Konten dari Pengguna

Digital Necromancy: Yang Mati Dihidupkan, Yang Hidup Disingkirkan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nadine Winfold Congningrat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Para Kru di Set Perfilman. Sumber: Unsplash/kriss-film
zoom-in-whitePerbesar
Para Kru di Set Perfilman. Sumber: Unsplash/kriss-film

Bayangkan sebuah industri yang tidak lagi harus menunggu aktor datang ke lokasi syuting, menghafalkan naskah, atau bahkan tetap hidup untuk kembali tampil di layar. Dengan kecerdasan buatan (AI), wajah dan suara aktor yang telah meninggal dapat direkonstruksi, sementara karakter digital baru dapat diciptakan tanpa pernah ada manusia di baliknya. Inilah digital necromancy, yakni praktik ketika teknologi mampu membangkitkan bayangan digital manusia, tetapi sekaligus mengancam keberadaan manusia yang masih hidup di industri hiburan.

Pada 2025, Tilly Norwood menghebohkan Hollywood. Karakter aktris virtual yang sepenuhnya dihasilkan oleh kecerdasan buatan ini diciptakan oleh produser Eline Van der Velden melalui perusahaan Xicoia. Tilly bahkan diperkenalkan sebagai talenta potensial yang dapat diwakili oleh sebuah agensi. Kontroversi pun meledak. SAG-AFTRA, serikat pekerja aktor di Amerika Serikat, menyoroti persoalan penggunaan karya para aktor manusia dalam pelatihan AI, sementara sejumlah aktor mengecam kemungkinan hadirnya pemain sintetis di industri film. Van der Velden sendiri menyebut Tilly sebagai hasil karya kreatif, bukan pengganti manusia. Namun, justru di situlah persoalannya. Jika karakter tanpa kehidupan nyata dapat memperoleh peran, perhatian, dan peluang komersial, apa yang tersisa bagi manusia yang menghabiskan bertahun-tahun untuk mengasah kemampuan aktingnya?

Skala perubahan tersebut terlihat dalam laporan The Straits Times pada Juli 2026, yang mengutip Communication University of China. Sekitar 122.000 dari 128.000 serial drama pendek yang diluncurkan di Tiongkok pada kuartal pertama tahun itu diproduksi dengan bantuan AI. Angka ini tidak berarti bahwa seluruh proses produksi berlangsung tanpa campur tangan manusia, tetapi menunjukkan betapa luasnya penggunaan teknologi tersebut dalam industri hiburan. Ketika penulisan naskah, penciptaan karakter, pembuatan visual, hingga penyuntingan dapat dibantu oleh AI, tekanan terhadap tenaga kreatif bukan lagi sekadar ramalan. Peran manusia mungkin tidak langsung lenyap, tetapi jumlah lapangan kerja, nilai keahlian, dan kesempatan bagi pendatang baru dapat ikut berubah.

Dampak perubahan tersebut terlihat lebih konkret melalui kisah Xu Peng, aktor berusia 30 tahun yang sebelumnya dikenal lewat drama pendek vertikal. Pada masa kejayaannya, ia dilaporkan menjalani syuting selama 15–16 jam sehari dengan jadwal yang padat. Namun, setelah menyelesaikan drama terakhirnya pada Maret 2026, tawaran aktingnya menyusut drastis. Ia meninggalkan Hengdian, pusat produksi film dan televisi di Tiongkok, lalu kembali ke kampung halamannya di Shandong untuk membantu kakeknya berjualan sayuran di pasar. Dahulu berdiri di depan kamera, kini ia bekerja di bawah terik matahari bersama keluarganya karena tawaran akting yang semakin berkurang. Meskipun AI belum dapat dipastikan sebagai satu-satunya penyebab, kisahnya memperlihatkan perubahan nyata yang tengah berlangsung dalam industri hiburan.

Namun, tidak semua kebangkitan digital berlangsung dengan cara yang sama. Pada 2026, diumumkan bahwa aktor Val Kilmer, yang meninggal pada 2025, akan dihadirkan secara digital dalam film As Deep as the Grave. Kilmer sebenarnya telah menerima peran Father Fintan, seorang imam Katolik sekaligus tokoh spiritual keturunan Pribumi Amerika, tetapi kondisi kesehatannya membuatnya tidak dapat menjalani syuting. Setelah Kilmer meninggal, pembuat film menggunakan AI generatif, foto, rekaman arsip, dan materi suara Kilmer untuk menghadirkan kembali penampilannya dalam film tersebut. Mercedes Kilmer, putrinya, bersama pihak pengelola warisannya, telah memberikan persetujuan atas penggunaan tersebut. Namun, SAG-AFTRA tetap menekankan pentingnya persetujuan dan pemberian wewenang dalam penggunaan replika digital. Menghadirkan kembali penampilan seorang aktor mungkin dapat melestarikan warisannya, tetapi tanpa persetujuan yang layak, penghormatan dapat berubah menjadi eksploitasi.

AI tentu dapat membantu memulihkan rekaman lama, mengembangkan efek visual, dan membuka peluang bagi pembuat film dengan anggaran terbatas. Namun, kemajuan tidak semestinya hanya diukur dari kecepatan produksi dan penghematan biaya. Perlindungan identitas digital dan hak pekerja kreatif harus berjalan seiring dengan inovasi. Sebab, sebuah penampilan bukan sekadar wajah yang bergerak di layar, melainkan perwujudan emosi melalui sorot mata, mimik, dan ekspresi perasaan yang dibentuk oleh pengalaman manusia. AI mungkin mampu meniru ekspresi, tetapi mampukah ia benar-benar memahami rasa di baliknya?

“Life's but a walking shadow, a poor player / That struts and frets his hour upon the stage / And then is heard no more.”

— William Shakespeare, Macbeth, Babak V, Adegan V.

Dalam dunia yang mampu membangkitkan kembali bayangan digital mereka yang telah tiada, jangan sampai manusia yang masih hidup justru kehilangan panggungnya sendiri.