat tersebut? Jika tidak dibatasi, dikhawatirkan perangkat pintar itu justru disalahgunakan untuk mengakses situs-situs yang tidak layak.
Bagi siswa generasi digital, sekolah idealnya memiliki fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang memadai. Fasilitas ini memungkinkan siswa untuk berinteraksi, berdiskusi, serta membuat dan membagikan konten yang relevan dengan materi pelajaran. Selain itu, sekolah juga perlu didukung oleh pendidik yang memanfaatkan dunia siber dalam aktivitas pembelajaran. Guru hendaknya terhubung dalam komunitas pembelajaran berbasis komputer untuk menciptakan, menyampaikan, menyebarkan, maupun menerima informasi dan bahan ajar secara efektif. Singkatnya, sekolah harus bertransformasi menjadi lingkungan yang nyaman dan menyenangkan bagi generasi digital.
Namun, mampukah suasana ideal tersebut diwujudkan? Hal ini masih menjadi tantangan besar. Mayoritas pendidik saat ini tergolong ke dalam generasi digital immigrant—generasi yang lahir sebelum teknologi berkembang sepesat sekarang, sebelum ada media sosial seperti Facebook atau X. Menghadapi pesatnya perkembangan teknologi, meresponsnya secara beragam: ada yang adaptif dengan berupaya menguasai media pembelajaran mutakhir, tetapi ada pula yang enggan belajar. Jika jujur diakui, sebagian besar pendidik baru mulai mengenal komputer, membuat presentasi digital, menggunakan posel (e-mail), serta berselancar di internet pada usia dewasa. Bahkan hingga kini, masih ada pendidik yang asing dengan berbagai platform media sosial terbaru.
Sebagai pendidik, metode pengajaran konvensional tidak bisa lagi dipertahankan. Guru perlu memahami minat dan kebiasaan siswa era digital agar tidak terjadi kesenjangan (gap) yang makin melebar antara gaya mengajar lama dan gaya belajar siswa yang akrab dengan TIK. Dengan pemahaman yang sejalan, hubungan antara guru dan siswa dapat terjalin lebih harmonis sehingga tercipta sinergi pembelajaran yang baik.
Paradigma para pendidik harus mulai terbuka. Pemanfaatan teknologi tidak hanya terbatas pada mata pelajaran TIK, melainkan dapat diintegrasikan ke dalam seluruh mata pelajaran selama guru bersedia mengeksplorasi dan mengembangkan kurikulumnya secara optimal. Langkah ini akan makin efektif jika guru mampu memanfaatkan platform pembelajaran daring (online learning).
Ke depannya, proses perekrutan guru juga perlu menekankan penguasaan media pembelajaran berbasis komputer dan internet. Saat ini, penguasaan TIK oleh sebagian guru dinilai masih minim. Hal ini mengindikasikan bahwa kurikulum di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) belum sepenuhnya menempatkan keterampilan TIK sebagai bekal utama calon pendidik di era digital. Begitu pula dengan pembelajaran di perguruan tinggi pencetak tenaga pendidik yang sebagian masih menerapkan pola konvensional akibat belum optimalnya adaptasi teknologi oleh para dosen.
Perubahan teknologi akan terus terjadi secara cepat dan tidak terduga. Oleh karena itu, kita harus mempersiapkan dan membekali para siswa agar menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learners) yang mampu menciptakan inovasi dan memberikan solusi bagi tantangan kehidupan di masa depan.
